Membaca Buku Parenting, Pentingkah?

Tidak banyak buku parenting yang pernah saya baca. Tapi, akhir-akhir ini saya menyempatkan membaca buku parenting. Bahkan, saat melihat ada buku parenting yang temanya menarik, saya langsung ingin membelinya. (Menarik dalam arti saya perlu lebih mendalami ilmunya.)
Saat ada keinginan beli buku baru, pasti yang terlintas di pikiran saya membeli buku bertema parenting. Seperti saat ini, saya melihat sebuah buku tema parenting yang sedang saya sukai, buku tentang Montessori yang berjudul Dr. Montessori’s Own Handbook. Bulan ini mungkin belum ada pengeluaran untuk buku, bulan depan buku ini harus bisa saya miliki.

Buku yang ingin dibeli ☺️

Saat menjelang kelahiran si kakak, 6 tahun lalu, saya tidak tertarik membeli buku bertema parenting. Yang saya beli malah buku-buku anak sehingga Kenan saat dalam kandungan hingga sekarang usia 5 tahun suka sekali dibacakan buku anak.

Saat menjelang kelahiran si adik, saya mulai merasa kurang percaya diri, apakah saya sudah benar mengasuh si kakak? Apakah aktivitas yang saya berikan pada si kakak berguna untuk perkembangan otaknya? Ada banyak pertanyaan lain yang muncul di benak saya. Ada banyak cara untuk mencari jawaban dari pertanyaan saya itu, salah satunya melalui membaca buku, itu yang saya pilih.

Membaca buku parenting sambil mengasuh Krisan.

Mulailah saya meyempatkan waktu membaca buku parenting yang saya miliki. Kenapa buku yang saya pilih, padahal ada begitu banyak artikel parenting di internet? Saya pilih buku karena lebih bisa dipertanggungjawabkan isinya. Buku yang saya pilih pun, buku-buku yang ditulis oleh mereka yang terjun langsung dalam mengasuh anak, baik itu guru (praktisi) maupun orangtua yang berpengalaman mengasuh anak hingga menjadi pakar pendidikan dan parenting.

Setelah saya membaca buku-buku parenting, saya rasakan sekali bahwa MEMBACA BUKU PARENTING ITU PENTING. Penting buat siapa?
Buku parenting baik dibaca oleh orangtua, calon orangtua, orangtua muda, pasangan baru menikah, guru, penulis buku bacaan anak, praktisi pendidikan, dan siapa pun yang ingin mengetahui tentang pola asuh anak.
Ada banyak sekali jenis buku parenting. Kita bisa membaca buku parenting sesuai yang kita butuhkan.

Bagi saya saat ini membaca buku-buku parenting yang terkait dengan Montessori itu penting. Kenapa? Sekolah Kenan tidak menerapkan Montessori, jadi saya bisa menerapkan kelas Montessori di rumah. Selain itu, informasi tentang seluk-beluk Montessori bisa saya terapkan untuk si adik, Krisan.
Membaca buku parenting itu sungguh penting bagi siapa saja yang ingin mengetahui informasi baik itu teori pola asuh anak maupun cerita pengalaman orangtua yang menghadapi langsung tumbuh kembang anak.

Bagi saya pribadi, membaca buku parenting menyakinkan saya bahwa pola asuh yang selama ini saya lakukan sudah benar. Misalnya, saya menemukan di buku parenting yang saya baca, aktivitas yang saya lakukan bersama Kenan itu bisa dikatakan mirip Montessori dan layak dilanjutkan serta bisa dipraktikkan pada adiknya, Krisan. Dari membaca buku parenting juga saya menemukan teori-teori yang mendukung pola asuh yang saya lakukan, sehingga saya rasa percaya diri saya pun mulai bertumbuh lagi. Karena rasa percaya diri itu saya jadi ingin membagikan aktivitas saya bersama Kenan dalam sebuah buku. Semoga bisa terwujud, amin.

Cerita 1: Belajar di Rumah Selama  Pandemi

Kegiatan belajar mengajar (KBM) daring yang dilakukan anak saya, Kenan, sudah berakhir dua minggu lalu, tetapi aktivitas belajar tetap saya jadikan rutinitas setiap hari, walaupun hanya 10-30 menit.

Saya tetap ingin mempertahankan kebiasaan belajar di rumah pada Kenan.  Saat Kenan KBM daring dengan gurunya, sebenarnya kan tetap emaknya yang harus mengajak anak, memberikan instruksi, memberi apresiasi, dan sebagainya.  Jadi, selanjutnya tinggal menggali kreativitas belajar di rumah yang menyenangkan.

Belajar di rumah sudah dilakukan Kenan sejak usia 2 tahun, bahkan kurang. Saat Kenan sudah bisa mencoret-coret saya sodorkan buku dan spidol warna. Walau kadang buku tidak dicoret, malah disobek-sobek.

Continue reading

KBBI Luring dan KBBI Daring

KBBI Luring dan KBBI Daring

A: Sudah ada KBBI Luring di gawai kamu?
B: Apa itu KBBI Luring?
A: Ah masa kamu tidak tahu. Kamu kan orang Indonesia, bahasa yang kamu pakai bahasa Indonesia.
B: Jelaskan saja apa KBBI Luring itu?
A: Baiklah, aku jelaskan.

KBBI Luring terdiri dari dua kata KBBI dan luring. KBBI adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia, sedangkan luring adalah akronim dari luar jaringan yang berarti terputus dari jejaring komputer, internet, dan sebagainya.

Jadi KBBI Luring adalah kamus bahasa Indonesia yang bisa digunakan tanpa harus tersambung jaringan internet.
Aplikasi KBBI Luring dapat diunduh secara gratis di Playstore. Pengunaan KBBI Luring sangat mudah. Berikut ini tampilan KBBI Luring.

Kebalikan dari KBBI Luring, KBBI Daring adalah Kamus Besar  Bahasa Indonesia dalam jaringan, sehingga membutuhkan sambungan internet. Klik KBBI Daring.

Kotor vs Cuci Tangan

Bagaimana kita akan mengatakan pada anak “Nak tanganmu kotor, ayo cuci tangan?’ Jika anak tidak tahu kotor itu apa.

Dulu ketika saya masih kecil, bermain tanah adalah hal yang paling menyenangkan. Dengan menggunakan media tanah, saya bisa menciptakan aneka macam permainan asyik dari tanah. Main masak-masakan, membuat kue mainan, membangun istana pasir, membuat gelas piring dari tanah, dan masih banyak lainnya. Mungkin Anda juga ingat, apa permainan favorit Anda saat masih kecil yang berkaitan dengan tanah?

Kenan bermain pasir campur air

Kita pernah mengalami menjadi anak kecil, sekarang kita menghadapi anak kecil juga yang ternyata suka sekali bermain dengan tanah atau pasir. Walaupun ada anak yang dilarang orangtuanya bermain tanah, anak tetaplah suka bermain pasir.

Kenan termasuk anak yang tidak suka memegang benda yang kotor atau basah, tapi kalau bermain tanah atau pasir, Kenan mau-mau saja. Kenan tidak menunjukkan rasa jijik dan takut kotor.

Bermain pasir atau tanah adalah mainan favorit anak-anak. Apa ada anak yang tidak suka main pasir? Ada. Anak yang sudah terlanjur didoktrin orangtuanya bahwa tanah itu kotor tidak boleh disentuh, tanah banyak kuman bla bla bla, jadinya anak menjadi fobia pada tanah. Mungkin anak seperti itu yang tidak suka main tanah.

Kenan bermain truk tanah

Saat anak kita bermain tanah atau pasir, ada pembelajaran yang bisa dipetik lho. Apa saja itu?

  • Mengajarkan cuci tangan yang benar

Setelah bermain tanah atau pasir, otomatis orangtua akan meminta anak untuk cuci tangan dengan benar. Oleh karena itu, orangtua bisa sekaligus mengajarkan pada anak tentang mencuci tangan.

Kenan mencuci tangan
  • Memberikan informasi tentang kuman dan bahayanya

Anak cerdas akan bertanya, kenapa harus mencuci tangan. Jawaban orangtua dapat sekaligus memberikan informasi kepada anak tentang kuman dan bahaya. Tidak perlu penjelasan yang mendetail, yang penting anak tahu jika di tanah ada kuman yang bisa membuat tubuh sakit. Cara untuk menghilangkan kuman itu dengan mencuci tangan dengan benar.

  • Melatih motorik dan kreativitas

Bermain tanah membuat anak menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Berdiri, duduk, berjongkok, menggenggam tanah, menyendok tanah, semua itu membuat motorik anak menjadi terlatih.

Kata Baku dan Kata Tidak Baku dalam Bahasa Indonesia

Kata baku adalah kata yang digunakan sesuai dengan kaidah dan pedoman bahasa yang berlaku. Kaidah dan pedoman kata baku bahasa Indonesia adalah Kamus Besar Bahasa Indonesia. Maka, jika kita ingin mengecek apakah sebuah kata itu baku atau tidak baku, kita bisa mengeceknya di Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Jika kata yang digunakan tidak sesuai kaidah dan pedoman bahasa Indonesia disebut kata tidak baku. Penggunaan kata tidak baku itu tidak salah, tetapi tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Kalimat atau bahasa formal sebaiknya menggunakan kata baku. Namun, jika ada kata tidak baku dalam kalimat formal bukanlah sebuah kesalahan, hanya terjadi ketidaksesuaian. 

Misalnya dalam sebuah surat resmi terdapat penggunaan kata tidak baku, surat tersebut tidak salah, hanya perlu perbaikan kesesuaian penggunaan kata, mungkin sang pembuat surat tidak paham kata baku dan kata tidak baku.

Continue reading

Gara-gara Youtube

Dua bulan sudah kita berada di rumah, orangtua bekerja di rumah, anak-anak sekolah di rumah, dan ibadah pun di rumah. Merasa bosan ga sih? 

Mencermati orang-orang di sekitar saya, saat pandemi yang paling terkuras adalah kuota internet. Syukur Puji Tuhan, sudah berlangganan internet rumah, sehingga bisa pakai kuota ramai-ramai, tidak perlu rebutan kuota.

Bosan juga di rumah terus, tapi saya yakin sekali, internet membantu kita semua keluar dari zona bosan di rumah. Asal ada kuota internet, di rumah pun tetap bisa berkelana ke mana-mana. Meeting bisa dilakukan dari rumah masing-masing, berdoa bisa dilakukan sama-sama walaupun di rumah masing-masing, pokoknya ada kuota internet lancar semuanya.

Laman apa yang paling banyak dibuka selama pandemi? Tentu jawabannya tergantung dari keperluan setiap orang. Saya perlu mengetahui informasi terbaru tentang Covid-19, maka saya bisa mengunjungi salah satu situs berita atau mengunjungi situs resmi pemerintah. Jika saya perlu mengikuti misa di gereja secara live streaming, saya bisa kunjungi Youtube. Saya mau nonton film box office, saya kunjungi Youtube. Saya mau cari kartun anak, saya klik Youtube. Saya mau cari resep kue, saya klik Youtube

Continue reading

Playground in Home

Halo ayah, ibu, om, tante, pakdhe, budhe… Siapa yang sudah merasa mulai jenuh menghadapi aksi anak-anak di rumah? Banyak pasti ya.. termasuk saya dan suami, setiap hari emosi sudah sangat memuncak. Teriakan, ocehan, omelan, terus terdengar. Namun teriakan, ocehan, omelan kita seakan tidak didengar, anak masih saja tidak bisa diatur, membuat rumah seperti kapal pecah terus-menerus, hingga rumah disulap menjadi playground.

Saya dan suami, sadar betul, emosi dan amarah bukan solusi untuk membuat anak menurut. Ingat, saat ini sedang terjadi pandemi yang mengharuskan kita di rumah saja. Sepanjang waktu berada di rumah itu sangat membosankan. Orang dewasa berada di rumah terus, lama-lama juga bosan. Apalagi anak-anak, rasa bosannya pasti sudah sampai puncak. Tetapi anak-anak bingung mengekspresikan rasa bosannya. Yang terjadi akhirnya anak membuat aksi imajinasi di rumah.

Kenan, usianya 5 tahun 4 bulan saat ini, rasa bosan di rumah tentu sudah menghinggapi hati dan pikiran sejak beberapa hari ini. Hasilnya, semua barang-barang di rumah menjadi jalan untuknya berekspresi mengusir kebosanan. 

Omelan saya sudah sering menggema, sebenarnya saya juga sudah berusaha menahan diri, menurunkan suara, menurunkan emosi, tapi akhirnya kadang meledak juga karena Kenan tak juga mendengar. Barang-barang di rumah, seperti kursi, bantal, gelas, sandal, sepatu, lap, dan lainnya dijadikan mainannya. Jika tak mengganggu aktivitas rumah, saya masih bisa menahan diri dan menahan emosi, tapi kemudian kursi tak bisa diduduki, atau yang dilakukan membahayakan keamanannya, saya pun mengomel dan berusaha mencegah Kenan melanjutkan aksinya. 

Saya jadi ingat konsep pembelajaran Montessori yang ditulis oleh Vidya Dwina Paramita dalam buku Jatuh Hati pada Montessori. Konsep itu adalah “follow the child“. Dalam konsep ini orangtua atau guru membebaskan anak mengeksplorasi sesuai keinginannya namun bukan berarti membiarkan anak sebebas-bebasnya. Ada batas yang harus dipegang oleh orangtua atau guru, yaitu aspek keamanan serta norma sopan santun dan kebaikan.

Saya pun ketika melarang atau meminta Kenan berhenti bermain atau bereksplorasi adalah ketika keamanannya terganggu dan melanggar kesopanan.

Sudah dua hari ini (hari ini hari kedua), Kenan membuat playground-nya sendiri di rumah. Kursi-kursi, bantal, dan kasur menjadi perlengkapannya membuat playground-nya. Saya yakin sekali, dalam imajinasinya Kenan sedang membuat playground seperti yang pernah dimainkannya di mal-mal. 

Aksinya pun dimulai. Kenan berlari kemudian mulai meniti satu per satu kursi yang sudah disusunnya bak anak tangga. Apa yang terjadi dengan saya? Saya pun memintanya berhati-hati, pelan-pelan, jangan lari, ahhhhh sebenarnya itu perkataan sia-sia, Kenan pasti akan berlari, tidak akan bisa pelan-pelan. 

Akhirnya saya menyerah. Saya membiarkan Kenan beraksi dengan playground-nya. Saya memperhatikan saja dan memotretnya. Puji Tuhan, masih aman-aman saja, Kenan beraksi tanpa terluka atau kejedot kursi. 

Foto-foto ini saya jepret kemarin, 15 Mei 2020.

Playground in home ternyata amat menyenangkan buat Kenan. Hari ini saya biarkan dia membangun kembali playground-nya. Playground itu sebuah kreativitasnya, jika dilarang malah jadi amarah dan emosi. Anak-anak tetaplah anak-anak, dunianya adalah bermain, kapan pun dan di mana pun. Orangtua cukuplah mendukung anaknya berkreasi dan menjaga kreasinya aman dan tidak membahayakan.

Playground in home, baru satu aksi saja, masih banyak yang akan dilakukan Kenan di rumah. Saya nasihati diri saya untuk tetap sabar menghadapi aksi-aksi kreatif Kenan. Anak-anak perlu ditemani dan didukung. Selagi tak membahayakan dan mengganggu orang lain, saya dukung akan aksi Kenan. 

Di rumah saja, saat yang tepat untuk lebih mendekatkan anak dan orangtua, kakak dan adiknya, atau mengajak anak bermain sepuas-puasnya. 

Ayah, ibu, banyakin sabar saja ya.. tekan segala kebosanan dan ikat emosi dengan kencang sehingga tak meledak-ledak di mana-mana. Semoga pandemi segera berlalu…