Kenan dan Kereta

Dulu dan sekarang masih sama, ternyata. Kata mereka dulu ketika saya kecil paling hobi lihat kereta lewat. Dan sekarang, anak saya pun sama, seharian ini bolak-balik ke dekat rel kereta untuk menikmati pemandangan kereta lewat dari jarak dekat.

Bukan sebuah kebiasaan bagus, saya sadari itu. Kewaspadaan harus  menjadi prioritas. Melihat kereta dari jarak dekat (kurang dari 5 meter) adalah sebuah bahaya. Harapan saya ini hanya terjadi hari ini. Besok Kenan mulai terbiasa dengan keadaan di sini, terbiasa dengan deru kereta yang lewat setiap beberapa menit sekali.

Hari kedua di Bojonegoro, dihabiskan oleh Kenan dengan Adaptasi, mengenal banyak Simbah, Om, Tante, Budhe, PakDe, Mbak, dan Mas. Kenan beradaptasi dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Belum ada kata ingin pulang terucap dari bibir kecilnya.

Kenan mampu bergaul dengan lingkungan baru secara cepat. Saya kagum sekali padanya. Saya tidak pernah bisa melakukan hal yang sama seperti Kenan. Melihat cara bergaulnya, saya jadi ingat pada bapak saya, Bapak Richardus Yamrewav. Siapa pun yang pernah mengenalnya pasti tahu seperti apa Bapak saya itu. Saya yakin Tuhan Yang Maha Kasih sudah menempatkan di Surga Yang Paling Indah, amin.

Kenan tumbuh menjadi sebuah pribadi yang sempurna. Kenan menyempurnakan Bunda dan Ayahnya. Kenan adalah pribadi yang unik.

Bukan menurut saya saja, yang mengatakan jika Kenan mirip Opa-nya. Beberapa orang yang ditemui Kenan di Bojonegoro mengatakan Kenan mirip Bapak saya, tingkah laku pun mirip, Puji Tuhan!! Semua kebaikan Bapak ada pada Kenan. Saya patut berbahagia dan berbangga.
17 Juni 2017

#paskalinaaskalin

#sayapenulis