Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Literasi Tahap 1, 18-20 Juli 2018

Pengumuman lomba penulisan bahan bacaan baca tulis 2018 sudah keluar walaupun tidak sesuai jadwal. Pengumuman seharusnya tanggal 11 Mei 2018, namun akhirnya ditunda menjadi tanggal 21 Mei 2018. Hasilnya, buku saya tidak terpilih. Namun proses pertemuan penulis akan tetap saya ikuti karena saya punya satu buku yang lolos lewat penunjukan langsung.

Setelah menanti dan menanti, akhirnya undangan pertemuan penulis tahap 1 pun datang. Pertemuan penulis akan dilaksanakan tanggal 18-20 Juli 2018, di Hotel Kartika Chandra Jakarta. Seperti tahun 2017, pertemuan penulis dilaksanakan dua kali.

img-20180719-wa0057
Saya dan sahabat penulis, Ira Diana dan Heny

Pada pertemuan penulis tahap 1 ini penulis pemenang lomba dan penulis penunjukan langsung dipertemukan. Pada pertemuan ini penulis diminta merevisi sesuai catatan dari editor Badan Bahasa. Untuk buku saya, tidak ada koreksi berarti, malahan akhirnya saya koreksi sendiri.

Pertemuan penulis ini sebenarnya lebih seperti reuni penulis. Karena separuh dari penulis yang hadir pernah bertemu pada tahun 2017. Sahabat-sahabat saya pun turut hadir dalam acara pertemuan. Sahabat penulis yang saya temukan tahun lalu.

Tentang Buku Saya
Judul buku yang saya tulis adalah Mengenal Bubur Tradisional Nusantara. Seperti tahun sebelumnya, buku saya berjudul Jajanan Tradisional Asli Indonesia juga mengangkat tema kuliner Nusantara. Tahun 2018 saya pun masih mengangkat tema kuliner Nusantara.

Mengenal Bubur Tradisional Nusantara

Dalam buku Mengenal Bubur Tradisional Nusantara saya mengangkat lebih dari 20 bubur tradisional yang ada di Nusantara. Bubur-bubur itu hingga kini masih menjadi pilihan hidangan yang disukai. Dari sekian banyak bubur tradisional tersebut, saya mendapat kesimpulan berikut ini:

(1) Bahan Baku yang Langka
Bahan yang digunakan untuk membuat bubur tradisional umumnya mudah ditemukan. Namun ada beberapa yang bahan yang agak sulit ditemukan. Misalnya bubur jali-jali, bubur sekoi, bubur pedas, dan bubur papeda.
Keempat bubur ini tidak ditemukan di semua daerah di Indonesia. Bubur sekoi masih bisa ditemukan di Bengkulu dan beberapa daerah di Jawa. Bahan dasarnya tanaman jawawut atau sekoi.
Bubur jali-jali pun sama, bahannya tanaman jali atau hanjeli bukanlah tanaman pangan yang saat ini banyak dikonsumsi seperti padi dan jagung, sehingga jarang ditanam petani.
Bubur pedas menggunakan bahan sayuran daun kesum. Daun kesum ini termasuk tanaman yang sulit dicari.

Lengkapnya silakan klik di sini Mengenal Bubur Tradisional Nusantara