Anak Aktif Suka Membantu

Ayah, Kenan aja yang palu
Ayah, Kenan aja….
Ayah, Kenan aja….
Bunda, Kenan yang goreng telur
Bunda, Kenan aja….
Bunda, Kenan aja….

Begitu Kenanutama Sinduaji yang kini berusia 4,5 tahun. Semua pekerjaan di rumah maunya dia yang kerjakan.

Ketika seorang anak usia 4-5 tahun membantu kegiatan di rumah, sebenarnya sama saja dengan memperlama pekerjaan itu selesai. Kadang, saya tidak bisa menahan marah karena pekerjaan yang seharusnya selesai cepat malah jadi tidak selesai bahkan jadi berantakan. Saya rasa ini dialami oleh semua orang tua yang miliki anak balita.

Di lain waktu saya menjadikan kegiatan membantu ini sebagai cara mengalihkan perhatiannya. Misalnya ketika Uti (Mama) berangkat ke Bojonegoro, saya ajak Kenan membuat kue brownies, dia yang mengaduk dan memasukkan ke cetakan. Kegiatan itu mampu membuat Kenan lupa, jika Uti sudah berangkat ke Bojonegoro untuk beberapa lama.

Dari segala kerepotan dan keriwehan yang terjadi saat Kenan ikut aktif dalam semua aktivitas di rumah, saya mencatat beberapa manfaatnya bagi Kenan.

Pertama, mengasah sikap peduli pada lingkungan sekitar.
Sikap peduli pada lingkungan dan orang lain di sekitar perlu diasah sejak usia dini. Ketika kini rasa pedulinya malah membuat saya dan orang rumah repot, di masa mendatang rasa peduli itu baik untuk Kenan bersosialisasi dengan lingkungannya.

Kedua, mengasah kecerdasan kinestetik.
Anak aktif bergerak lebih baik daripada anak yang diam saja dan tidak bergerak. Orangtua harus bertanya-tanya jika anaknya hanya diam saja ketika semua orang di sekitarnya aktif bergerak ke sana ke mari. Kenan termasuk anak yang memiliki kecerdasan kinestetik berlebih sehingga ia suka sekali bergerak. Membantu semua pekerjaan yang ada di rumah adalah salah satu cara menyalurkan energi keaktifannya. Jadi, syukurilah ketika punya anak yang aktif bergerak.

Ketiga, mengasah pengetahuan Kenan tentang banyak hal.
Saat Kenan terlibat aktif dalam kegiatan rumah, itu saat yang baik untuk memberikan berbagai pengetahuan padanya. “Ayah, Kenan saja yang memalu pakunya.” Jika dijawab “tidak boleh” sudah pasti akan terjadi pertengkaran panjang. Maka, katakanlah “Ya, boleh, tetapi hati-hati ya.” Membiarkan dia memegang palu dan paku tentu saja berbahaya, oleh karena itu pada waktu bersamaan sisipkan pengetahuan padanya jika aktivitas harus dilakukan dengan hati-hati dan dilakukan oleh orang dewasa. Kenan pun biasanya akan berujar, “Kalau Kenan sudah gede mau beli palu atau obeng kayak gini.” Jawab saya, “Ya.”

Itu beberapa catatan saya hari ini. Saya hanya ingin sekadar berbagi cerita keseharian ibu di rumah. Daripada bercerita tentang orang lain lebih baik menceritakan perihal diri yang dialami setiap hari. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *