Catatan Literasi dari Bristol: Memaksa Keluarga Senang Membaca

Setelah kemarin saya mengunggah sebuah tulisan tentang sahabat saya Mbak Tety Aprilia (Sahabat Penulis: Sedikit Catatan dari Bristol dan Karya Literasinya), kurang lengkap jika saya tak memintanya menulis. Literasi di sekolah mejadi tema menarik menurut saya. Literasi di negara kita ini sudah sangat berkembang tetapi masih kurang membudaya dan mengakar kuat. Semoga catatan literasi dari Bristol ini menginspirasi siapa saja yang membacanya. Selamat membaca.

 

Memaksa Keluarga Senang Membaca

Musim gugur menyambut kedatangan kami di Kota Bristol, hawa dingin merasuki badan. Temperatur saat itu berkisar  11 derajat Celcius.  Waktu yang ditempuh antara Jakarta–Bristol sekitar 21 jam memang sungguh melelahkan meskipun kami sempat tertidur di pesawat Jakarta–Bangkok dan Bangkok–London. Saat kami tiba di Bandara Heatrow London, suasana masih sangat sepi, tentu tanda waktu  di gawai menunjukkan pukul 06.00 pagi.

Perjalanan dari Kota London menuju Bristol ditempuh selama 3 jam menggunakan bus dan diiringi rintik hujan yang menerpa kaca jendela. “Suatu saat harus kubuat cerita perjalanan ke kota ini serta hal-hal yang akan terjadi selama di Bristol,” gumamku. Tak terasa bus pun sudah sampai di City Centre, daun-daun tampak bertebaran di taman dan hujan rintik-rintik masih setia mengawal kota ini.

Beberapa menit kemudian datanglah taksi yang dipesan suamiku, sekitar 15 menit kemudian sampailah di rumah yang dituju, Rosebery No 42. Sesampainya di rumah rasa lelah pun terobati.

Zahraa di St Barnabas Primary School

Tibalah hari yang ditunggu untuk bertemu dengan kepala sekolah di mana nanti si kecil Zahraa akan menimba ilmunya, Mr. John Barr, Kepala Sekolah Barnabas Primary School menyambut dengan sangat ramah. Kemudian kami diajak berkeliling sekolah. Sekolah ini tampak luas dan lapang dengan pepohonan yang merimbuni sekolah.  Mr John Barr bertanya apakah kami membawa buku bacaan dari Indonesia agar Zahraa tetap membaca meskipun teman-temannya membaca buku berbahas inggris. Kebetulan kami memang membawa buku bacaan anak.

Seperti halnya di Indonesia, pembiasaan membaca di sekolah pun dilakukan di sini. Ada beberapa guru pendamping yang membimbing siswa membaca buku cerita diakhiri tanya jawab mengenai buku yang dibacanya. Bahkan siswa dipancing untuk menebak isi buku dilihat dari kovernya. Selain itu, siswa diwajibkan meminjam buku di perpustakaan seminggu sekali. Banyak buku-buku yang menarik di antaranya karya Roal Dahl, Michael Marfurgo, Enid Blyton, dan banyak lagi. Penguasaan beberapa kosakata bahasa Inggris pun meningkat dengan seringnya membaca buku sehingga saat ada tugas sekolah membuat cerita tidak terlalu kesulitan. Begitupun dengan siswa yang sudah lama, manfaat membaca bisa menambah kosakata atau ide-ide saat membuat tugas bercerita atau tugas lainnya seperti membuat surat, dan lain-lain.

Enam bulan sekolah di Barnabas Primary School harus berakhir. Zahraa harus pindah sekolah dikarenakan kami pindah tempat tinggal. Sebetulnya jarak ke tempat tinggal yang baru hanya sekitar 2 km, tetapi dikarenakan untuk lebih efektif, dicarilah sekolah yang lebih mendekati, yaitu Bannerman Primary School.

Literasi sepertinya sudah menjadi program yang mengakar kuat di England, untuk implementasinya diserahkan ke sekolah masing-masing. Hal ini terlihat dari kebiasaan baik dari sekolah masing-masing sekolah. Di Banneman Primary School saya mendapat pelajaran yang sangat bermanfaat. Setiap anak diwajibkan membaca di rumah. Buku yang dibaca berasal dari sekolah dan tergantung kemampuan anak membaca dan memahaminya. Ada beberapa jenjang membaca, yaitu level 1-30 dan buku chapter atau novel.

Pengawasan guru akan literasi terlihat dari adanya buku Flying High Reading Record. Buku ini adalah laporan tentang hasil dari membaca buku yang akan diperiksa oleh guru di sekolah. Di dalam buku tersebut terdapat kolom komentar dari si pembaca. Keterlibatan keluarga pun terutama orang tua sangat diperlukan, karena orang tua diwajibkan memberi komentar tentang isi buku tersebut. Itu berarti orang tua juga harus membacanya.  Komentar yang dituliskan mulai dari kata-kata atau istilah yang baru ditemui, hal yang menjadi pengetahuan baru, hal yang sangat menarik, serta kesan dan apabila ada hikmah yang bisa diambil tidak lupa dituliskan juga.

Buku Flying High Reading Record.

Dengan demikian, secara tidak langsung semua anggota keluarga terutama orang tua pun dipaksa untuk membaca. Hal baik yang didapat adalah orang tua tidak ada lagi alasan sibuk sehingga malas membaca dan tentunya akan tahu bacaan anak yang sesuai dengan usianya. Selain itu, hal baiknya adalah budaya membaca akan mengakar di dalam keluarga.

Zahraa mengisi buku Flying High Reading Record usai membaca bukunya.

Manfaat lainnya adalah ikatan keluarga akan lebih terjalin karena tidak jarang perbincangan tentang isi buku mewarnai  obrolan hangat di rumah. Dalam hal ini dukungan orang tua akan menjadi penyemangat untuk anak gemar membaca. Dari sekolah anak pun memberikan rewards apabila rajin membaca dan mengumpulkan buku reading records . Rewards yang di dapatkan berupa stiker atau yang lainnya seperti jalan-jalan di sekitar sekolah, hal ini dalam upaya pengenalan lingkungan sekitar, dan yang lebih menyenangkan buat anak misalnya saat jalan-jalan mendapatkan hadiah ice cream. Membaca menjadi menyenangkan bagi anak.

Ditulis oleh Tety Aprilia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *