Ibu di Rumah: Mengajak Anak Lanang Menulis

Ibu di rumah selalu mempunyai segudang cerita untuk dituliskan, salah satunya tentang mengajak anak belajar menulis (menebalkan huruf). Mungkin cerita ini hanya cerita biasa bagi banyak orang, tetapi bagi saya sangat luar biasa.

Hampir setiap hari saya mengajak anak lanang membuka buku, kadang hanya aktivitas ringan seperti menarik garis, memasangkan gambar, atau mencari jejak. Untuk aktivitas menulis dan membaca, anak lanang lebih sering menolak. Nah, ketika anak lanang benar-benar mau berlatih menulis, saya tidak sia-siakan waktu itu. Walaupun menulis tanpa meja, karena maunya anak lanang begitu, lanjut saja.

Anak lanang sudah mengenal huruf A-Z. Tidak ada target ketat untuk semua aktivitas belajar yang dilakukan oleh anak lanang. Bagi saya, yang penting bukan hasil memuaskan, tetapi proses belajar yang terjadi benar-benar dinikmati oleh anak lanang. Dan lebih penting lagi, anak lanang terbiasa setiap hari bermain dan belajar dengan buku.

Kemarin, saya mengajaknya menebalkan huruf. “Ayo menebalkan huruf-huruf dalam kata KENAN,” ajak saya. Huruf K mulai ditebalkannya. Aktivitas ini tak sulit bagi anak lanang. Lalu saya tambahkan dengan memintanya menulis sendiri huruf K dengan bantuan titik-titik yang saya buat anak lanang bisa dengan mudah menulis huruf K.

Kenan menulis huruf K dengan bantuan titik

Selanjutnya menebalkan huruf E. Eh, tapi anak lanang tidak mau, dia malah mau menebalkan huruf G. Rencana berubah, tidak masalah bagi saya, yang penting anak lanang mau. Akhirnya dengan semangat 45 anak lanang menebalkan huruf G hingga selesai dan sempurna.

Kenan menebalkan huruf G

Saya tawarkan lagi pada anak lanang, mau menebalkan huruf apa. Sebuah imajinasi muncul di kepalanya. “Mau buat rel kereta,” katanya. Saya pun mengapresiasi imajinasinya, “Oke ayo buatlah rel kereta.” Seharusnya anak lanang menebalkan huruf H tetapi malah membuat rel kereta. Tentu saya tak bisa menyalahkan keinginan dia untuk membuat rel kereta dari garis-garis yang ada karena ini hasil olahan imajinasinya. Setiap kali muncul gambar-gambar imajinasinya, sudah seharusnya saya mendukungnya. Saya lupakan soal latihan menulis, saya biarkan anak lanang mencoret-coret sesuka hatinya.

Menebalkan huruf H menjadi gambar rel

Dari aktivitas belajar anak lanang kemarin itu, saya menggarisbawahi beberapa hal.
(1) Orangtua sebaiknya tidak memaksakan anak untuk belajar menulis atau membaca. Biarkan anak-anak usia PAUD bermain dan belajar dengan senang. Bisa membaca dan bisa menulis, jika akhirnya melumpuhkan imajinasinya, tidaklah baik untuk perkembangan otak anak.
(2) Membaca dan menulis adalah sebuah keterampilan, bisa dilatihkan ketika usianya sudah tepat. Pada anak usia dini, lebih penting memberikan berbagai aktivitas yang merangsang kecerdasan anak. Seperti yang dilatihkan dalam buku aktivitas SUPER MELEJITKAN KECERDASAN ANAK PAUD (sedikit promo ­čśÇ).
(3) Saat di rumah, belajar bisa dilakukan di mana saja, bisa di kursi tanpa meja, di lantai, di dapur, di teras, di tempat tidur atau di halaman. Yang penting kan anaknya senang dan menjadi tidak bosan juga.

Demikian cerita saya, jika ada manfaat silakan dipetik, jika tak ada, saya ucapkan terima kasih sudah membacanya. ­čśŐ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *