Berbagi Tidak Perlu Suap-suapan

Hindarkan Anak dari Kebiasan Berbagi Makanan dengan Sendok yang Dipakai Bersama Teman

“Namanya juga anak-anak.” Begitulah ungkapan yang sering kita dengar ketika melihat ulah seorang anak yang begitu keterlaluan. Misalnya, lari ke sana ke mari ketika berada di tempat umum, ingin makanan milik teman, naik-naik di kursi, teriak-teriak tak terkendali, dan sebagainya.

Sumber gambar: www.istockphoto.com

Kita semua seakan memaklumi ulah anak-anak. Tak boleh ada orang marah dan tersinggung akan perilaku anak-anak. Saya paham betul akan perilaku anak-anak. Namun, saya rasa sebagai orangtua, kita tidak boleh pasrah begitu saja pada perilaku anak. Pembiaran perilaku semau anak, bukanlah pilihan yang tepat.

Konteks Berbagi dengan Benar
Beberapa waktu lalu, ada seorang anak beserta pengasuhnya datang ke rumah. Anak itu membawa makanan berupa puding cokelat. Anak saya, Kenan, suka sekali dengan puding cokelat. Ketika anak yang datang itu menawari Kenan puding cokelat, dengan senang Kenan menerimanya. Anak itu menyuapi Kenan dengan sendoknya (satu sendok dipakai bersama). Saya ingin melarang seketika itu juga. Tetapi saya menahan diri, karena dari tatapan mata Kenan, saya bisa rasakan kemarahan. Kenan tidak mau dilarang. Akhirnya beberapa suap puding dimakan oleh Kenan.
Saya pun tak ingin membuat oranglain tersinggung dengan langsung melarang keras pada Kenan. Saya ingin menegur sang pengasuh tetapi saya pikir tak ada gunanya. Lebih baik saya memberikan pengertian pada Kenan.

Kemudian saya ajak Kenan membuat puding cokelat sendiri (beruntunglah masih ada separuh kantung puding yang belum dimasak). Sembari membuat puding, saya mencoba penjelasan Kenan bahwa tidak boleh menerima suapan makanan dari temannya. Terus terang, saya agak kesulitan menjelaskan hal ini pada Kenan.

Saya belum bisa menjelaskan panjang lebar alasan lebih detail tentang menolak makanan pemberian orang lain. Saya masih harus belajar banyak tentang ilmu pola asuh yang baik.

Dulu saya beranggapan bahwa jika menyuapi makanan yang kita makanan dengan sahabat atau teman dekat adalah wujud keakraban atau persahabatan. Namun, faktanya tidak demikian. Dikutip dari laman hellosehat.com bahwa: “Bagi sebagian orang, berbagi alat makan dengan orang lain merupakan wujud persahabatan dan keakraban. Akan tetapi, saling pinjam peralatan makan seperti sendok, garpu, sedotan, atau botol minum ternyata berisiko menyebabkan penularan penyakit.”
Mungkin jika kita berbagi makanan dengan saudara sendiri, kakak, adik, ayah, atau ibu, tidaklah menjadi soal, karena kita sendiri tahu riwayat kesehatan keluarga kita. Jika orang yang membagi makanan adalah orang lain, kita tidak tahu sakit apa yang sedang diderita. Kita perlu sekali menerapkan atau mengajak anak kita untuk berbagi dengan orang lain, tanpa harus menyuapkan makanan kita pada orang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *