Saya Marah Karena Lelah Membacakan Buku Sebelum Tidur

Suatu malam saya menggerutu (sedikit marah) pada si Kakak karena minta dibacakan buku lagi dan lagi dan lagi. Kondisi mata saya sudah lima watt dan si Adik yang di perut bergerak terus sehingga membuat saya tak nyaman.

“Kan udah dua buku, Kak. Sekarang tidur ya, sambil dengerin Paman Gery (Dongeng Nusantara Bertutur).” Hmmmm…. si Kakak tidak mau dan ngedumel minta dibacakan lagi. Akhirnya saya menyerah, “Ya udah ambil lagi 1 buku, yang bahasa Indonesia ya.” (Emak ga pinter bahasa Inggris, harus kerja keras membaca ulang cerita bahasa Inggris jadi bahasa Indonesia, hehehehe)

Bunda membacakan buku untuk Kenan

Si Kakak mengambil 1 buku untuk dibacakan. Satu buku isi lima cerita. Saya sebenarnya yakin, baru satu cerita si Kakak pasti sudah tertidur dan itu benar terjadi. Melihat si Kakak sudah tertidur, hati saya marah pada diri sendiri, kenapa saya harus menggerutu, marah, karena si Kakak tidak meminta nonton video atau main game di gawai. Harusnya saya merasa senang karena si Kakak sudah punya kebiasaan  baik, mau dibacakan buku sebelum tidur.  Apa jadinya kalau si Kakak malah meminta nge-game di gawai sebelum tidur. Ini justru akan jadi malapetaka. Kini saya ingin lebih banyak sabar dan kuat menahan kantuk karena permintaan membacakan buku sebelum tidur.

Kebiasaan membacakan buku sebelum tidur adalah kebiasaan baik yang harus terus dijaga. Ketika anak sudah terbiasa dibacakan buku sebelum tidur, kadangkala orangtua yang pada akhirnya tidak bisa memenuhi dengan alasan lelah sudah kerja seharian atau mengantuk. Seperti yang sering saya alami, menolak membacakan buku karena kelelahan sangat. Walaupun tidak bekerja di kantor, pekerjaan rumah tangga dan keinginan menyelesaikan banyak buku yang tulisan, membuat waktu begitu cepat berlalu, hingga sampai malam hari dalam kelelahan. 

Uti membacakan buku untuk Kenan

Ketika saya benar-benar merasa lelah, kadangkala si Kakak mau dibacakan buku oleh Uti-nya, tetapi lebih banyak menolak karena ingin selalu dibacakan oleh saya, bundanya. Kadangkala terbantu oleh Paman Gery dan kawan-kawan yang mendongeng di Nusantara Bertutur bisa menggantikan saya membaca buku.

Membacakan buku sebelum tidur atau kapan saja sangat bermanfaat bagi anak usia dini. Saya pernah menuliskan beberapa tulisan tentang manfaat membaca buku untuk anak usia dini. Baca Membacakan Buku itu Penting Bagi Anak Usia Dini

Baca juga: Ibu di Rumah: Membacakan Buku untuk Anak (Batita, Balita)

Fabel 34 Provinsi: Jambi – Harimau Pemakan Durian

Judul buku: Fabel 34 Provinsi: Jambi – Harimau Pemakan Durian
Penulis: Dian K.
Ilustrator: Orange Nira
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit: 2019
Tebal: 32 halaman
ISBN: 978-623-216-503-8

Fabel ini mengisahkan tentang kecerdikan sang kepala desa dalam menyelesaikan masalah yang dialami oleh penduduk desa karena ulah harimau.

Harimau setiap malam mencuri hewan ternak penduduk desa. Awalnya penduduk mengira pencuri ternak mereka adalah manusia. Ternyata setelah dilakukan penjagaan malam pencuri ternak itu ternyata seekor harimau.

Penduduk desa tidak berani menghadapi harimau itu.
Kepala desa kemudian memberi usul supaya memasang perangkap kulit durian di sekeliling kandang. Di luar dugaan, perangkap kulit durian tidak membuat harimau pergi. Harimau malah menyukai rasa manis dari kulit durian yang dijilatinya. Melihat hal itu kepala desa mengajak harimau bernegosiasi dan berhasil. Harimau berjanji tidak akan mengganggu hewan ternak penduduk desa. Sebagai gantinya harimau diperbolehkan mengambil dan makan durian sepuasnya.

Penduduk desa pun kini dapat hidup dengan tenang. Walaupun demikian, penduduk desa tetap bergiliran jaga malam untuk menjaga keamanan desa.

Akan lebih menarik jika Anda membaca buku Fabel 34 Provinsi: Jambi – Harimau Pemakan Durian secara keseluruhan. Buku ini saya rekomendasikan pada orangtua dan guru untuk dibacakan pada anak-anak. Buku ini memiliki 34 seri karena fabel berasal dari 34 provinsi di Indonesia. Mungkin Anda bisa pilih fabel yang berasal dari daerah kelahiran Anda atau daerah tempat tinggal.

Ayo bacakan buku untuk anak-anak!

Peluang Menulis Tahun 2020

Sahabat penulis pejuang lomba/sayembara menulis pasti sudah menunggu-nunggu, lomba menulis mana yang bisa diikuti. Tahun 2019 lalu melalui Gerakan Literasi Nasional, Badan Bahasa Kemdikbud dan kantor bahasa (balai bahasa) daerah, mengadakan lomba menulis buku untuk bahan bacaan mulai dari jenjang usia dini hingga sekolah dasar. Bahkan ada juga kantor bahasa yang mengadakan lomba menulis bahan bacaan untuk jenjang SMP dan SMA.

Bagaimana dengan tahun 2020? Pertanyaan ini tentu menjadi pertanyaan bagi para penulis pejuang lomba menulis. Pada awal bulan Januari 2020, tanda-tanda kemunculan lomba menulis dari Badan Bahasa (termasuk kantor bahasa dan balai bahasa) belum terlihat.

Peluang terbesar bagi penulis pejuang lomba menulis adalah lomba menulis yang berskala nasional. Badan Bahasa pusat biasanya akan memberikan peluang sebesar-besarnya bagi penulis seluruh Indonesia yang ingin mengikuti lomba. Berbeda dengan kantor bahasa atau balai bahasa, lomba menulis hanya diperuntukkan bagi masyarakat setempat. Misalnya Kantor Bahasa Sumatra Utara yang beberapa waktu lalu sudah mengumumkan sayembara menulis cerita anak 2020. Kantor Bahasa Sumatra Utara hanya memberikan peluang lomba menulis untuk masyarakat yang berdomisili Sumatra Utara dengan dibuktikan oleh KTP atau identitas lainnya.

Sayembara Menulis Cerita Anak 2020

Tetapi para penulis pejuang lomba tak perlu berkecil hati, ada beberapa kantor/balai bahasa di daerah yang membuka peluang bagi penulis di seluruh Indonesia. Misalnya tahun 2019, Kantor Bahasa Bangka Belitung Kepulauan  Riau memberikan peluang bagi penulis seluruh Indonesia untuk mengikuti sayembara menulis yang diadakan.
Awal tahun 2020 penulis berdomisili di Sumatra Utara yang berbahagia dengan kemunculan Lomba Menulis Cerita Anak 2020. Tentu, penulis menunggu kantor/balai bahasa mana ya caseng akan mengumumkan sayembara menulis yang diadakan.

Tahun 2019 hampir semua lomba penulisan buku mencari buku anak (jenjang PAUD dan SD), tahun 2020 ini ajang lomba penulisan buku seperti apa yang akan banyak dilombakan? Tahun 2019 tidak hanya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang giat mengadakan lomba menulis dalam rangka Gerakan Literasi Nasional. Penerbit pun banyak yang mengadakan lomba yang sama.

Tahun 2020 Kantor Bahasa Sumatra Utara tampak konsisten, karena tahun 2018-2020 mengadakan lomba menulis cerita anak.
Mari ditunggu para pejuang lomba menulis! Lomba menulis apa yang akan diumunkan pada bulan Februari 2020?

Lomba Menulis Cerita Anak 2020 Kantor Bahasa Sumatra Utara

Sayembara Menulis Cerita Anak Tahun 2020

PENYELENGGARA LOMBA/SAYEMBARA
Balai Bahasa Sumatera Utara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Sayembara Menulis Cerita Anak Tahun 2020
“Merdeka belajar anak usia sekolah berbasis muatan lokal”

KETENTUAN UMUM
1. Sayembara terbuka untuk masyarakat umum yang berdomisili di Sumatera Utara dibuktikan dengan KTP/kartu identitas lainnya.
2. Sayembara tidak berlaku bagi pemenang tahun-tahun sebelumnya.
3. Peserta mendaftar melalui tautan http://bit.ly/daftarceritaanaksumut
4. Pengiriman naskah hanya melalui posel: ceritaanaksumut2020@gmail.com selambat-lambatnya tanggal 8 April 2020 pukul 24.00 WIB. Naskah dikirim dalam bentuk microsoft word. Nama/biodata penulis tidak boleh tertera dalam naskah.
4. Pengumuman pemenang Lima Naskah Terbaik tanggal 28 April 2020 melalui media sosial atau pemberitahuan langsung kepada pemenang melalui telepon.
5. Lima naskah terbaik menjadi hak milik panitia dan akan diterbitkan sekaligus didistribusikan ke sekolah-sekolah di wilayah Sumatera Utara.

KETENTUAN KHUSUS
1. Naskah berbentuk prosa dan berbahasa Indonesia yang memenuhi kesesuaian kaidah dan keterbacaan.
2. Naskah harus sesuai dengan tujuan pendidikan yaitu Pendidikan Penguatan Karakter yang ditujukan untuk siswa SD kelas IV s.d. VI.
3. Naskah memuat unsur kekayaan bahasa dan kearifan daerah Sumatera Utara.
4. Naskah tidak mengandung SARA, pornografi, kekerasan, pelecehan fisik, ujaran kebencian, dan bias gender.
5. Naskah ditik pada kertas A4 antara 20 s.d. 25 halaman, spasi 1,5, margin kiri 1,5, dan margin kanan-atas-bawah 2 cm.
6. Naskah dapat dibagi menjadi beberapa  episode atau subjudul.

HADIAH
Lima Penulis Naskah Terbaik masing-masing memperoleh Rp 10.000.000,00 (pajak hadiah ditanggung pemenang)

NARAHUBUNG
Wartono 082167946161
Melani Rahmi 081370056734
Indah Gustina 08126468134

Jika ada pertanyaan, silakan langsung menghubungi narahubung di atas.

Bagi ibu/bapak/kakak sekalian pejuang sayembara menulis, jangan kecewa setelah membaca informasi di atas. Sayembara ini hanya berlaku untuk mereka yang ber-KTP Sumatera Utara dan belum pernah memenangkan lomba tahun sebelumnya. 😊✌️

#salamliterasi #paskalinaaskalin

Sumber: Instagram Balai Bahasa Sumatera Utara @balaibahasa.sumut

Berbagi Tidak Perlu Suap-suapan

Hindarkan Anak dari Kebiasan Berbagi Makanan dengan Sendok yang Dipakai Bersama Teman

“Namanya juga anak-anak.” Begitulah ungkapan yang sering kita dengar ketika melihat ulah seorang anak yang begitu keterlaluan. Misalnya, lari ke sana ke mari ketika berada di tempat umum, ingin makanan milik teman, naik-naik di kursi, teriak-teriak tak terkendali, dan sebagainya.

Sumber gambar: www.istockphoto.com

Kita semua seakan memaklumi ulah anak-anak. Tak boleh ada orang marah dan tersinggung akan perilaku anak-anak. Saya paham betul akan perilaku anak-anak. Namun, saya rasa sebagai orangtua, kita tidak boleh pasrah begitu saja pada perilaku anak. Pembiaran perilaku semau anak, bukanlah pilihan yang tepat.

Konteks Berbagi dengan Benar
Beberapa waktu lalu, ada seorang anak beserta pengasuhnya datang ke rumah. Anak itu membawa makanan berupa puding cokelat. Anak saya, Kenan, suka sekali dengan puding cokelat. Ketika anak yang datang itu menawari Kenan puding cokelat, dengan senang Kenan menerimanya. Anak itu menyuapi Kenan dengan sendoknya (satu sendok dipakai bersama). Saya ingin melarang seketika itu juga. Tetapi saya menahan diri, karena dari tatapan mata Kenan, saya bisa rasakan kemarahan. Kenan tidak mau dilarang. Akhirnya beberapa suap puding dimakan oleh Kenan.
Saya pun tak ingin membuat oranglain tersinggung dengan langsung melarang keras pada Kenan. Saya ingin menegur sang pengasuh tetapi saya pikir tak ada gunanya. Lebih baik saya memberikan pengertian pada Kenan.

Kemudian saya ajak Kenan membuat puding cokelat sendiri (beruntunglah masih ada separuh kantung puding yang belum dimasak). Sembari membuat puding, saya mencoba penjelasan Kenan bahwa tidak boleh menerima suapan makanan dari temannya. Terus terang, saya agak kesulitan menjelaskan hal ini pada Kenan.

Saya belum bisa menjelaskan panjang lebar alasan lebih detail tentang menolak makanan pemberian orang lain. Saya masih harus belajar banyak tentang ilmu pola asuh yang baik.

Dulu saya beranggapan bahwa jika menyuapi makanan yang kita makanan dengan sahabat atau teman dekat adalah wujud keakraban atau persahabatan. Namun, faktanya tidak demikian. Dikutip dari laman hellosehat.com bahwa: “Bagi sebagian orang, berbagi alat makan dengan orang lain merupakan wujud persahabatan dan keakraban. Akan tetapi, saling pinjam peralatan makan seperti sendok, garpu, sedotan, atau botol minum ternyata berisiko menyebabkan penularan penyakit.”
Mungkin jika kita berbagi makanan dengan saudara sendiri, kakak, adik, ayah, atau ibu, tidaklah menjadi soal, karena kita sendiri tahu riwayat kesehatan keluarga kita. Jika orang yang membagi makanan adalah orang lain, kita tidak tahu sakit apa yang sedang diderita. Kita perlu sekali menerapkan atau mengajak anak kita untuk berbagi dengan orang lain, tanpa harus menyuapkan makanan kita pada orang lain.

Empat Pokok Kebijakan Pendidikan: MERDEKA BELAJAR

Setelah dilantiknya para pejabat baru dalam jajaran pembantu presiden, ada banyak fakta menarik yang menjadi pembicaraan hangat di masyarakat. Fakta awal yang cukup mencengangkan publik, misalnya munculnya nama-nama muda yang duduk sebagai menteri, seperti CEO Gojek yang menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, kemudian ada Wishnutama yang menjadi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan masih banyak lagi fakta lainnya.

Dari sekian banyak sepak terjang para menteri baru, yang menarik perhatian saya adalah kebijakan yang dibuat oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Kenapa menarik perhatian saya? Kebijakan yang muncul dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayan sangat berpengaruh terhadap apa yang saya kerjakan selama ini, yaitu menulis. Salah satunya kebijakan tentang akan adanya perubahan kurikulum.

(sumber foto: Antara/Indriarto Eko Suwarso)

Kemudian, baru-baru ini, Pak Menteri yang mendapat panggilan Mas Menteri ini mengeluarkan kebijakan baru tentang UN. Kebijakan itu berbunyi: “Tahun 2021, UN akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.” Itu sama artinya jika UN resmi dihapus.
Lebih lengkapnya tentang kebijakan Mas Menteri ini dapat kita simak bersama di kanal Youtube Kemendikbud RI atau Instagram resmi Kemendibud RI @kemdikbud.ri.

Berikut ini sedikit rangkuman tentang Empat Program Pokok Kebijakan Pendidikan yang disampaikan oleh Mas Menteri.
1. Mengganti USBN dengan ujian yang diselenggarakan hanya oleh sekolah.
2. Tahun 2021, UN akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.
3. Penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), 1 halaman cukup.
4. Fleksibilitas Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sistem zonasi.

Empat kebijakan di atas tentulah membuat sistem pendidikan di Indonesia berubah hampir 360°. Kebijakan tersebut tidak hanya berdampak bagi peserta didik dan guru. Semua pihak yang berkaitan dengan pendidikan juga terkena dampak dari kebijakan tersebut.

Bagi saya sendiri, yang menjadi bagian kecil dari pendidikan, sebagai penulis, kebijakan yang dibuat oleh Mas Menteri tentu akan berpengaruh. Buku-buku yang akan saya tulis harus mengikuti perubahan yang terjadi, apalagi jika buku-buku yang ditulis berkaitan erat dengan kurikulum.

Kebijakan baru dalam sistem pendidikan di Indonesia selalu terjadi pada setiap perubahan kepemimpinan dalam hampir semua kementerian yang ada. Sebagai masyarakat, kita tentu berharap kebijakan itu akan semakin mencerdaskan generasi anak bangsa ke depannya. Kebijakan baru pasti akan menjumpai pro dan kontra, hal ini adalah dinamika dalam sebuah perubahan untuk menjadi lebih baik. Salam perubahan, salam literasi (Paskalina Askalin)

Kesenangan dalam Belajar Lebih Penting daripada Calistung

Kesenangan dalam Belajar Lebih Penting daripada Calistung

– Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan –

Bagi saya yang mempunyai anak usia PAUD pernyataan Pak Menteri itu patut saya acungi dua jempol. Saya sepakat dan setuju dengan pernyataan beliau, karena saya merasakan sekali sebagai ibu di rumah yang mencoba mengenalkan calistung pada anak saya, Kenan. Tanpa rasa senang, rasa suka, dan rasa cinta, belajar apapun bersama anak usia dini itu terasa sebagai siksaan bagi anak.

Anak saya Kenan, Januari 2020 nanti akan berusia 5 tahun. Sejak usianya dua tahun, bahkan kurang dari dua tahun, saya sudah mengenalkan calistung. Ketika itu harapan saya tidak muluk-muluk, saya hanya ingin Kenan mengenal huruf dan angka. Huruf-huruf dan angka saya jadikan mainannya. Saya mencoba membuat kegiatan-kegiatan yang menarik perhatian Kenan. Angka-angka sering saya tunjukkan dan saya sebut saat bermain, misalnya saya mengajak Kenan menghitung mobil mainannya, saya menempel angka 1 – 5 di dinding, mengelompokkan benda sesuai jumlahnya, dan lain-lain. Saya menyebutnya bermain sambil belajar.

Pernyataan Pak Menteri Nadiem Makarim bahwa kesenangan dalam belajar lebih penting daripada calistung sesuai dengan yang saya lakukan selama ini. Tujuan awalnya adalah mengajak anak bermain dan melakukan hal yang menyenangkan, sedangkan paham calistung merupakan bonusnya. Sampai usia Kenan saat ini Kenan sudah tahu angka 1-20 dan sudah paham huruf A-Z. Kenan juga saat ini sedang belajar menulis dan membaca.

Kebanyakan anak usia 5 tahun di Indonesia, khususnya yang tinggal di perkotaan, sudah mengenal bahkan fasih dengan membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Memang masih menjadi perdebatan para praktisi pendidikan jika calistung tidak seharusnya diajarkan pada anak usia dini (pra sekolah dasar). Namun faktanya, ketika sekolah taman kanak-kanak tidak memprioritaskan kemampuan calistung sebagai hasil akhir sekolah, orangtua berbondong-bondong membawa anak mereka ke tempat kursus calistung.

Kegalauan Orangtua
Di usia Kenan yang hampir 5 tahun, Kenan tidak saya paksa untuk bisa membaca atau menulis. Aktivitas calistung tetap berfokus pada kesenangan, yaitu dilakukan dengan senang, tanpa anak merasa terpaksa. Namun, jujur saja sebagai ibu di rumah, saya merasa agak galau, karena melihat orangtua yang begitu bangga anaknya bisa membaca dan menulis di usia 3-4 tahun. Namun, kemudian saya tersadar ketika membaca berbagai penelitian para ahli pendidikan yang mengungkapkan fakta-fakta tentang dampak memaksakan anak usia dini belajar calistung.

Saya kutip dari Kompas, pernyataan seorang pakar pendidikan, sebagai berikut:
……
Kandidat PhD Jurusan Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Southwest University, China, Budy Sugandi, mengatakan, jenjang pembinaan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD) menjadi saat yang tepat bagi siswa untuk membangun fondasi karakternya. Guru, seyogianya tidak membebani siswa PAUD dengan pelajaran menulis, membaca, dan menghitung.
”Secara psikologis, dengan mengajak siswa bermain dan bersenang-senang, mereka akan menyadari bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Selanjutnya, mereka tidak akan merasa terpaksa datang ke sekolah,” ujarnya di Chongqing, China, saat dihubungi melalui telepon seluler dari Jakarta, Rabu (20/11/2019).
…..

Pernyataan yang diungkapkan Budy Sugandi di atas, sejalan dengan pernyataan Pak Nadiem Makarim. Sebagai ibu yang punya anak usia PAUD, saya berharap proses belajar mengajar di taman kanan-kanak benar-benar bisa menyenangkan untuk anak. Demikian juga nantinya di sekolah dasar, konsep bermain dan belajar dengan menyenangkan menjadi fokus utamanya. Salam perubahan, salam literasi (Paskalina Askalin)