Kado Natal (1)

Natal Tlah Tiba

Hore hore…

Saat Natal tiba, yang paling ditunggu oleh anak-anak adalah Kado Natal. Mom n Dad, Ayah dan Bunda, Bapak dan Ibu, apakah sudah menyiapkan kado Natal untuk putra putri Anda?

Saya punya satu rekomendasi buku yang cocok sebagai hadiah Natal, sebuah buku. Buku rekomendasi ini menarik dibaca oleh anak-anak, orangtua, guru, dan siapapun yang ingin menjelajahi kisah-kisah inspiratif dan mengambil nilainya untuk pengobar semangat.

CHICKEN SOUP FOR THE KID’S SOUL 2, sebuah buku yang sungguh inspiratif. Dalam setiap kisah buku ini tercermin sebuah semangat tentang berbagai nilai positif dalam kehidupan. Saat membaca buku ini anak-anak dapat memilih kisah-kisah yang menarik bagi mereka. Bagi orangtua, buku ini bisa menjadi dongeng sebelum tidur untuk si kakak yang berusia SD atau SMP.

chicken soup for the kids

 

Resensiku di Koran Jakarta (29 Okt 2012)

Resensiku di Koran Jakarta

Panduan Siswa Sukses di Sekolah

Mereka harus mendapat nilai standar tertentu. Jika tidak sesuai, mereka secara otomatis harus siap-siap terdepak. Oleh karena itu, saat ini pelajar tidak bisa hanya menjadi murid biasa. Untuk saat ini, dengan banyaknya tuntutan dari berbagai pihak, anak sekolah harus sukses

Para siswa memunyai tugas utama belajar. Tugas pelajar ini ternyata tidak mudah dilakukan dan tidak semua pelajar memahami arti belajar yang sesungguhnya. Pelajar sesungguhnya memiliki status terhormat sebab tidak setiap anak mendapat kesempatan menjadi pelajar dan bisa menimba banyak ilmu. Sebagai pelajar, siswa harus bersyukur karena masih banyak anak muda yang usia sekolah malah berkeliaran di jalan, tanpa kejelasan nasib. Continue reading “Resensiku di Koran Jakarta (29 Okt 2012)”

Book Review: B.O.M. Business Owner Mentality

Judul: B.O.M. Business Owner Mentality
Penulis: Hendrik Lim, MBA
Penerbit: PT Elex Media Komputindo
Terbit: Cetakan I, Juni 2012
Tebal: xii + 508 halaman
ISBN: 978-602-00-2879-8
Harga: Rp 88.800,00

Buku yang ditulis oleh Hendrik Lim ini sungguh luar biasa. Mengapa? Karena melalui buku ini ia memperkenalkan sebuah kekuatan besar yang mampu menciptakan perubahan besar bagi perusahaan Anda. Ia memperkenalkan sebuah formula penggabungan spirit entrepreneurship dengan manajerial leadership yang mampu memberikan perubahan pada perusahaan Anda. Penggabungan dua hal inilah yang akan menciptakan Business Owner Mentality. Continue reading “Book Review: B.O.M. Business Owner Mentality”

Buku inspirasiku: Aku Terlahir 500 gr dan Buta

Judul Terjemahan : Aku Terlahir 500 gr dan Buta
Penulis : Miyuki Inoue
Penerjemah : Tiwuk Ikhtiari
Cetakan : Kelima, Mei 2007
Tebal : xiv+183

Suatu hari saya naik angkot menuju mes karyawan, tempat saya tinggal. Kebetulan saat itu angkot penuh sesak penumpang. Satu per satu penumpang turun di tujuannya masing-masing. Tinggal saya dan seorang penumpang di pojok yang tersisa, seorang ibu. Ups…saya tercengang. Ternyata penumpang selain saya itu, seorang buta. Saya mendengar dia bicara pada sopir, ”Bang, saya turun di Gang Delima.”

Pikiran saya menjadi melayang. Apa dia tahu kalau sopir itu benar-benar menurunkan dia di tempat tujuannya? Apa dia tahu arah menuju rumahnya? Yang lebih mengherankan saya, dia pergi sendirian saja, kok dia bisa naik angkot ini? Semua pertanyaan itu mengelilingi saya.

Tak bisa kita bayangkan betapa sulitnya hidup tanpa mata. Belum tentu kita mampu bertahan dalam kondisi seperti ibu buta yang saya lihat. Anda ingin mengetahui kisah seorang buta yang patut berbangga meski buta? Anda akan mengetahuinya dengan membaca novel kisah nyata (true story) yang ditulis Miyuki Inoeu. Aku Terlahir 500 gr dan buta, itulah judul novel yang ditulis oleh Miyuki.

Novel ini sungguh luar biasa, bagaimana tidak disebut luar biasa, Miyuki membuat novel kehidupan dirinya sendiri, mulai dari kisah kelahirannya yang menguras air mata sang ibu sampai menjadi kebanggaan karena memenangkan perlombaan mengarang tingkat nasional Jepang ketika duduk di SMP.

Dalam keadaan normal, seorang bayi harus berada di dalam kandungan selama 40 minggu, sedangkan Miyuki berada dalam kandungan ibunya hanya 20 minggu. Oleh karena itu, Miyuki harus berada dalam tabung inkubator selama 4 bulan setelah lahir ke dunia. Selama empat bulan itu tak sekali pun Miyuki kecil merasakan pelukan sang ibu.
Miyuki lahir dengan berat setengah kilogram, seperenam dari berat bayi umumnya. Saking kecilnya hingga Miyuki bisa digenggam. Kepala Miyuki sebesar telur dan jari-jari sekurus tusuk gigi. Keadaan itu membuat Miyuki kecil harus masuk dalam tabung inkubator.
**
Masa-masa sulit Miyuki selama dalam tabung inkubator menguras air mata ibunya. Ibu Miyuki dengan tegar memberi semangat pada Miyuki kecil. Sejak kelahirannya, dokter yang merawat Miyuki menvonis usia Miyuki tidak lebih dari 2 minggu. Tapi dokter bukan Tuhan. Meski sudah divonis tak akan bertahan hidup, Miyuki berhasil melewatinya, sampai akhirnya berada dalam dekapan ibu 4 bulan kemudian setelah dikeluarkan dari tabung inkubator.

Berada dalam tabung inkubator terlalu lama memiliki risiko gangguan kesehatan pada mata bayi. Risiko itu juga harus ditanggung Miyuki kecil. Miyuki kecil tidak sempat melihat dunia tempat dia berada. Miyuki mengalami kebutaan. Tabung inkubator dialiri banyak oksigen. Jika bayi terlalu lama berada dalam tabung inkubator, bayi itu bisa terkena ROP (Retinopathy of Prematurity), yaitu penyakit yang bisa membutakan bayi prematur kalau menghirup terlalu banyak oksigen.

Perjuangan hidup Miyuki semakin berat. Lahir prematur saja sudah membuatnya berbeda dari anak-anak seusianya. Ditambah dengan kebutaannya, Miyuki semakin harus bekerja keras dalam hidupnya.
Yang sangat bermakna dari novel ini adalah lika-liku perjuangan hidup Miyuki sejak dia lahir hingga menginjak remaja. Bukan hanya perjuangan untuk mendobrak kebutaannya, tetapi juga harus terus berjuang dalam kekerasan-kekerasan yang dilakukan ibunya. Bukan kekerasan fisik, melainkan lebih pada kekerasan psikis.
Ibu Miyuki sangat keras dalam mendidik Miyuki. Ibu kebanyakan akan menjaga dengan hati-hati anaknya yang buta, tetapi tidak untuk Ibu Miyuki. Ibu Miyuki akan membiarkan Miyuki merasa sakit karena terjatuh, merasakan benturan keras di kepala, dan masih banyak yang lain. Itulah cara Ibu Miyuki mendidik Miyuki menjadi manusia yang tegar dan mandiri.

Ibu Miyuki ingin anaknya tidak rendah diri meski menjadi seorang yang buta. Pernah suatu kali Miyuki terjatuh dari tangga. Ibu Miyuki bukannya menanyakan keadaan anaknya, tetapi menyalahkan anaknya, ”Salah sendiri.” Hanya itu ucapan ibu lalu pergi meninggalkanku sambil menggumam, ”Berapa kali harus jatuh sampai kamu puas, hah? Kalau kamu jatuh terus, nanti lantainya rusak.” (halaman 43).

Di satu sisi Ibu Miyuki menginginkan anaknya tegar dan mandiri. Di sisi lain dalam diri Miyuki merasa tersiksa karena perlakuan ibunya. Miyuki merasa kesal terhadap perlakuan ibu, tetapi Miyuki tidak bisa jauh dari ibunya. Miyuki sangat memerlukan ibunya.

Lembar demi lembar dalam novel ini dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam diri Miyuki tentang perlakuan-perlakuan kasar ibunya hingga Miyuki menemukan sebuah kesadaran akan kehebatan ibunya ketika membesarkannya. Miyuki dengan jujur mengutarakan perasaannya, baik itu perasaan senang ketika dekat ibu, sedih saat jauh dari ibu, maupun sakit hati pada perlakuan ibunya.

Suatu hari Miyuki ingin merasakan naik sepeda. Ibu Miyuki menyanggupi untuk mengajak Miyuki belajar naik sepeda di lapangan. Ibunya memberi tahu cara naik sepeda.
Miyuki berpikir ingin duduk di belakang saja dan ibunya menolak. Tadinya aku ingin duduk di belakang saja, di boncengan dan ibunya menuntun sepedanya. ”Kalau kamu minta duduk di belakang, kamu tidak bisa naik sepeda selamanya. Kamu harus percaya kalau kamu bisa naik sepeda. Ayo, coba lagi!” (halaman xi).

Setelah diberi tahu ibunya cara naik sepeda, Miyuki harus menaiki sepeda sendiri. Ibu Miyuki hanya duduk di kursi panjang sambil meneriaki Miyuki untuk bangun lagi saat terjatuh. Miyuki sangat kesal karena ibunya tidak menolong sekali pun. Padahal lutut dan tangan Miyuki sudah berdarah-darah dan terasa perih. Sampai empat puluh kali jatuh dari sepeda, akhirnya Miyuki bisa naik sepeda. Rasa sakit yang dialaminya dan kejengkelan pada ibunya tak lagi dirasakannya setelah berhasil naik sepeda dan merasakan embusan angin. Tentunya Miyuki hanya bisa naik sepeda di lapangan. Jika di jalan raya, itu akan membahayakan dirinya. Miyuki tahu bahwa ibunya menangis saat melihatnya belajar sepeda ketika dia menulis cerita tentang dia dan ibunya.
**

Kebutaan tak menghentikan Miyuki untuk merasakan hal-hal yang dialami anak-anak sebayanya. Itulah yang ditanamkan sejak dini oleh Ibu Miyuki. Apa pun yang diinginkan Miyuki selalu didapatkan, tetapi tentunya dengan usaha yang keras. Ibu Miyuki tidak membiasakan Miyuki untuk mendapatkan hal-hal yang instan.
Perjuangan Miyuki dan ibunya membuahkan hasil yang luar biasa. Miyuki berhasil memenangkan lomba mengarang SLB tingkat nasional Jepang. Dalam karangan-karangannya Miyuki menceritakan kisah dirinya, ibu yang selalu keras padanya, tangis dan tawa bersama ibu, dan cerita-cerita mengharukan yang didengar dari ibunya. Melalui karangan-karangan ini pula Miyuki menjadi sadar, bahwa berkat ibunya, Miyuki bisa menjalani kebutaannya. Kecintaan Miyuki pada dunia tulis-menulis ini akhirnya membuahkan novel ini.

Ketika Anda membaca novel ini Anda akan merasa seolah-oleh Miyuki bercerita pada Anda. Tutur bahasa yang sederhana membuat novel ini mudah dipahami. Hal ini tentunya juga didukung oleh sang penerjemah, Tiwuk Ikhtiari.

Novel ini baik dan layak dibaca oleh semua orang, terutama diperdengarkan pada sesama kita yang tidak diberikan mata normal. Pertama, dengan membaca novel ini wawasan Anda tentang ”kebutaan” akan menjadi lebih positif. Memang, ”kebutaan” itu membuat pemiliknya harus berusaha lebih keras dalam mendapatkan sesuatu. Miyuki, satu di antara jutaan orang yang buta, berhasil mendobrak kebutaannya dengan bantuan penuh ibunya.

Oleh karena itu, jangan menjadi lemah karena putri, putra, kakak, adik, atau orang tua Anda yang buta. Akan tetapi, doronglah dia menjadi positif dalam memandang hidup. Ingatlah perjuangan Ibu Miyuki dalam mendidik Miyuki. Dalam didikan ibunya, Miyuki menjadi seorang yang mandiri dan bangga pada dirinya.

Kedua, dalam beberapa hal, bisa jadi Anda, saya, dan Miyuki mempunyai kesamaan. Mendapat perlakuan keras dari orang tua, guru, dan lingkungan sekitar. Akan tetapi, yakinlah bahwa sebagaimana Miyuki alami, buah-buah rohani akan dirasakan dengan nikmat bila kita sampai pada kesadaran tertentu. Lebih penting lagi, sikap pantang menyerah Miyuki dan kesetiaan sang ibu membesarkan anaknya bisa menjadi inspirasi dan motivasi kita untuk terus berjuang, memperjuangkan apa yang kita inginkan.

(Paskalina Oktavianawati, S.S.)

Catatan: Resensi ini dimuat di Pikiran Rakyat, 20/08/2007

Resensi Buku: Cookie karya Jaqcueline Wilson

Kue Cookie Pembawa Keberuntungan

Peresensi: Paskalina Oktavianawati

Judul buku : Cookie ~ Penulis : Jacqueline Wilson ~ Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta ~ Cetakan : Jakarta, Januari 2012 ~  Tebal buku : 376 halaman ~ ISBN : 978-979-22-7934-4 ~ Harga : Rp 48.000,-

GambarPuluhan buku anak-anak telah ditorehkan tangannya dan tidak sedikit yang telah mendapatkan penghargaan. Bukunya menarik karena dikemas bersama dengan ilustrasi-ilustarasi pendukung. Sebagai penulis buku anak, dia bukan  hanya dikenal di Inggris, tetapi di seluruh dunia. Bahkan menurut polling, dia terpilih anak Inggris sebagai penulis favorit anak-anak itu. Di Inggris saja bukunya terjual lebih dari 25 juta. Wow!

Dialah Jacqueline Wilson. Jacqueline Wilson lahir di Bath pada tahun 1945. Sejak kecil Jacky terobsesi menjadi penulis, bahkan dia menulis novel pertamanya pada usia sembilan tahun.

Dari puluhan karyanya, Jacqueline Wilson selalu mengangkat karakter anak perempuan dalam novel-novelnya. Karakter anak perempuan tersebut cenderung mempunyai banyak masalah di kehidupannya, baik itu dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan pergaulan sekolah, baik itu masalah ekonomi, maupun masalah psikologis. Continue reading “Resensi Buku: Cookie karya Jaqcueline Wilson”

Resensi Buku di Koran Jakarta: Inspirasi Membangun Bisnis dari Rumah

versi cetak klik di sini

PERADA, Koran Jakarta

Inspirasi Membangun Bisnis dari RumahGambar

Bisnis perhiasan yang digeluti Cookie Lee menjadikan dia sebagai ibu yang paling bahagia karena setiap hari bisa mengantar jemput anak ke sekolah.

Mendengar nama Jack Canfield akan mengingatkan pembaca pada sebuah buku seri Chicken Soup. Sudah banyak seri Chicken Soup yang terbit dalam berbagai bahasa, termasuk Indonesia yang tak pernah absen untuk menerbitkannya.

Pada Chicken Soup kali ini, Jack Canfield fokus pada kisah entrepreneur atau wirausaha. Chicken Soup for the Entrepreneur’s Soul dihadirkan untuk membangunkan potensi bisnis yang tersimpan di dalam diri para pembaca. Jack Canfield dan kawan-kawan meramu banyak sekali kisah dalam Chicken Soup ini guna memberi spirit yang kuat untuk para pembaca.

Dalam Chicken Soup ini, terdapat 56 kisah entrepreneur yang telah sukses membangun bisnis. Dalam kisah-kisah inspiratif mereka, pembaca bisa menemukan berbagai alasan seseorang akhirnya memilih untuk berbisnis daripada orang bergajian. Tak jarang mereka harus memilih antara memulai bisnis atau tetap dengan menikmati kemapanan pekerjaan yang telah diperolehnya.

Tidak hanya kisah sukses yang dapat pembaca dapatkan dalam Chicken Soup ini. Ada juga tip atau saran sukses meraih bisnis. Misalnya, yang disampaikan Doris Christopher dalam kisahnya Resep untuk Sukses. Doris adalah pendiri dan Direktur The Pampered Chef, Ltd., penjual langsung alat-alat dapur yang pertama di dunia.

Bisnis yang digeluti Doris berawal dari rumah yang berkembang menjadi perusahaan jutaan dollar yang mengadakan lebih dari satu juta home show per tahun di seluruh dunia (hlm 55).

Doris menyebutkan ada lima saran untuk pembaca yang ingin memulai bisnis. Mereka adalah ikuti kegemaranmu, jadilah yang terbaik sebisamu, jaga biaya operasionalmu, ikuti instingmu, dan yang kelima ungkapan “itu hanya bisnis”. Doris adalah seorang ibu rumah tangga. Pembaca yang kebetulan ibu rumah tangga cocok membaca kisah Doris Christopher ini agar memperoleh pencerahan.

Kisah lain ditorehkan Cookie Lee, pendiri Cookie Lee, Inc, perusahaan penjual perhiasan langsung yang terbesar di Amerika. Produknya adalah perhiasan berkualitas tinggi.

Saat awal mendirikan perusahaan, Cookie Lee mendapat tantangan dari keluarga dan juga suaminya. Wanita ini dianggap gila karena mau meninggalkan karier cemerlangnya di perusahaan sekelas Mattel hanya untuk menjadi penjual perhiasan.
Alasan Cookie Lee sangat sederhana. Dia ingin membesarkan anaknya secara baik dan berkarier tanpa mengorbankan keluarga. Alasan Cookie Lee ini menjadi masuk akal ketika membaca kisah masa kecilnya yang tidak mendapat perhatian kedua orang tuanya.

Dari kisah Cookie Lee, pembaca dapat memetik pelajaran bahwa membuka lahan bisnis tidak semata-mata didasarkan pada keinginan mendapat uang sebanyak-banyaknya, terutama bagi wanita. Alasan bisa tetap di rumah kapan saja dan mengurus keluarga menjadi fokus memilih bisnis tertentu. Bisnis perhiasan yang digeluti Cookie Lee menjadikan dia sebagai ibu yang paling bahagia karena setiap hari bisa mengantar jemput anak ke sekolah.

Masih banyak kisah lain yang bisa mengobarkan semangat bisnis pembaca sekalian. Doris, Cookie, dan lainnya berhasil menjadi ibu rumah tangga yang sukses membangun perusahaannya walaupun hanya berawal dari rumah. Pembaca juga bisa seperti mereka mengejar impian dengan berbisnis sendiri. Jangan hanya bermimpi, ayo mulai.

Diresensi Paskalina Oktavianawati, tinggal di Jakarta

Judul : Chicken Soup for the Entrepreneur’s Soul
Kisah-kisah Inspiratif tentang Mengejar Impian dengan Berbisnis Sendiri
Penulis : Jack Canfield, Mark Victor Hansen, dkk
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : xviii 332 halaman
ISBN : 978-979-22-8122-4