K A N O P I PI PI PI….

Ara melihat kakaknya Dio dengan saksama. Ara dan Dio sama-sama sedang belajar di rumah. Zoom, video call, dan Youtube menjadi keseharian mereka sejak pandemi terjadi.  Ara kelas TK A, sedangkan Dio kelas 5 SD.

Kalau ibu tak bisa menemani Ara, Dio yang menemani Ara belajar dan mengerjakan tugas dari gurunya.

“Ini namanya apa, Dik?” tanya Dio sambil menunjuk gambar pada buku aktivitas milik Ara.

“Pintu.”

“Atap.”

“Lantai.”

“Kalau ini apa?”

Ara terdiam dengan mulut manyun karena tidak tahu.

“Ini namanya langit-langit,” kata Dio.

“Langit kan ada di luar, tuh,” jawab Ara sambil menunjuk ke arah langit di luar.

“Hampir sama, Dik. Kalau yang di luar langit, kalau yang di dalam langitnya rumah, namanya langit-langit.”

“Oh, langit, langit-langit.” Ara mengulang-ngulang ucapannya.

“Kalau ini apa?” Dio menunjuk lagi sebuah gambar. Ara menggeleng tak
tahu.

“Mungkin atap, kan mirip atap, melindungi kita dari hujan dan panas?” Ara menjawab asal.

“Coba baca ini ka – no – pi,” ajak Dio.

“pi – pi – pi,” jawab Ara sambil tertawa.

“Ara bukan pi – pi – pi, ka – no – pi,” sahut Dio dengan suara keras.

Ibu yang mendengar suara keras Dio langsung menghampiri.

“Ada apa ini Kak Dio,” tanya Ibu.

“Adik, Bu. Dio ajarin baca, Ara malah bercanda.”

Ibu menjelaskan pada Dio jika Ara bukan bercanda. Ara memang belum bisa membaca. Ibu juga mengatakan jika Dio harus sabar kalau mengajari adik.

“Dik Ara, ayo belajar,” ajak Ibu.

“Bu, pipipi itu apa sih, Ara ga tahu apa itu pipipi,” kata Ara diikuti manyun. Ara memang anak yang serba ingin tahu, kalau ada benda yang tidak tahu namanya pasti akan bertanya terus.

“Kita ga punya kanopi, Dik,” timpal Dio, “tapi kalau pipi yang ini.”
Dio menoel pipi Ara yang gembil.

“Ibuu, Kak Dio nyubit Ara,” adu Ara pada Ibu.

“Daripada ribut begini, ayo ke dapur, Ibu punya yang enak dan segar untuk diminum, jus mangga kesukaan Kak Dio dan jus apel kesukaan Ara.”

“Horeeee, jus stroberi,” seru Ara.
Ara dan Dio mengikuti Ibu ke dapur. Ara masih bersenandung.

“Pi pi pi pi.”

“Ka no pi, Dik.”

“Pi pi pi pi.”

“Ka no pi, Dik.”

“Pi pi pi pi, Kak.”

“Ara, ka no pi, bukan pi pi pi pi.”

“Ka no pi pi, ka no pi pi.”

Dio menyerah akhirnya. Dio membiarkan adiknya bersenandung pi pi pi ka no pi. Dalam hati Dio masih berpikir untuk menemukan cara supaya adiknya mau belajar membaca dengan menyenangkan.

“Kak Dio, ayo lihat kanopi?” kata Ara usai meminum habis jus stroberi.

“Pi pi pi pi….,” goda Dio sambil menggelitik Ara. Ara langsung berlari mendekati Ibu.

Adu Layangan (Ditulis oleh Yudadi BM Tri Nugraheny)

Adu Layangan

Ditulis oleh Yudadi BM Tri Nugraheny

“Pakai ini dulu.” Agus menyodorkan plester pada Joko. Joko segera memasangnya di jari telunjuk kanan. Di lapangan sudah banyak orang bermain layangan. Tidak hanya anak seusia mereka, tetapi ada juga orang dewasa. Di langit bertebaran berbagai macam layang-layang. Baik jenis, ukuran, warna, dan bentuknya. Ada layangan aduan dan hiasan. Sendaren yang dipasang di layangan berlomba berdengung. Menambah keasyikan bermain.

“Pegang layangannya, ayo cepat. Mumpung ada angin,” kata Joko. Agus memegang layangan. Joko mundur beberapa langkah. Ia segera menarik benang. Angin yang tadi berembus dengan keras, mendadak sepoi. Layang-layang mereka gagal lepas landas. Berkali Joko dan Agus berusaha menaikkan layangan, tapi gagal.

Continue reading “Adu Layangan (Ditulis oleh Yudadi BM Tri Nugraheny)”