Bersama Jadi Lebih Ringan karya Paskalina Askalin

Pada akhir pekan, Remi mengisi waktunya dengan kegiatan-kegiatan bermanfaat. Seperti akhir pekan ini, Remi mengajak adiknya, Sasa membaca buku. Karena Sasa belum bisa membaca dengan lancar, Remi yang membacakan buku.

“Kak, Sasa mau dibacakan buku Tedi Kelinci Jujur,” pinta Sasa.

Remi mencari buku yang disebut Sasa dan membacakannya. Sasa duduk di samping Remi dengan tenang.

Saat kakak beradik itu tenggelam dalam bacaan, bunda mereka sedang sibuk membuat brownis kukus kesukaan Remi dan Sasa. Continue reading “Bersama Jadi Lebih Ringan karya Paskalina Askalin”

Ketika Ibu Tidak di Rumah karya Paskalina Askalin

Jam wekerku berbunyi, saatnya aku bangun. Aku langsung bangun dan mengambil handuk, lalu ke kamar mandi. Ketika aku mandi, ibu membereskan tempat tidurku dan menyiapkan seragam sekolah yang aku pakai.

Ibuku memang baik sekali, ibu terbaik di dunia.

Setelah mandi, memakai seragam sekolah. Hidungku mencium aroma nasi goreng, aku tahu ibu pasti membuatkan sarapan nasi goreng telur dadar kesukaanku. Continue reading “Ketika Ibu Tidak di Rumah karya Paskalina Askalin”

Koin Cuci Tangan karya Paskalina Askalin

Si kembar Mira dan Raka sudah seminggu belajar di rumah. Wabah virus korona yang masih merajalela membuat semua sekolah di Indonesia dan juga dunia, meliburkan siswanya. Semua anak sekolah harus belajar di rumah dan secara online (daring) guru akan memantau melalui media sosial. Mira dan Raka yang duduk di kelas 4 sekolah dasar setiap hari berkomunikasi dengan gurunya melalui grup whatsapp.

Ayah si kembar juga harus bekerja dari rumah.  Beruntung ayah mereka bekerja di depan laptop, jadi bisa bekerja di mana saja. Sementara ibu mereka yang mempunyai bisnis online untuk sementara menutup toko karena kesulitan bahan baku.

Di rumah si Kembar, ibu mereka punya aturan ketat tentang kebersihan tangan. Setiap kali ibu mereka selalu bertanya, “Apakah sudah cuci tangan?” Mira dan Raka jadi kesal dan bosan ditanya terus.

“Bunda, kami sudah cuci tangan,” jawab si kembar serempak.

“Bagus, salah satu cara mencegah virus korona datang ke rumah kita adalah dengan cuci tangan. Jadi kalian jangan bosan kalau bunda tanya terus.”

“Tapi kan bosan, Bun, ditanya-tanya terus. Adakah cara supaya Bunda percaya kalau kami sudah cuci tangan?” kata Raka.

Si kembar berpikir, ibu mereka juga berpikir. Ibu mereka mengutakan sebuah ide.

“Bunda punya ide. Bunda punya banyak koin di kantong ini. Bunda akan gantungkan kantong koin ini di dekat wastafel. Setiap kali kita semua cuci tangan harus mengambil 1 koin dan memasukkan ke dalam gelas sesuai nama, Mira, Raka, ayah, dan bunda. Semua kegiatan di rumah ini harus dimulai dan diakhiri dengan cuci tangan.” Si kembar senyum-senyum mendengar ide Bunda.

“Kita namai ‘koin cuci tangan’. Kalau besok Om Arka datang, tambah 1 gelas ya, Bun,” kata Mira.

“Betul sekali.”

Meskipun si kembar selalu berada dalam rumah, kegiatan mereka banyak sekali. Selain belajar online (daring), mereka juga bermain aneka permainan tradisional. Supaya tak bosan, mereka mendaftar permainan tradisional yang bisa mereka mainkan. Permainan tradisional yang mereka lakukan di antaranya congklak, bekel, kelereng, karet gelang, petak umpet, dan sebagainya. Setiap kali merasa bosan di rumah, si kembar memainkan 1 permainan tradisional.

Ibu dan ayah mereka juga senantiasa mengajak si kembar melakukan aktivitas di rumah, seperti membereskan tempat tidur, menyapu, mengepel, memasak, dan lainnya. Semakin banyak aktivitas yang si kembar dan orangtuanya lakukan, tentunya koin cuci tangan jadi penuh. Di sela-sela beraktivitas pun suara gemerincing koin selalu terdengar.

“Bun, kapan kami bisa bersekolah lagi,” tanya Raka setelah dua minggu mereka belajar di rumah.

“Bunda belum tahu, wabah virus korona masih belum usai, yang penting kita jaga kebersihan diri dengan rajin-rajin mencuci tangan dan tetap berada di rumah,” jawab Bunda.

Ayah lalu menambahkam, “Mari kita berdoa bersama, semoga wabah segera usai, dan kalian bisa kembali bersekolah. Ayah dan Bunda pun bisa kembali bekerja.”

“Amin,” kata semuanya.

Mari kita aminkan teman-teman semua. Semoga wabah virus korona segera hilang dari Indonesia. Amin

Depok, Maret 2020

Sebuah cerita anak karya Paskalina Askalin

Seminggu di Rumah Nenek karya Paskalina Askalin

“Kenan, ini Harun, anaknya Pak Soleh, yang mengurus peternakan domba kita. Harun, kenalkan ini Kenan, cucu nenek satu-satunya. Akan tinggal di sini selama satu minggu, Harun temani Kenan, ya. Harun boleh mengajak Kenan ke mana saja, asalkan sebelum pergi memberi tahu Nenek atau bapakmu.”

“Ma, aku liburan di rumah saja. Tidak apa-apa kok. Aku tidak mau ke rumah nenek,” pintaku pada Mama.

“Tidak bisa, sayang. Mama dan Papa harus pergi ke luar kota. Bi Inah pulang kampung. Jadi Kenan harus pergi ke rumah Nenek, seminggu ini,” kata Mama.

Aku terdiam mendengar perkataan Mama. Hatiku masih menggerutu.

Liburan di rumah nenek, pasti akan membosankan. Di desa seperti itu apa yang bisa kulakukan, gerutuku.
Continue reading “Seminggu di Rumah Nenek karya Paskalina Askalin”