Lima Aktivitas Bermain Sambil Belajar yang Bisa Dilakukan Orangtua Bersama Anak Usia Dini Selama Liburan di Rumah

Anak usia dini yaitu anak-anak batita, balita, anak kelompok bermain, dan anak-anak sekolah taman kanan-kanak. Anak-anak ini memiliki energi yang luar biasa besar, berlari ke sana ke mari tanpa punya rasa lelah. Penghargaan sangat besar patut diberikan untuk ibu/bapak guru/pendamping yang mau menjadi guru mendampingi anak-anak usia dini yang begitu penuh energi.

Wabah COVID-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda usai, membuat pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan kebijakan anak-anak usia sekolah harus belajar di rumah selama beberapa waktu.
Kelompok bermain, taman kanak-kanak, sekolah dasar hingga sekolah menengah atas diliburkan dari semua aktivitas di sekolah. Semua anak-anak harus libur dan belajar di rumah.

Bagi anak-anak kelompok bermain dan taman kanak-kanak, tidak bersekolah menyenangkan pada awalnya, tetapi kemudian  membosankan. Apalagi mereka tidak boleh keluar rumah.
Berikut ini lima aktivitas bermain sambil belajar yang bisa dilakukan orangtua bersama anak usia selama liburan.

Continue reading “Lima Aktivitas Bermain Sambil Belajar yang Bisa Dilakukan Orangtua Bersama Anak Usia Dini Selama Liburan di Rumah”

Tetap di Rumah, Temani Anak Belajar di Rumah

Wabah virus COVID-19 yang terus memakan korban membuat pemerintah membuat kebijakan terbaik untuk warganya. Salah satunya dengan meliburkan anak sekolah mulai PAUD hingga jenjang SMA. Libur berlangsung selama 14 hari mulai tanggal 16 s.d 28 Maret 2020. Bahkan, untuk wilayah DKI Jakarta, telah keluar surat edaran dari gubernur jika libur diperpanjang hingga 2 April 2020. Semua karena COVID-19.

Setiap daerah mempunyai kebijakan masing-masing sesuai dengan kondisi wabah yang terjadi. Saat ini DKI Jakarta pada posisi paling atas dari sisi jumlah orang yang positif terkena virus COVID-19. Tidak hanya anak sekolah yang diliburkan, kantor-kantor juga diimbau untuk meliburkan karyawannya selama 14 hari. Perniagaan pun diimbau untuk libur dari segala aktivitas. Khusus DKI Jakarta, transportasi publik seperti Transjakarta dan MRT pun membatasi jam beroperasi untuk mengurangi penularan virus COVID-19. Semua karena COVID-19.

Belajar di Rumah
Orangtua dan guru mempunyai peran paling besar untuk membuat anak mau “belajar di rumah”, selama libur karena wabah COVID-19.  Beruntunglah saat ini komunikasi guru dan orangtua dapat berjalan dengan mudah karena adanya kemajuan teknologi. Melalui grup Whatsapp guru dapat mengingatkan orangtua untuk memantau aktivitas anak-anaknya ketika di rumah hingga memastikan anak mengerjakan tugasnya. Guru secara daring dapat memantau siswanya saat mengerjakan tugas dan meminta siswa mengirimkan hasil tugas melalui email. Sungguh luar biasa zaman ini, serba mudah, serba cepat dan gampang, komunikasi dapat terjalin dengan tanpa kendala. Selama ada jaringan internet, komunikasi lancar.

Di lini masa tak kalah seru penuh dengan foto-foto anak-anak yang sedang belajar di rumah didampingi oleh orangtua mereka. Bagi anak sekolah, liburan kali ini liburan langka karena mereka harus tetap di rumah dan
Bagi anak-anak usia SD, SMP, dan SMA, orangtua hanya perlu memastikan anak-anak mereka mengerjakan tugas dan mengirimkan hasil tepat waktu.

Namun akan cukup sulit bagi orang tua yang memiliki anak usia pra sekolah dasar atau anak usia dini. Anak-anak ini lebih cenderung suka bermain belajar ketimbang belajar. Dalam kondisi dan situasi seperti saat ini orangtua yang mempunyai anak usia dini harus ekstra pendampingan pada anak. Anak usia dini cenderung cepat bosan, apalagi harus di rumah terus-menerus.

Kenan sedang mengerjakan lembar aktivitas dari sekolah

Sama seperti anak usia SD hingga SMA, anak-anak yang duduk di sekolah PAUD atau taman kanak-kanak, libur sekolah kali ini juga diberi tugas lembar aktivitas. Sang Guru juga secara terus-menerus memantau apa yang dikerjakan oleh anak-anak. Sementara orangtua, mengirimkan foto aktivitas mengerjakan tugas anak-anak melalui grup Whatsapp.

Anak saya Kenan (5 tahun), kelas TK A, sudah menyelesaikan lembar aktivitas yang diberikan gurunya untuk dikerjakan saat libur sekolah. Setelah semua lembar aktivitas selesai dikerjakan, aktivitas apa lagi yang bisa dilakukan Kenan di rumah?
Orangtua harus punya segudang ide untuk beraktivitas seru bersama anak usia dini di rumah. Selama wabah COVID-19 masih terus berkembang penyebarannya, orangtua sebisa mungkin harus mengajak anak tetap beraktivitas di dalam rumah.

Baca selanjutnya: Lima Aktivitas Bermain Sambil Belajar yang Bisa Dilakukan Orangtua Bersama Anak Usia Dini Selama Liburan di Rumah

Aktivitas Seru Mengasah Kecerdasan Anak Usia Dini (Bagian 1)

Dua kata yang senantiasa harus ada ketika mengajak anak usia dini belajar dan bermain adalah AKTIVITAS SERU. Aktivitas seru maksudnya aktivitas bermain yang mengasyikkan buat anak, disukai anak, dan menggembirakan hati anak.

Mengenal angka dan huruf dapat dikenalkan pada anak sejak usia masih sangat dini, sejak anak itu dilahirkan. Bahkan sejak masih dalam kandungan perkataan yang disebutkan ibunya menjadi memori yang melekat di otaknya.

Setiap anak itu unik, mempunyai ketertarikan pada mainan yang berbeda, hingga menyukai tontonan yang berbeda pula. Oleh karena itu, orangtua atau pendamping anak tidak bisa memaksakan satu metode belajar yang dianggap berhasil pada banyak sekali anak untuk bisa diterapkan pada anaknya. Hal ini perlu benar-benar disadari oleh orangtua sehingga tidak semena-mena memaksakan anak belajar dengan cara yang sama dengan cara anak lain.
Continue reading “Aktivitas Seru Mengasah Kecerdasan Anak Usia Dini (Bagian 1)”

Saya Marah Karena Lelah Membacakan Buku Sebelum Tidur

Suatu malam saya menggerutu (sedikit marah) pada si Kakak karena minta dibacakan buku lagi dan lagi dan lagi. Kondisi mata saya sudah lima watt dan si Adik yang di perut bergerak terus sehingga membuat saya tak nyaman.

“Kan udah dua buku, Kak. Sekarang tidur ya, sambil dengerin Paman Gery (Dongeng Nusantara Bertutur).” Hmmmm…. si Kakak tidak mau dan ngedumel minta dibacakan lagi. Akhirnya saya menyerah, “Ya udah ambil lagi 1 buku, yang bahasa Indonesia ya.” (Emak ga pinter bahasa Inggris, harus kerja keras membaca ulang cerita bahasa Inggris jadi bahasa Indonesia, hehehehe)

Bunda membacakan buku untuk Kenan

Si Kakak mengambil 1 buku untuk dibacakan. Satu buku isi lima cerita. Saya sebenarnya yakin, baru satu cerita si Kakak pasti sudah tertidur dan itu benar terjadi. Melihat si Kakak sudah tertidur, hati saya marah pada diri sendiri, kenapa saya harus menggerutu, marah, karena si Kakak tidak meminta nonton video atau main game di gawai. Harusnya saya merasa senang karena si Kakak sudah punya kebiasaan  baik, mau dibacakan buku sebelum tidur.  Apa jadinya kalau si Kakak malah meminta nge-game di gawai sebelum tidur. Ini justru akan jadi malapetaka. Kini saya ingin lebih banyak sabar dan kuat menahan kantuk karena permintaan membacakan buku sebelum tidur.

Kebiasaan membacakan buku sebelum tidur adalah kebiasaan baik yang harus terus dijaga. Ketika anak sudah terbiasa dibacakan buku sebelum tidur, kadangkala orangtua yang pada akhirnya tidak bisa memenuhi dengan alasan lelah sudah kerja seharian atau mengantuk. Seperti yang sering saya alami, menolak membacakan buku karena kelelahan sangat. Walaupun tidak bekerja di kantor, pekerjaan rumah tangga dan keinginan menyelesaikan banyak buku yang tulisan, membuat waktu begitu cepat berlalu, hingga sampai malam hari dalam kelelahan. 

Uti membacakan buku untuk Kenan

Ketika saya benar-benar merasa lelah, kadangkala si Kakak mau dibacakan buku oleh Uti-nya, tetapi lebih banyak menolak karena ingin selalu dibacakan oleh saya, bundanya. Kadangkala terbantu oleh Paman Gery dan kawan-kawan yang mendongeng di Nusantara Bertutur bisa menggantikan saya membaca buku.

Membacakan buku sebelum tidur atau kapan saja sangat bermanfaat bagi anak usia dini. Saya pernah menuliskan beberapa tulisan tentang manfaat membaca buku untuk anak usia dini. Baca Membacakan Buku itu Penting Bagi Anak Usia Dini

Baca juga: Ibu di Rumah: Membacakan Buku untuk Anak (Batita, Balita)

Berbagi Tidak Perlu Suap-suapan

Hindarkan Anak dari Kebiasan Berbagi Makanan dengan Sendok yang Dipakai Bersama Teman

“Namanya juga anak-anak.” Begitulah ungkapan yang sering kita dengar ketika melihat ulah seorang anak yang begitu keterlaluan. Misalnya, lari ke sana ke mari ketika berada di tempat umum, ingin makanan milik teman, naik-naik di kursi, teriak-teriak tak terkendali, dan sebagainya.

Sumber gambar: www.istockphoto.com

Kita semua seakan memaklumi ulah anak-anak. Tak boleh ada orang marah dan tersinggung akan perilaku anak-anak. Saya paham betul akan perilaku anak-anak. Namun, saya rasa sebagai orangtua, kita tidak boleh pasrah begitu saja pada perilaku anak. Pembiaran perilaku semau anak, bukanlah pilihan yang tepat.

Konteks Berbagi dengan Benar
Beberapa waktu lalu, ada seorang anak beserta pengasuhnya datang ke rumah. Anak itu membawa makanan berupa puding cokelat. Anak saya, Kenan, suka sekali dengan puding cokelat. Ketika anak yang datang itu menawari Kenan puding cokelat, dengan senang Kenan menerimanya. Anak itu menyuapi Kenan dengan sendoknya (satu sendok dipakai bersama). Saya ingin melarang seketika itu juga. Tetapi saya menahan diri, karena dari tatapan mata Kenan, saya bisa rasakan kemarahan. Kenan tidak mau dilarang. Akhirnya beberapa suap puding dimakan oleh Kenan.
Saya pun tak ingin membuat oranglain tersinggung dengan langsung melarang keras pada Kenan. Saya ingin menegur sang pengasuh tetapi saya pikir tak ada gunanya. Lebih baik saya memberikan pengertian pada Kenan.

Kemudian saya ajak Kenan membuat puding cokelat sendiri (beruntunglah masih ada separuh kantung puding yang belum dimasak). Sembari membuat puding, saya mencoba penjelasan Kenan bahwa tidak boleh menerima suapan makanan dari temannya. Terus terang, saya agak kesulitan menjelaskan hal ini pada Kenan.

Saya belum bisa menjelaskan panjang lebar alasan lebih detail tentang menolak makanan pemberian orang lain. Saya masih harus belajar banyak tentang ilmu pola asuh yang baik.

Dulu saya beranggapan bahwa jika menyuapi makanan yang kita makanan dengan sahabat atau teman dekat adalah wujud keakraban atau persahabatan. Namun, faktanya tidak demikian. Dikutip dari laman hellosehat.com bahwa: “Bagi sebagian orang, berbagi alat makan dengan orang lain merupakan wujud persahabatan dan keakraban. Akan tetapi, saling pinjam peralatan makan seperti sendok, garpu, sedotan, atau botol minum ternyata berisiko menyebabkan penularan penyakit.”
Mungkin jika kita berbagi makanan dengan saudara sendiri, kakak, adik, ayah, atau ibu, tidaklah menjadi soal, karena kita sendiri tahu riwayat kesehatan keluarga kita. Jika orang yang membagi makanan adalah orang lain, kita tidak tahu sakit apa yang sedang diderita. Kita perlu sekali menerapkan atau mengajak anak kita untuk berbagi dengan orang lain, tanpa harus menyuapkan makanan kita pada orang lain.

Kesenangan dalam Belajar Lebih Penting daripada Calistung

Kesenangan dalam Belajar Lebih Penting daripada Calistung

– Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan –

Bagi saya yang mempunyai anak usia PAUD pernyataan Pak Menteri itu patut saya acungi dua jempol. Saya sepakat dan setuju dengan pernyataan beliau, karena saya merasakan sekali sebagai ibu di rumah yang mencoba mengenalkan calistung pada anak saya, Kenan. Tanpa rasa senang, rasa suka, dan rasa cinta, belajar apapun bersama anak usia dini itu terasa sebagai siksaan bagi anak.

Anak saya Kenan, Januari 2020 nanti akan berusia 5 tahun. Sejak usianya dua tahun, bahkan kurang dari dua tahun, saya sudah mengenalkan calistung. Ketika itu harapan saya tidak muluk-muluk, saya hanya ingin Kenan mengenal huruf dan angka. Huruf-huruf dan angka saya jadikan mainannya. Saya mencoba membuat kegiatan-kegiatan yang menarik perhatian Kenan. Angka-angka sering saya tunjukkan dan saya sebut saat bermain, misalnya saya mengajak Kenan menghitung mobil mainannya, saya menempel angka 1 – 5 di dinding, mengelompokkan benda sesuai jumlahnya, dan lain-lain. Saya menyebutnya bermain sambil belajar.

Pernyataan Pak Menteri Nadiem Makarim bahwa kesenangan dalam belajar lebih penting daripada calistung sesuai dengan yang saya lakukan selama ini. Tujuan awalnya adalah mengajak anak bermain dan melakukan hal yang menyenangkan, sedangkan paham calistung merupakan bonusnya. Sampai usia Kenan saat ini Kenan sudah tahu angka 1-20 dan sudah paham huruf A-Z. Kenan juga saat ini sedang belajar menulis dan membaca.

Kebanyakan anak usia 5 tahun di Indonesia, khususnya yang tinggal di perkotaan, sudah mengenal bahkan fasih dengan membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Memang masih menjadi perdebatan para praktisi pendidikan jika calistung tidak seharusnya diajarkan pada anak usia dini (pra sekolah dasar). Namun faktanya, ketika sekolah taman kanak-kanak tidak memprioritaskan kemampuan calistung sebagai hasil akhir sekolah, orangtua berbondong-bondong membawa anak mereka ke tempat kursus calistung.

Kegalauan Orangtua
Di usia Kenan yang hampir 5 tahun, Kenan tidak saya paksa untuk bisa membaca atau menulis. Aktivitas calistung tetap berfokus pada kesenangan, yaitu dilakukan dengan senang, tanpa anak merasa terpaksa. Namun, jujur saja sebagai ibu di rumah, saya merasa agak galau, karena melihat orangtua yang begitu bangga anaknya bisa membaca dan menulis di usia 3-4 tahun. Namun, kemudian saya tersadar ketika membaca berbagai penelitian para ahli pendidikan yang mengungkapkan fakta-fakta tentang dampak memaksakan anak usia dini belajar calistung.

Saya kutip dari Kompas, pernyataan seorang pakar pendidikan, sebagai berikut:
……
Kandidat PhD Jurusan Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Southwest University, China, Budy Sugandi, mengatakan, jenjang pembinaan anak usia dini (PAUD) dan sekolah dasar (SD) menjadi saat yang tepat bagi siswa untuk membangun fondasi karakternya. Guru, seyogianya tidak membebani siswa PAUD dengan pelajaran menulis, membaca, dan menghitung.
”Secara psikologis, dengan mengajak siswa bermain dan bersenang-senang, mereka akan menyadari bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan. Selanjutnya, mereka tidak akan merasa terpaksa datang ke sekolah,” ujarnya di Chongqing, China, saat dihubungi melalui telepon seluler dari Jakarta, Rabu (20/11/2019).
…..

Pernyataan yang diungkapkan Budy Sugandi di atas, sejalan dengan pernyataan Pak Nadiem Makarim. Sebagai ibu yang punya anak usia PAUD, saya berharap proses belajar mengajar di taman kanan-kanak benar-benar bisa menyenangkan untuk anak. Demikian juga nantinya di sekolah dasar, konsep bermain dan belajar dengan menyenangkan menjadi fokus utamanya. Salam perubahan, salam literasi (Paskalina Askalin)

Tanpa Gawai, Bisakah?

Saya pernah baca sebuah quote yang berbunyi kira-kira seperti ini

“TIDAK APA-APA ANAK MEMBUAT RUMAH BERANTAKAN, DARIPADA OTAK ANAK YANG BERANTAKAN KARENA KESERINGAN PEGANG GAWAI”

Saya yakin semua sepakat, gawai bukan mainan untuk anak-anak, sedini mungkin penggunaan gawai pada anak-anak harus dibatasi. Kita harus mengembalikan kebiasaan anak pada kebiasaan normalnya anak-anak, bermain dan bermain, walau menjadikan rumah berantakan. Namun, saya tak ingin panjang lebar cerita tentang negatifnya gawai. Sebagai orangtua, saya paham banget, bukan sesuatu yang mudah menjauhkan anak kita dari gawai. Ketika kita melarang penggunaan gawai, orang-orang di sekitar pergaulan anak kita begitu lekat dengan gawai. Continue reading “Tanpa Gawai, Bisakah?”