Kotor vs Cuci Tangan

Bagaimana kita akan mengatakan pada anak “Nak tanganmu kotor, ayo cuci tangan?’ Jika anak tidak tahu kotor itu apa.

Dulu ketika saya masih kecil, bermain tanah adalah hal yang paling menyenangkan. Dengan menggunakan media tanah, saya bisa menciptakan aneka macam permainan asyik dari tanah. Main masak-masakan, membuat kue mainan, membangun istana pasir, membuat gelas piring dari tanah, dan masih banyak lainnya. Mungkin Anda juga ingat, apa permainan favorit Anda saat masih kecil yang berkaitan dengan tanah?

Kenan bermain pasir campur air

Kita pernah mengalami menjadi anak kecil, sekarang kita menghadapi anak kecil juga yang ternyata suka sekali bermain dengan tanah atau pasir. Walaupun ada anak yang dilarang orangtuanya bermain tanah, anak tetaplah suka bermain pasir.

Kenan termasuk anak yang tidak suka memegang benda yang kotor atau basah, tapi kalau bermain tanah atau pasir, Kenan mau-mau saja. Kenan tidak menunjukkan rasa jijik dan takut kotor.

Bermain pasir atau tanah adalah mainan favorit anak-anak. Apa ada anak yang tidak suka main pasir? Ada. Anak yang sudah terlanjur didoktrin orangtuanya bahwa tanah itu kotor tidak boleh disentuh, tanah banyak kuman bla bla bla, jadinya anak menjadi fobia pada tanah. Mungkin anak seperti itu yang tidak suka main tanah.

Kenan bermain truk tanah

Saat anak kita bermain tanah atau pasir, ada pembelajaran yang bisa dipetik lho. Apa saja itu?

  • Mengajarkan cuci tangan yang benar

Setelah bermain tanah atau pasir, otomatis orangtua akan meminta anak untuk cuci tangan dengan benar. Oleh karena itu, orangtua bisa sekaligus mengajarkan pada anak tentang mencuci tangan.

Kenan mencuci tangan
  • Memberikan informasi tentang kuman dan bahayanya

Anak cerdas akan bertanya, kenapa harus mencuci tangan. Jawaban orangtua dapat sekaligus memberikan informasi kepada anak tentang kuman dan bahaya. Tidak perlu penjelasan yang mendetail, yang penting anak tahu jika di tanah ada kuman yang bisa membuat tubuh sakit. Cara untuk menghilangkan kuman itu dengan mencuci tangan dengan benar.

  • Melatih motorik dan kreativitas

Bermain tanah membuat anak menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Berdiri, duduk, berjongkok, menggenggam tanah, menyendok tanah, semua itu membuat motorik anak menjadi terlatih.

Playground in Home

Halo ayah, ibu, om, tante, pakdhe, budhe… Siapa yang sudah merasa mulai jenuh menghadapi aksi anak-anak di rumah? Banyak pasti ya.. termasuk saya dan suami, setiap hari emosi sudah sangat memuncak. Teriakan, ocehan, omelan, terus terdengar. Namun teriakan, ocehan, omelan kita seakan tidak didengar, anak masih saja tidak bisa diatur, membuat rumah seperti kapal pecah terus-menerus, hingga rumah disulap menjadi playground.

Saya dan suami, sadar betul, emosi dan amarah bukan solusi untuk membuat anak menurut. Ingat, saat ini sedang terjadi pandemi yang mengharuskan kita di rumah saja. Sepanjang waktu berada di rumah itu sangat membosankan. Orang dewasa berada di rumah terus, lama-lama juga bosan. Apalagi anak-anak, rasa bosannya pasti sudah sampai puncak. Tetapi anak-anak bingung mengekspresikan rasa bosannya. Yang terjadi akhirnya anak membuat aksi imajinasi di rumah.

Kenan, usianya 5 tahun 4 bulan saat ini, rasa bosan di rumah tentu sudah menghinggapi hati dan pikiran sejak beberapa hari ini. Hasilnya, semua barang-barang di rumah menjadi jalan untuknya berekspresi mengusir kebosanan. 

Omelan saya sudah sering menggema, sebenarnya saya juga sudah berusaha menahan diri, menurunkan suara, menurunkan emosi, tapi akhirnya kadang meledak juga karena Kenan tak juga mendengar. Barang-barang di rumah, seperti kursi, bantal, gelas, sandal, sepatu, lap, dan lainnya dijadikan mainannya. Jika tak mengganggu aktivitas rumah, saya masih bisa menahan diri dan menahan emosi, tapi kemudian kursi tak bisa diduduki, atau yang dilakukan membahayakan keamanannya, saya pun mengomel dan berusaha mencegah Kenan melanjutkan aksinya. 

Saya jadi ingat konsep pembelajaran Montessori yang ditulis oleh Vidya Dwina Paramita dalam buku Jatuh Hati pada Montessori. Konsep itu adalah “follow the child“. Dalam konsep ini orangtua atau guru membebaskan anak mengeksplorasi sesuai keinginannya namun bukan berarti membiarkan anak sebebas-bebasnya. Ada batas yang harus dipegang oleh orangtua atau guru, yaitu aspek keamanan serta norma sopan santun dan kebaikan.

Saya pun ketika melarang atau meminta Kenan berhenti bermain atau bereksplorasi adalah ketika keamanannya terganggu dan melanggar kesopanan.

Sudah dua hari ini (hari ini hari kedua), Kenan membuat playground-nya sendiri di rumah. Kursi-kursi, bantal, dan kasur menjadi perlengkapannya membuat playground-nya. Saya yakin sekali, dalam imajinasinya Kenan sedang membuat playground seperti yang pernah dimainkannya di mal-mal. 

Aksinya pun dimulai. Kenan berlari kemudian mulai meniti satu per satu kursi yang sudah disusunnya bak anak tangga. Apa yang terjadi dengan saya? Saya pun memintanya berhati-hati, pelan-pelan, jangan lari, ahhhhh sebenarnya itu perkataan sia-sia, Kenan pasti akan berlari, tidak akan bisa pelan-pelan. 

Akhirnya saya menyerah. Saya membiarkan Kenan beraksi dengan playground-nya. Saya memperhatikan saja dan memotretnya. Puji Tuhan, masih aman-aman saja, Kenan beraksi tanpa terluka atau kejedot kursi. 

Foto-foto ini saya jepret kemarin, 15 Mei 2020.

Playground in home ternyata amat menyenangkan buat Kenan. Hari ini saya biarkan dia membangun kembali playground-nya. Playground itu sebuah kreativitasnya, jika dilarang malah jadi amarah dan emosi. Anak-anak tetaplah anak-anak, dunianya adalah bermain, kapan pun dan di mana pun. Orangtua cukuplah mendukung anaknya berkreasi dan menjaga kreasinya aman dan tidak membahayakan.

Playground in home, baru satu aksi saja, masih banyak yang akan dilakukan Kenan di rumah. Saya nasihati diri saya untuk tetap sabar menghadapi aksi-aksi kreatif Kenan. Anak-anak perlu ditemani dan didukung. Selagi tak membahayakan dan mengganggu orang lain, saya dukung akan aksi Kenan. 

Di rumah saja, saat yang tepat untuk lebih mendekatkan anak dan orangtua, kakak dan adiknya, atau mengajak anak bermain sepuas-puasnya. 

Ayah, ibu, banyakin sabar saja ya.. tekan segala kebosanan dan ikat emosi dengan kencang sehingga tak meledak-ledak di mana-mana. Semoga pandemi segera berlalu… 

Bermain untuk Mengisi Waktu di Rumah

Anak usia 5 tahun mana mau diajak belajar terus, maunya pasti main-main dan main.

Seorang anak tetangga datang ke rumah hendak mengajak anak saya main. Dengan tegas saya katakan, “Maaf ya, Kenan tidak main.” Si anak ini memang berbeda dengan anak lain, sering keluar masuk rumah seluruh penghuni kompleks sehingga membuat penghuni kompleks enggan untuk membiarkan anak itu masuk. Kadang kala, saya membiarkan anak ini masuk. Namun, hari ini dan seterusnya hingga virus korona tak lagi terdengar saya tidak akan membebaskan orang, baik anak maupun siapa saja untuk keluar masuk rumah saya. Bukan sombong dan tak suka bertetangga, ini dilakukan demi keamanan keluaga saya dari terinfeksi COVID-19. Wabah belum berlalu gaes… tetap lakukan social distancing dan physical distancing.

Continue reading “Bermain untuk Mengisi Waktu di Rumah”

Lima Aktivitas Bermain Sambil Belajar yang Bisa Dilakukan Orangtua Bersama Anak Usia Dini Selama Liburan di Rumah

Anak usia dini yaitu anak-anak batita, balita, anak kelompok bermain, dan anak-anak sekolah taman kanan-kanak. Anak-anak ini memiliki energi yang luar biasa besar, berlari ke sana ke mari tanpa punya rasa lelah. Penghargaan sangat besar patut diberikan untuk ibu/bapak guru/pendamping yang mau menjadi guru mendampingi anak-anak usia dini yang begitu penuh energi.

Wabah COVID-19 yang belum menunjukkan tanda-tanda usai, membuat pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan kebijakan anak-anak usia sekolah harus belajar di rumah selama beberapa waktu.
Kelompok bermain, taman kanak-kanak, sekolah dasar hingga sekolah menengah atas diliburkan dari semua aktivitas di sekolah. Semua anak-anak harus libur dan belajar di rumah.

Bagi anak-anak kelompok bermain dan taman kanak-kanak, tidak bersekolah menyenangkan pada awalnya, tetapi kemudian  membosankan. Apalagi mereka tidak boleh keluar rumah.
Berikut ini lima aktivitas bermain sambil belajar yang bisa dilakukan orangtua bersama anak usia selama liburan.

Continue reading “Lima Aktivitas Bermain Sambil Belajar yang Bisa Dilakukan Orangtua Bersama Anak Usia Dini Selama Liburan di Rumah”

Tetap di Rumah, Temani Anak Belajar di Rumah

Wabah virus COVID-19 yang terus memakan korban membuat pemerintah membuat kebijakan terbaik untuk warganya. Salah satunya dengan meliburkan anak sekolah mulai PAUD hingga jenjang SMA. Libur berlangsung selama 14 hari mulai tanggal 16 s.d 28 Maret 2020. Bahkan, untuk wilayah DKI Jakarta, telah keluar surat edaran dari gubernur jika libur diperpanjang hingga 2 April 2020. Semua karena COVID-19.

Setiap daerah mempunyai kebijakan masing-masing sesuai dengan kondisi wabah yang terjadi. Saat ini DKI Jakarta pada posisi paling atas dari sisi jumlah orang yang positif terkena virus COVID-19. Tidak hanya anak sekolah yang diliburkan, kantor-kantor juga diimbau untuk meliburkan karyawannya selama 14 hari. Perniagaan pun diimbau untuk libur dari segala aktivitas. Khusus DKI Jakarta, transportasi publik seperti Transjakarta dan MRT pun membatasi jam beroperasi untuk mengurangi penularan virus COVID-19. Semua karena COVID-19.

Belajar di Rumah
Orangtua dan guru mempunyai peran paling besar untuk membuat anak mau “belajar di rumah”, selama libur karena wabah COVID-19.  Beruntunglah saat ini komunikasi guru dan orangtua dapat berjalan dengan mudah karena adanya kemajuan teknologi. Melalui grup Whatsapp guru dapat mengingatkan orangtua untuk memantau aktivitas anak-anaknya ketika di rumah hingga memastikan anak mengerjakan tugasnya. Guru secara daring dapat memantau siswanya saat mengerjakan tugas dan meminta siswa mengirimkan hasil tugas melalui email. Sungguh luar biasa zaman ini, serba mudah, serba cepat dan gampang, komunikasi dapat terjalin dengan tanpa kendala. Selama ada jaringan internet, komunikasi lancar.

Di lini masa tak kalah seru penuh dengan foto-foto anak-anak yang sedang belajar di rumah didampingi oleh orangtua mereka. Bagi anak sekolah, liburan kali ini liburan langka karena mereka harus tetap di rumah dan
Bagi anak-anak usia SD, SMP, dan SMA, orangtua hanya perlu memastikan anak-anak mereka mengerjakan tugas dan mengirimkan hasil tepat waktu.

Namun akan cukup sulit bagi orang tua yang memiliki anak usia pra sekolah dasar atau anak usia dini. Anak-anak ini lebih cenderung suka bermain belajar ketimbang belajar. Dalam kondisi dan situasi seperti saat ini orangtua yang mempunyai anak usia dini harus ekstra pendampingan pada anak. Anak usia dini cenderung cepat bosan, apalagi harus di rumah terus-menerus.

Kenan sedang mengerjakan lembar aktivitas dari sekolah

Sama seperti anak usia SD hingga SMA, anak-anak yang duduk di sekolah PAUD atau taman kanak-kanak, libur sekolah kali ini juga diberi tugas lembar aktivitas. Sang Guru juga secara terus-menerus memantau apa yang dikerjakan oleh anak-anak. Sementara orangtua, mengirimkan foto aktivitas mengerjakan tugas anak-anak melalui grup Whatsapp.

Anak saya Kenan (5 tahun), kelas TK A, sudah menyelesaikan lembar aktivitas yang diberikan gurunya untuk dikerjakan saat libur sekolah. Setelah semua lembar aktivitas selesai dikerjakan, aktivitas apa lagi yang bisa dilakukan Kenan di rumah?
Orangtua harus punya segudang ide untuk beraktivitas seru bersama anak usia dini di rumah. Selama wabah COVID-19 masih terus berkembang penyebarannya, orangtua sebisa mungkin harus mengajak anak tetap beraktivitas di dalam rumah.

Baca selanjutnya: Lima Aktivitas Bermain Sambil Belajar yang Bisa Dilakukan Orangtua Bersama Anak Usia Dini Selama Liburan di Rumah

Aktivitas Seru Mengasah Kecerdasan Anak Usia Dini (Bagian 1)

Dua kata yang senantiasa harus ada ketika mengajak anak usia dini belajar dan bermain adalah AKTIVITAS SERU. Aktivitas seru maksudnya aktivitas bermain yang mengasyikkan buat anak, disukai anak, dan menggembirakan hati anak.

Mengenal angka dan huruf dapat dikenalkan pada anak sejak usia masih sangat dini, sejak anak itu dilahirkan. Bahkan sejak masih dalam kandungan perkataan yang disebutkan ibunya menjadi memori yang melekat di otaknya.

Setiap anak itu unik, mempunyai ketertarikan pada mainan yang berbeda, hingga menyukai tontonan yang berbeda pula. Oleh karena itu, orangtua atau pendamping anak tidak bisa memaksakan satu metode belajar yang dianggap berhasil pada banyak sekali anak untuk bisa diterapkan pada anaknya. Hal ini perlu benar-benar disadari oleh orangtua sehingga tidak semena-mena memaksakan anak belajar dengan cara yang sama dengan cara anak lain.
Continue reading “Aktivitas Seru Mengasah Kecerdasan Anak Usia Dini (Bagian 1)”

Saya Marah Karena Lelah Membacakan Buku Sebelum Tidur

Suatu malam saya menggerutu (sedikit marah) pada si Kakak karena minta dibacakan buku lagi dan lagi dan lagi. Kondisi mata saya sudah lima watt dan si Adik yang di perut bergerak terus sehingga membuat saya tak nyaman.

“Kan udah dua buku, Kak. Sekarang tidur ya, sambil dengerin Paman Gery (Dongeng Nusantara Bertutur).” Hmmmm…. si Kakak tidak mau dan ngedumel minta dibacakan lagi. Akhirnya saya menyerah, “Ya udah ambil lagi 1 buku, yang bahasa Indonesia ya.” (Emak ga pinter bahasa Inggris, harus kerja keras membaca ulang cerita bahasa Inggris jadi bahasa Indonesia, hehehehe)

Bunda membacakan buku untuk Kenan

Si Kakak mengambil 1 buku untuk dibacakan. Satu buku isi lima cerita. Saya sebenarnya yakin, baru satu cerita si Kakak pasti sudah tertidur dan itu benar terjadi. Melihat si Kakak sudah tertidur, hati saya marah pada diri sendiri, kenapa saya harus menggerutu, marah, karena si Kakak tidak meminta nonton video atau main game di gawai. Harusnya saya merasa senang karena si Kakak sudah punya kebiasaan  baik, mau dibacakan buku sebelum tidur.  Apa jadinya kalau si Kakak malah meminta nge-game di gawai sebelum tidur. Ini justru akan jadi malapetaka. Kini saya ingin lebih banyak sabar dan kuat menahan kantuk karena permintaan membacakan buku sebelum tidur.

Kebiasaan membacakan buku sebelum tidur adalah kebiasaan baik yang harus terus dijaga. Ketika anak sudah terbiasa dibacakan buku sebelum tidur, kadangkala orangtua yang pada akhirnya tidak bisa memenuhi dengan alasan lelah sudah kerja seharian atau mengantuk. Seperti yang sering saya alami, menolak membacakan buku karena kelelahan sangat. Walaupun tidak bekerja di kantor, pekerjaan rumah tangga dan keinginan menyelesaikan banyak buku yang tulisan, membuat waktu begitu cepat berlalu, hingga sampai malam hari dalam kelelahan. 

Uti membacakan buku untuk Kenan

Ketika saya benar-benar merasa lelah, kadangkala si Kakak mau dibacakan buku oleh Uti-nya, tetapi lebih banyak menolak karena ingin selalu dibacakan oleh saya, bundanya. Kadangkala terbantu oleh Paman Gery dan kawan-kawan yang mendongeng di Nusantara Bertutur bisa menggantikan saya membaca buku.

Membacakan buku sebelum tidur atau kapan saja sangat bermanfaat bagi anak usia dini. Saya pernah menuliskan beberapa tulisan tentang manfaat membaca buku untuk anak usia dini. Baca Membacakan Buku itu Penting Bagi Anak Usia Dini

Baca juga: Ibu di Rumah: Membacakan Buku untuk Anak (Batita, Balita)