Lima Aktivitas yang Dapat Mengatasi Keterlambatan Bicara pada Anak

Satu hal yang saya patut syukuri sebagai catatan tahun 2022 adalah anak kedua saya akhirnya bisa berbicara. Di usianya yang kedua tahun di bulan Maret 2022, orang mengatakan si Adek tidak bisa bicara. Tapi kini, di penghujung tahun 2022, si Adek sudah bisa berbicara lumayan lancar. Setiap hari selalu ada perkembangan.

Semuanya terjadi tanpa perlu pergi ke dokter dan tanpa perlu ikut kelas terapi bicara. Apa yang saya lakukan untuk membantu si Adek?

Sebagai rasa syukur saya, saya bagikan apa yang saya lakukan melalui tulisan pertama tahun 2023.

Setelah menyadari ada sedikit ketidakberesan pada kemampuan berbicara si Adek, saya membaca banyak artikel tentang keterlambatan bicara dan cara mengatasinya. Dari beragam informasi yang saya baca, beragam aktivitas sudah saya lakukan pada si Adek dapat merangsangnya lancar berbicara.
Aktivitas itu di antaranya:

Dibacakan buku sebelum tidur.
  1. Dibacakan Buku Setiap Hari
    Setiap malam atau siang, sebelum tidur, saya membacakan buku untuk si Adek. Karena sering dibacakan buku, si Adek jadi ketagihan dibacakan buku. Saat menjelang tidur, si Adek yang sudah memilih buku yang ingin dibacakan. Semakin banyak buku yang dibaca semakin banyak kosakata yang didengarnya.
  2. Menyanyikan lagu-lagu anak, saat menjelang tidur.
    Lagu yang didengarkan terus-menerus menambah bank kosa kata anak. Walaupun si Adek belum bisa mengutarakan kata yang didengarnya, bukanlah masalah. Saya yakin jika saatnya tiba, si Adek bisa menyanyi sendiri. Saat itu pun akhirnya tiba, sekarang si Adek sudah bisa mengikuti lagu yang didengarnya. Beberapa hari ini lagu Tayo si Bus Kecil menjadi lagu kesukaan si Adek. Sekitar tiga bulan belakangan ini, si Adek sudah bisa mengikuti lagu anak “Cicak” dan “Balonku”.
  3. Mendampingi anak saat asyik nonton Gawai.
    Seketat apapun orangtua melarang anak memakai gawai, tetap saja akan kalah. Orangtua melarang, tapi lingkungan sekitar membiarkan. Pada akhirnya yang bisa dilakukan adalah mendampingi anak saat dia menonton video YouTube. Si Adek pun suka menonton video di YouTube. Yang akhirnya saya lakukan adalah memanfaatkan apa yang ditonton untuk menambah pengetahuan si Adek. Melalui video kartun anak, saya ajak si Adek menyebutkan warna-warna mobil, menyebutkan jenis mobil, dan apapun yang bisa dikomunikasikan pada si Adek. Melalui aktivitas itu si Adek kini sudah mengetahui jenis warna dan jenis mobil, serta pengetahuan lainnya. Si Adek sudah bisa menyebut nama warna dengan benar.
  4. Selalu Mengajak Anak Berbicara.
    Di mana pun dan kapan pun, selalu ajak anak berbicara seakan dia bisa berbicara. Misalnya, saat mandi, secara berulang-ulang tekankan kata MANDI. “Adek sekarang sedang apa ya? Man-di. Adek MANDI sama Mama. Saat MANDI jangan lupa gosok GIGI. Adek sudah gosok GIGI belum?” Itu selalu saya lakukan pada si Adek hingga dia bisa mengucapkan kata mandi. Saat saya di dapur, saya ajak bicara tentang nama sayuran, bumbu, dan buah.
  5. Bermain dengan Anak Seusianya.
    Saat anak bermain dengan anak-anak seusianya, anak mendengar banyak kata dari ucapan temannya. Saya mengamati langsung saat si Adek bermain dengan anak tetangga, dia mencoba untuk meniru kata-kata yang didengar. Tentunya hal itu membantu melancarkan bicaranya. Tapi, perlu diperhatikan kata-kata apa yang ditiru oleh anak. Karena tidak semua yang didengarnya “kata baik”.

Lima hal yang

Baca juga: Catatan Ibu di Rumah: Anakku Sudah Bisa Bicara Lancar

Catatan Ibu di Rumah: Anakku Sudah Bisa Bicara Lancar

#catatanakhirtahun2022 #ibudirumah #paskalinaaskalin

Bulan Maret 2022, si Adek berusia dua tahun. Di usianya yang kedua giginya sudah tumbuh dengan sempurna. Berat badan sesuai dengan usianya. Tapi, bicaranya belum lancar. Si adek bisa memanggil “ayah”, tapi semua orang dipanggil ayah. Apa yang terjadi?

Sebagai Ibu tidak rela rasanya ketika anak disebut tidak bisa bicara. Saya selalu meralat omongan siapa pun yang bilang kalau si Adek tidak bisa bicara lancar. Dengan tegas pasti saya bilang, “Adek bukan TIDAK BISA bicara, tapi BELUM bisa.

Jujur, sebenarnya hati saya bergetar, bertanya-tanya, ada apa dengan si Adek. Saya baca-baca artikel tentang speech delay dan bagaimana mengatasinya. Saya sempat mengutarakan pada si Ayah, apakah perlu konsultasi ke dokter di klinik tumbuh kembang anak?

Waktu terus berjalan, wacana untuk pergi ke dokter saya lupakan. Karena kesulitan mencari waktu untuk pergi ke dokter, saya yakin, perlahan tapi pasti, si Adek akan bisa bicara lancar.
Puji Tuhan, saya sungguh  bersyukur, keyakinan saya benar, si Adek kini sudah bisa berbicara. Memang belum lancar berbicara, tetapi sudah bisa mengungkapkan apa yang dilakukannya. Misalnya kemarin, si Adek menghabiskan kopi milik saya. Si Adek berkata, “Mamah, kopi mamah habis.”

Si Adek sudah bisa  bilang, terima kasih Mamah, terima kasih Ayah, tolong isi botolnya, dan sebagainya. Saya bersyukur untuk setiap perkembangan kemampuan bicara yang terjadi pada si Adek.

Setiap saat, setiap detik menit jam, saya bersama si Adek terus-menerus. Dalam hati dan pikiran saya mencatat banyak kata yang akhirnya terucap dari bibir si Adek. Saya sering menangis menatap si Adek saat tidur. Saya sering menangis haru dalam hati, karena akhirnya bisa merangkai kalimat. Puji Tuhan, saya sangat bersyukur karena tak perlu ada dokter atau terapis untuk membantu si Adek berbicara lancar.

Si Adek menyukai buku dan suka mewarnai.

Tahun 2023 akan segera datang, saya harus terus memberikan rangsangan beragam aktivitas buat si Adek. Sehingga bicaranya menjadi lebih lancar lagi. Terima kasih Tuhan atas semua perkembangan baik pada tumbuh kembang si Adek.

Baca juga: Lima Aktivitas yang Mengatasi Keterlambatan Bicara