Kata buku Montessori Play and Learn:  Bermain itu Sangat Penting

Anak-anak saya, Kenan dan Krisan, bermain dengan ayah, di akhir pekan.

Untuk anak, bermain adalah aktivitas terpilih yang menyenangkan, sukarela, berguna, dan spontan. Sering juga bersifat kreatif, melibatkan diri dalam memecahkan masalah, mempelajari keterampilan sosial, bahasa dan fisik yang baru. Bermain sangat penting untuk anak-anak karena akan membantunya untuk belajar gagasan baru menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Ini bisa digunakan dalam beradaptasi secara sosial, mengatasi masalah emosional, terutama dalam permainan imajinatif seperti bermain dengan boneka-boneka yang berpura-pura menjadi ayah dan ibu. (hal 27-28, buku Montessori Play and Learn)

=========================

Sebagai orang tua dari dua anak usia dini saya setuju dan sepakat bahwa bermain itu sangat penting. Karena melalui bermain perkembangan kecerdasan dan motorik anak. Oleh karena itu, saya membebaskan anak-anak saya untuk bermain apapun, asalkan aktivitas permainan mereka tidak membahayakan dan tetap dalam pengawasan.

Continue reading “Kata buku Montessori Play and Learn:  Bermain itu Sangat Penting”

Secuil Kontribusi untuk Anak Negeri

Pandemi belum berakhir. Ah, rasanya saya mulai bosan untuk memulai tulisan dengan kalimat “Pandemi belum berakhir.” Tapi faktanya memang demikian. Pandemi memang belum berakhir, anak saya masih sekolah daring, walau kemarin pihak sekolah melakukan uji coba PTMT (Pembelajaran Tatap Muka Terbatas) Anak saya tidak ikut dalam PTMT itu. Bagi saya, meskipun protokol kesehatan diatur dan diterapkan dengan ketat oleh sekolah, anak usia 6-7 tahun tetap saja anak-anak, masih suka semaunya sendiri, lepas masker, pegang benda sana-sini, dan rentan tidak menjaga jarak aman.

Serba serbi sekolah daring.

Melihat lingkungan sekitar saya, pandemi seakan dianggap hampir berakhir. Apalagi bagi mereka yang sudah vaksinasi, pergi keluar menjadi biasa saja, cukup pakai masker dan lakukan protokol kesehatan. Sudah tidak ada lagi “keparnoan” tertular Covid-19.

Saya pribadi, masih setia untuk tetap di rumah saja. Pergi ke luar rumah jika benar-benar diperlukan. Masih banyak aktivitas yang bisa dilakukan dari rumah, baik itu aktivitas untuk saya sendiri, maupun aktivitas yang dilakukan dengan anak.

Dalam kondisi yang masih serba terbatas ini, walau hanya dari rumah, saya tetap ingin menorehkan sesuatu yang bermanfaat untuk anak-anak Indonesia. Karena passion saya adalah menulis buku anak, itulah yang saya lakukan saat ini.

Buku anak yang saya tulis berbentuk buku aktivitas untuk anak usia 5-6 tahun setingkat TK B. Selain itu, beberapa buku yang saya tulis sedang dalam proses terbit di penerbit.
Bagi saya, bisa berkontribusi dalam perkembangan anak usia dini adalah sebuah kebanggaan. Apa yang saya lakukan hanya sekecil debu, tetapi saya percaya bahwa buku adalah sarana penting dalam proses belajar anak usia dini. Tanpa buku proses pendidikan di sekolah tidak bisa berjalan dengan lancar. Buku juga bisa menemani anak dan orangtua belajar di rumah.

Tiga tahun berturut-turut, 2018, 2019, dan 2020, ada tiga buku aktivitas anak yang terbit di salah satu penerbit Kompas Gramedia. Buku-buku itu diperuntukkan bagi anak usia dini. Ketiga buku itu adalah 100 Soal Aku Siap Masuk SD (2018), Super Melejitkan Kecerdasan Anak PAUD (2019), dan Aktivitas 10 in 1 Anak PAUD Cerdas (2020). Untuk saat ini, hanya buku Aktivitas 10 in 1 Anak PAUD Cerdas yang masih bisa didapatkan di toko buku online maupun offline.

Sementara itu, buku aktivitas TK yang sedang saya tulis saat ini saya beri judul Seri Anak Hebat TK B. Seri ini berjumlah 8 buku. Saat ini naskah buku sedang saya tulis dan saya dibantu satu orang ilustrator, serta satu orang desainer kover plus isi.
Buku-buku ini nantinya akan digunakan di luar Pulau Jawa dan mungkin Pulau Jawa juga. Besar harapan saya, buku yang saya tulis berdampak besar untuk merangsang kecerdasan anak usia dini.

Kecerdasan anak usia dini tidak bisa berkembang dan bertumbuh begitu saja, perlu adanya rangsangan positif dari lingkungan sekitar. Oleh karena itu, guru, orangtua, dan sarana termasuk buku di dalamnya, adalah bagian yang saling berkaitan dan saling mendukung untuk tumbuh kembang anak.

Sebagai ibu di rumah yang punya dua bola (bocah lanang), waktu saya untuk berbagi banyak hal lewat tulisan sangat terbatas. Tapi meski dalam sedikitnya waktu itu, saya berharap karya-karya saya yang diperuntukkan bagi anak usia dini bisa memberi manfaat besar untuk perkembangan anak usia dini. Semoga, amin.

Tulisan ini sedang saya ikut sertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh APLIKASI SUPER.

Bebaskan Mereka untuk Bermain

Suatu sore, si Kakak (7 tahun), usai mandi sore mempunyai ide membuat zebra cross.  Entah dari mana ide itu didapatkannya.
Zebra cross dibuatnya di lantai dengan menggunakan lakban cokelat. “Ya, ampun, Gusti Allah,” sambatku dalam hati. Lakban cokelat ditempelkan di lantai. Pasti nanti kalau dilepas akan meninggalkan bekas yang tidak keruan.

Ah, saya menarik napas panjang. Mencoba tenang tidak beramarah (walau sebenarnya pengen marah).
Hanya sekadar lakban menempel di lantai apalah artinya, masih bisa dibersihkan. Tetapi kreativitas yang dibuat si Kakak adalah aset berharga.
Setelah zebra cross terbuat, si Kakak memakai baju polisi yang sebenarnya sudah kekecilan. Saya biarkan, saya bebaskan si Kakak beraksi sesuai idenya. Ide si Kakak masih berlanjut dengan membuat lampu merah.
Diambilnya kertas origami warna merah, hijau, dan kuning, lalu dibuatnya lampu lalu lintas. Jadilah si Kakak bermain peran menjadi polisi yang membantu menyeberang di zebra cross.

Continue reading “Bebaskan Mereka untuk Bermain”

Semarak Lomba Agustusan Daring di Kompleksku

Lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba panjat pinang, dan masih banyak lomba lainnya, acara  lomba-lomba itu yang terbayang di benak saya ketika bulan Agustus tiba. Tapi, pandemi menghapus semua bayangan itu tak bersisa.

Sebenarnya saya ingin mengenalkan betapa semaraknya lomba agustusan dalam rangka memperingati kemerdekaan RI, tetapi saya menahan diri. Kenapa? Anak saya, Kenan, rasa ingin tahunya tinggi, apa yang saya ceritakan pasti langsung ingin dia lakukan.

Tahun 2021 ini, tahun kedua, lomba-lomba agustusan tidak dilakukan. Siapa yang berani membuat kerumuman di masa pademi ini? Pasti tidak ada. Semua kegiatan dilakukan secara daring.

Ceritanya, Pak Suami, tahun ini jadi pengurus di kompleks perumahan tempat kami tinggal. Muncullah ide untuk mengadakan lomba agustusan secara daring. Ide lomba agustusan itu disetujui pengurus. Jadilah, Pak Suami mengurus segala sesuatunya terkait lomba agustusan secara daring, mulai dari pengumuman lomba, pelaksanaan lomba, penilaian lomba, hingga pembagian hadiah lomba.

“Semuanya kita yang urus?” tanya saya Pada Pak Suami.
“Ya, pasti. Siapa lagi? Demi menyemarakkan kemerdekaan RI tak apalah kita korbankan sedikit waktu.  Nanti tolong bantu belikan hadiah.”
Mendengar perkataan Pak Suami, saya terdiam. Mungkin ini cara kami untuk memaknai kemerdekaan RI.

Continue reading “Semarak Lomba Agustusan Daring di Kompleksku”