Ono-ono Wae: Dokter Menyulam Kaki Saya Hingga 6 Jahitan

Inilah namanya kecelakaan, sebuah kejadian  yang tiba-tiba terjadi. Tetapi bagi saya tetap harus bersyukur karena anak saya baik-baik saja.

Jadi begini ceritanya. Siang hari yang terik, saya menyuapi anak kedua saya, Adek Krisan. Karena hari ini, si Adek agak demam sehingga jadi manja-manja, jadinya sambil makan, si Adek naik sepeda keliling teras.
Si Adek baru beberapa hari  bisa gowes sendiri sepeda roda empatnya. Saat naik sepeda pun, terutama saat belok masih belum seimbang sehingga kadang bisa oleng, lalu jatuh.

Adek Krisan bersemangat gowes sendiri sepedanya, si Kakak semangat mengarahkan.

Siang ini terjadi, saya sambil duduk fokus lihat si Adek naik sepeda menghampiri saya untuk disuapin. Nah, pas di depan saya sepeda berbelok dan olenglah sepedanya, lalu terguling. Si Adek jatuh terduduk, Puji Tuhan tidak tertindih sepeda. Tetapi, ternyata ban depan sepeda dekat kaki saya, terdapat besi baja dan kawat tali rem, pas sekali menidih dan menusuk di kaki.

Continue reading “Ono-ono Wae: Dokter Menyulam Kaki Saya Hingga 6 Jahitan”

Aktivitas Seru Belajar Warna dengan Kertas Origami

#duniaanak #ibudirumah #aktivitasseru #aktivitasanak #aktivitasanakdirumah #belajardirumah

Mengajak anak bermain dan belajar warna dapat dilakukan di rumah dengan memanfaatkan barang bekas atau benda yang ada di rumah. Dengan sedikit ide, kita bisa menciptakan satu kegiatan yang menarik untuk anak, terutama anak usia di bawah tiga tahun (batita).

Kakak Kenan dan Adek Krisan bersama boneka boba yang viral itu.

Saya ingin berbagi ide saat mengajak anak saya, Krisan, 2,3 tahun, bermain sambil belajar warna dengan kertas origami. Ide muncul saat beberapa waktu lalu si Kakak (7,5 thn), membuat prakarya dengan menggunakan kertas origami. Si Adek  ikut-ikutan juga ingin melakukan kegiatan yang sama dengan kakaknya. Jadilah ide aktivitas belajar warna dengan kertas origami.

Bahan dan alat yang dibutuhkan adalah kertas origami aneka warna, lakban kertas, dan gunting. Ukuran kertas origami sesuai dengan yang ada di rumah ukuran besar atau kecil tidak masalah.

Kemudian kertas origami dilubangi bentuk lingkaran bagian tengahnya dengan rapi. Lingkaran hasil guntingan jangan dibuang, karena akan digunakan untuk beraktivitas. Bentuk lubang di tengah kertas origami bisa berbentuk lingkaran, persegi, segitiga, atau bentuk lainnya.

Persiapan aktivitas, menggunting kertas origami dan memasang lakban kertas.

Setelah kertas origami dilubangi, beri double tip, lem, atau lakban kertas. Saya pilih lakban kertas karena tidak menyebabkan bekas noda/lem di dinding. Saya sangat menyarankan menggunakan lakban kertas.

Bagian kertas origami yang berlubang ditempel di dinding, di pintu, di papan whiteboard, atau lainnya sesuai yang ada. Bagian potongannya disiapkan untuk anak beraktivitas.

Potongan yang berbentuk lingkaran juga diberi lakban kertas. Lingkaran kertas yang sudah diberi lakban kertas bisa ditempelkan di dekat lubang kertas atau dipegang.

Aktivitas seru pun dimulai. Anak saya, si Adek Krisan, begitu antusias melakukan aktivitas ini. Tanpa instruksi panjag-panjang, Krisan langsung bisa menempel lingkaran pada lubang kertas sesuai warnanya.

Inti aktivitas ini adalah memasangkan warna dengan menempelkan lingkaran pada lubang sesuai warna. Aktivitas ini untuk anak usia 2-3 tahun.

Pada saat praktiknya, tidak selalu sesuai rencana. Setiap anak unik dan punya imajinasi yang berbeda-beda. Saat Krisan diajak menempelkan lingkaran warna, dia begitu bersemangat dan bisa menyelesaikan aktivitas hingga selesai.

Namun, tidak sesempurna kelihatannya. Krisan punya imajinasi lain, dia menggoda saya dengan menempel lingkaran pada warna yang tidak sesuai. Saat melakukannya, Krisan melihat ke arah saya. Anak-anak juga bisa jahil 😅.

Aktivitas seru menempel kertas origami ini tidak sekadar mengasah pengetahuan warna. Anak juga terasah motoriknya, baik itu motorik kasar maupun motorik halus.

Hari Terakhir Sekolah Kelas Satu, Hari Terakhir Sekolah Online (Daring)

Sebuah catatan yang sayang untuk disimpan sendiri. Sekolah online mungkin tidak akan terjadi lagi kelak, karena semua sudah kembali seperti semula.

Tidak terasa si Kakak sudah menjalani kelas satu secara online (PJJ, pembelajaran jarak jauh) selama setahun penuh. Hari ini adalah hari terakhir Kakak masuk kelas Zoom. Hari terakhir di kelas satu ditutup dengan kegiatan misa akhir tahun dan perpisahan dengan wali kelas.

Kakak sedang mengikuti misa akhir tahun ajaran.

Usai misa, dilanjutkan dengan acara perpisahan dengan wali kelas. Diawali dengan makan bekal bersama via Zoom. Lalu, wali kelas Kakak, Miss Laras mengucapkan kalimat perpisahan sehingga membuat suasana jadi haru.

Ini bagian terakhir video puisi Kakak untuk Miss Laras, wali kelasnya.

Lalu, Kakak share video yang dibuatnya semalam. Walaupun secara teknis masalah, akhirnya bisa share di Kelas Zoom.


Ini videonya. Sangat sederhana, apa adanya, dibuat semalam jam 10 sebelum si Kakak tidur.

Wali kelas Kakak menangis haru usai melihat video Kakak.

Selama satu minggu ini, tidak ada pelajaran, tetapi diisi kegiatan rekoleksi, classmeeting. Saat kegiatan rekoleksi, Kakak diminta membuat POHON JANJI. Isi pohon janji adalah lima janji Kakak untuk melakukan lima hal mandiri. Ini foto Pohon Janji yang dibuat Kakak.

Saat kegiatan classmeeting, ada kegiatan art and carf, yaitu kegiatan membuat karya seni dari bahan barang bekas. Bahan utama yang digunakan adalah botol bekas air mineral ukuran 1,5 liter yang dibentuk dan dihias menjadi pot bunga.

Ini foto  bersama hasil karyanya, pot bunga.

Dalam acara classmeeting, Kakak juga mendapat tugas menulis SURAT KECIL UNTUK GURU. Si Kakak menulis surat untuk Miss Laras, wali kelasnya. Ini suratnya.

Setahun tak terasa, bulan depan si Kakak sudah duduk di kelas dua. Tidak lagi pembelajaran jarak jauh, tetapi masuk sekolah normal seperti biasa. Semoga semesta mendukung, Indonesia kembali sehat, sehingga anak-anak bisa sekolah secara “sehat jiwa dan raga”, amin.

Waktu Bersama Keluarga: Bermain dan Makan Bersama

Dunia kini berbeda dengan dunia masa kecil saya dulu. Dulu, ketika saya masih kecil begitu banyak waktu yang dihabiskan dengan keluarga. Tidak ada batasan, tidak ada halangan, banyak hal dilakukan bersama keluarga.

Namun, kini berbeda, waktu begitu amat berharga. Sulit sekali menciptakan waktu untuk keluarga. Hal ini terjadi bukan karena orangtua yang sibuk bekerja, melainkan karena sebuah benda kecil yang disebut smartphone. Betul tidak?

Continue reading “Waktu Bersama Keluarga: Bermain dan Makan Bersama”