Antara Target Pekerjaan dan Menemani Anak Lanang

SETIAP HARI MEMBUAT TARGET PEKERJAAN, TAPI ANAK LANANG TETAP NOMOR SATU

Setiap malam, sebelum tidur atau pagi hari  sebelum berjibaku pagi, saya menulis target pekerjaan yang akan dikerjakan hari ini. Jika saya tak buat target, semua pekerjaan pasti terbengkalai, kehilangan arah, dan jadilah kekacauan yang tak kasat mata. JADI TERPENUHI ATAU TIDAK RENCANA/TARGET TETAP HARUS DITULIS.

Kalau tidak, akan tergerus oleh pekerjaan domestik yang tidak ada hentinya DAN ANAK LANANG YANG MENARIK TANGAN SAYA MINTA DITEMANI BERMAIN.

Continue reading “Antara Target Pekerjaan dan Menemani Anak Lanang”

Menulis Buku Aktivitas Anak Sambil “Jumpalitan” di Rumah

Penulisan sebuah buku, mulai dari ide hingga akhirnya menjadi buku, sangatlah panjang. Tidak ada proses instan untuk sebuah buku sesungguhnya, apa pun bukunya.

Beberapa bulan terakhir ini saya berjibaku dengan penulisan buku aktivitas anak. Kenapa tertarik menulis buku aktivitas anak? Karena berpeluang besar untuk DITERIMA penerbit, bisa menghasilkan uang, dan karena saya SUKA menulisnya.

Bagaimana proses awal menulis buku aktivitas anak?
Sama seperti menulis buku pada umumnya, proses awal dimulai dengan menemukan ide, mencari ide, atau mendapatkan “mandat ide”. Saya sebut “mandat ide” karena buku dipesan oleh penerbit sehingga ide buku sudah ada, dan saya sebagai menulis langsung bisa memulai meramu ide menjadi tulisan.

Setiap penulis punya cara masing-masing dalam “menangkap ide” untuk menulis. Bagi saya, sesuai pengalaman, ide menulis buku aktivitas bisa muncul dari penerbit (Editor). Sebagai contoh buku 100 Soal Aku Siap Masuk SD yang diterbitkan oleh Penerbit Elex Media Komputindo tahun 2018.

Ide buku ditawarkan pada sebuah pertemuan santai penulis buku anak dengan tim redaksi buku anak dari Penerbit Elex Media Komputindo. Ide buku saya sambut dengan baik dan saya eksekusi menjadi sebuah naskah.
Berapa lama proses ide sampai menjadi naskah dan diterbitkan? Lama sekali🤔 (akan ada bahasan khusus tentang berapa lama proses ide sampai naskah terbit).

Bagaimana proses penulisan buku aktivitas?
Penulisan sebuah buku, mulai dari ide hingga akhirnya menjadi buku, sangatlah panjang. Tidak ada proses instan untuk sebuah buku sesungguhnya, apa pun bukunya.
Karena yang saat ini saya tangani buku aktivitas TK, penjelasan saya cenderung lebih dekat pada proses buku penulisan buku aktivitas.
Jika dijabarkan tahapannya, proses berikut ini yang saya lewati ketika menulis sebuah buku aktivitas.

(1) Ide
Pencarian dan penemuan ide

👇
(2) Membeli buku referensi²
Sebelum mengeksekusi ide menjadi outline, ada baiknya membeli dan membaca buku yang berkaitan sebagai referensi.

👇
(3) Mempelajari kurikulum
Jika yang ditulis adalah buku aktivitas untuk sekolah (paket TK/PAUD), harus mempelajari kurikulum.

👇
(3) Membuat outline per halaman
Biasanya, outline saya tulis tangan di kertas. Mengapa? Karena outline saya tulis sambil “jumpalitan” sama dua bola. Menulis outline di kertas lebih fleksibel ketika dibarengi dengan sekolah daring si Kakak. Atau ketika dibarengi dengan menyuapi si Adek.

👇
(4) Mulai menulis
Dengan panduan outline, saya mulai menulis naskah buku aktivitas. Ada hal berbeda antara menulis buku aktivitas dengan menulis buku cerita. Apa perbedaannya? Akan dibahas pada tulisan selanjutnya, sabar ya☺️

Menulis sambil “jumpalitan”
Menulis sambil “jumpalitan” di rumah bersama dua bola (bocah lanang) amat sangat saya rasakan sejak pertengahan tahun 2021. Kenapa saya sebut “jumpalitan”? Karena sambil menulis, saya harus berjibaku dengan pekerjaan domestik selaligus mengomandani dua bola bermain.
Walaupun dengan tertatih sambil jumpalitan, akhirnya buku aktivitas TK yang saya kerjakan bersama Tim Solusi Editing Buku hampir mendekati rampung.

Saat sedang menulis outline, si Adek akan bersemangat mengambil alih alat tulis yang saya gunakan. Tidak mungkin saya menolaknya. Pensil, bolpoin atau spidol pasti akan langsung berpindah ke tangannya. Di sini asyiknya “jumpalitan” menulis bersama dua bola di rumah.

Saya tidak tahu, apakah ibu-ibu yang berprofesi sebagai ibu penulis, mengalami hal yang sama, seperti saya? Jawaban bisa YA atau TIDAK. Yang pasti, saat ini saya menikmati hari-hari “jumpalitan” bersama kedua bola di sela-sela kesibukan menulis.

Akhirnya bisa membagikan tulisan ini. Jika bermanfaat, silakan diSHARE dan dapatnya bingkisan menarik. Caranya: share satu tulisan dari website ini di FB, lalu tag n mention Paskalina Askalin.

Saya (Tak) Produktif Menulis

Melihat karya baru teman-teman penulis yang ada di sosmed, rasanya saya iri sekali. Betapa produktifnya mereka, kemana karya-karya saya?

Soal produktivitas menulis, tiga tahun terakhir ini saya merasa semakin kehilangan waktu untuk menulis. Dengan kata lain SAYA TAK PRODUKTIF MENULIS.

Ya, memang benar, saya tak produktif menulis. LALU, apakah saya benar-benar TIDAK menulis? Tentu tidak, saya tetap menulis. Saya menulis untuk diri saya sendiri dan saya juga sesekali menulis untuk di-share pada orang lain melalui website, buku, cerita, dan artikel.

Apa yang bisa saya lakukan dan dapatkan dari menulis?

Continue reading “Saya (Tak) Produktif Menulis”

Jungkir Balik Menjadi Momwriter, Tetapi Asyik

Menjadi ibu yang punya profesi sampingan penulis itu tidak mudah, harus pintar-pintar menyempatkan waktu untuk menulis. Apalagi jika sudah ada target yang ingin dicapai.

Belum lama ini ada peluang sebuah sayembara penulisan buku anak dengan tenggat waktu yang cukup mepet, 22 Februari 2019. Jika hanya tulisan, bisa saya kerjakan sendiri. Tetapi buku yang dilombakan harus menyertakan gambar ilustrasi, karena ini buku anak.

Saya pun mulai menghitung hari sejak saya mengetahui informasi lomba tersebut. Ilustrator paling tidak membutuhkan waktu 1 bulan untuk membuat gambar yang mendukung cerita. Otak saya mulai terus bekerja mencari ide untuk lomba ini.

Ide masih bergentayangan saja di sekitar kepala saya. Belum mendapatkan ide yang tepat rasanya. Namun, waktu terus berjalan, saya tidak bekerja sendiri nantinya, ada ilustrator yang perlu waktu banyak untuk menyelesaikan gambar.
Continue reading “Jungkir Balik Menjadi Momwriter, Tetapi Asyik”