Sebuah Catatan: Perjalanan Menuju Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Gerakan Literasi Nasional 2017

foto bersama
Berfoto bersama penulis buku terbilih, panitian dan pejabat berwenang dari  Badan Bahasa.

Menjadi bagian dari Gerakan Literasi Nasional (GLN) itu membanggakan buat saya. Seluruh proses yang berliku saya nikmati dengan penuh bahagia. GLN ini memperkuat alasan saya untuk kembali menjelajah rimba literasi. Ketika waktu menulis sudah mengejar saya, saya putuskan tak ada lagi title karyawan tersemat di dada saya. Saya penulis maka saya akan menjalani pilihan saya dengan bahagia.

Saya lupa, tanggal berapa saya mendapat kabar tentang sayembara penulisan bahan bacaan ini. Yang pasti, setelah itu pikiran saya tertuju pada tema buku yang mau saya tulis.

Saya akhirnya putuskan untuk mengambil tema kuliner. Dengan berbekal hasil foto dari jepretan kamera sendiri, saya menulis buku tentang jajanan tradisional. Satu bulan, kemudian waktu diperpanjang lagi, masih terasa kurang, di detik-detik terakhir akhirnya harus berjuang  mati-matian menyelesaikan dua naskah buku.

Pada  20 April 2017, saya menuju ke Kantor Badan Bahasa untuk menyerahkan dummy buku saya. (Terbayang 2 hari sebelumnya, begadang tanpa tidur hanya ditemani kopi, demi mencapai deadline.) Tanggal 21 April 2017 saya susulkan buku kedua saya untuk ikut dalam sayembara. Selanjutnya berserah pada Tuhan.

Jawaban Tuhan datang 17 Mei 2017, ada judul buku saya didaftar buku terpilih, Puji Tuhan! Tetapi proses masih berlanjut. Menurut kabar-kabar yang beredar, hadiah akan diberikan September. Yahhhh mau bagaimana lagi, aturan-aturan panitia tidak bisa dilanggar.

Pada 26 Mei 2017, ada undangan dari Badan Bahasa. Isinya, mengundang penulis buku yang terpilih untuk hadir pada acara Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Gerakan Literasi Nasional 2017 yang diselenggarakan 6 – 8 Juni 2017 di LPMP DKI Jakarta.

MENGATAK
Menulis dan mengatak

Setelah undangan muncul dipos-el, terbentuklah grup wa Penulis GLN 2017. Ada banyak polemik yang terjadi dalam percakapan di grup wa, salah satunya keharusan pengumpulan naskah dalam bentuk fail word, pdf, dan indesign. Bagi saya pribadi itu bukan mssalah, karena Indesign sudah saya kenal sejak tahun 2008. Tetapi bagi mereka para penulis, yang tidak lahir dari dunia penerbit, akan sedikit kelimpungan memenuhi keinginan panitia. Penulis harus menjadi pengatak masing-masing.

Syukur pada Tuhan acara Pertemuan Penulis Bahan Bacaan Gerakan Literasi Nasional 2017 bisa berjalan dengan lancar. Walau masih ada sedikit kekecewaan karena tidak membawa pulang hadiah, saya rasa setiap penulis yang hadir dalam pertemuan itu pastilah bisa menangkap makna dan manfaat, walaupun berbeda-beda bentuknya.

GLN1.jpg
Berfoto bersama sahabat baru #room1
GLN2
Teman sekamar #ROOM1

Setelah pertemuan itu saya jadi berteman dengan KATAK (pengatak) dan tergabung dalam ROOM 1. Apa itu? Tunggu postingan saya selanjutnya.

#salamliterasi

#gerakanliterasinasional

#paskalinaaskalin

#sayapenulis

#GLN2017

 

​Kegiatan Paskalina Askalin: Pra-Kongres Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (PENPRO)

Senin-Jumat saya selalu di rumah, sedangkan Sabtu atau Minggu cari kegiatan di luar rumah, itulah saya Paskalina Askalin.
Sabtu, 20 Mei 2017 kemarin, saya memiliki agenda untuk datang pada sebuah acara besar bagi profesi saya, sebagai penulis, Perkumpulan Penulis Profesional Indonesia (Penpro) mengadakan acara PRA-KONGRES yang diselenggarakan di Perpustakaan Nasional RI, Salemba. Acara tersebut diawali dengan Simposium Membaca untuk Menulis: Strategi Literasi Menyambut UU Sistem Perbukuan.

Kehadiran saya di acara tersebut juga dalam rangka pelantikan Pengurus Pusat dan Pengurus Daerah. Saya sebagai Wakil Ketua Penpro Jakarta harus hadir karena Sang Ketua, Akhmad Sekhu, berhalangan hadir saat pelantikan pengurus.

Setelah pelantikan pengurus, dilanjutkan dengan acara diskusi buku berjudul “Birokrat Menulis” yang ditulis oleh Bpk Adrinal Tanjung. Usai acara, saya berkesempatam berfoto dengan Pak Adrinal Tanjung.

Demikian kegiatan singkat saya di weekend ini. Saya, Paskalina Askalin mendukung penuh literasi membaca dan literasi menulis. 
#salamliterasi #membacadanmenulis

Tema buku anak #Askalin (1) IBU

#temabukuanak yang pernah ditulis #Askalin #yukmenulis

Kebaikan seorang ibu (1)

Kebaikan seorang ibu terekam jelas dalam buku cerita bergambar berjudul “Terima Kasih Mama”. Buku ini terbit tahun 2011. Buku ini adalah kiprah pertama penulis dengan nama pena Askalin. Seterusnya buku-buku anak yang ditulis oleh penulis menggunakan nama pena Askalin.
Proses penulisan buku ini amat singkat, hanya dalam waktu dua jam saja. Tiba-tiba muncul ide menulis sesuatu tentang ibu.

Ibu setiap hari mengantarkanku ke sekolah
Ibu membuatkan aku sarapan
Ibu menemaniku saat aku sakit
Ibu menenangkan aku saat ada petir

Dan masih banyak lagi ungkapan betapa baiknya ibu, hingga akhirnya jadilah satu naskah. Lalu, langsung dikirim ke redaksi Bee Media. Beberapa bulan berlalu, redaksi mengabari kalau naskah itu akan diterbitkan.

image

Jika ada yang ingin memiliki buku ini, pasti sudah sulit ditemukan di toko buku. Jika ingin membeli, bisa menghubungi penulisnya langsung di sms/wa 085697602414.

Terima kasih

Salam, Askalin

Bunda Writer (1): Menulis di waktu yang pendek

Saat ini saya memiliki kesibukan baru yang akan dijalani selamanya, yaitu seorang ibu. Hmmm ternyata mengurus buah hati itu luar biasa menyenangkan. Saking menyenangkannya jadi lupa pada hal lainnya, misalnya waktu untuk menulis, paling tidak menuliskan ide-ide yang berseliweran di kepala. Karena keasyikan menimang sang buah hati, ide-ide melintas begitu saja dan hilang ditelan waktu.

Waktu jeda mengurus buah hati yang saya rasakan semakin pendek saja, haruslah benar-benar saya manfaatkan jika saya masih ingin eksis menulis. Walau awalnya hanya menyempatkan menulis ide-ide saja. Selanjutnya saya bisa menulis naskah secara utuh dalam beberapa hari.
image

Sang buah hati yang sedang lucu-lucu seakan mengikat semua ibu untuk senantiasa memperhatikannya walau sedang tidur sekali pun. Awal-awalnya, itu yang saya lakukan. Saat sang buah hati tidur, saya tak bisa bergerak jauh darinya, menatapnya saat tidur adalah menyenangkan. Ah, tapi saya tidak boleh seperti itu terus. Saya ingin buku-buku saya nanti juga bisa dibaca dan bermanfaat untuk sang buah hati. Saya harus berubah. Saya harus memenej waktu saya yang sedikit diantara waktu mengurus buah hati yang belum lama lahir.

Setahun lalu saya sudah memutuskan berhenti menjadi karyawan penerbitan dan akan menulis di rumah sekaligus mengurus sang buah hati. Saya kembali menguatkan niat itu dalam batin saya. Saat saya mempunyai niat itu, sang buah hati belum lahir, nah sekarang dia sudah lahir. Situasi yang dialami ternyata berbeda ya, sang buah hati begitu menggoda untuk selalu dilihat dan tak pernah sedetikpun ditinggalkan. Jadi, niat untuk menulis harus kembali diasah.

Setelah niat menulis itu muncul, masalah selanjutnya yang muncul adalah kapan waktu menulis yang tepat. Saya harus memberi ASI eksklusif sehingga waktu seakan habis untuk sang buah hati. Saat sang buah hati tidur, ada saja yang harus dikerjakan hingga akhirnya waktu habis begitu saja. Saat mau mulai buka laptop, sang buah hati keburu bangun minta diberi ASI. Kemudian saya menemukan waktu yang tepat untuk menulis, yaitu malam hari hingga dini hari. Di waktu itu, sang buah hati terlelap tidur, sehingga saya bisa membuka laptop atau menulis di tab atau menulis di kertas. (Ditulis oleh Askalin)

Buku baru: Dongeng Fabel Asal Usul dari 5 Benua

image

Dongeng Fabel Asal Usul dari 5 Benua
Kode : 9786022557302

Oleh : Askalin
Harga : Rp. 30000
Ukuran : 19 x 26 cm
Tebal : 48 hlm
Terbit : Februari 2015
Penerbit : DIVA Kidz
Diskon : 25 % beli di www.divapress-online.com

Sekilas tentang isi buku

Apakah kalian tahu kenapa warna tubuh zebra belang? Apakah kalian tahu kenapa ikan hidup di air? Apakah kalian tahu kenapa leher bangau bengkok? Nah, jawaban semua itu ada pada buku dongeng ini. Selain itu, masih banyak lagi dongeng asal-usul pada buku ini. Dongeng pada buku ini dikumpulkan dari 5 benua.

Buku ini bisa diperoleh di tb gramedia seluruh Indonesia dan toko buku online.

Naskah Ditolak, ah ga sakitnya tuh di sini!!

Naskah ditolak oleh penerbit atau media cetak, rasanya tuh sakit banget. TAPI sakitnya kayak digigit semut, terasa 5 sampai 10 menit setelah itu tak berasa apa-apa. Naskah yang ditolak mau ditangisi seperti apa pun, tak akan mengubah apa-apa, ditolak ya ditolak. Masih untung naskah itu dikembalikan sehingga tidak menjadi onggokan kertas bekas pembungkus cabe di pasar yang harganya sedang meroket.
Naskah yang ditolak itu, trus mau diapakan? Biarkan saja sehari dua hari atau dua minggu, baru kemudian lihat kembali secara bijak, apa alasan naskah itu ditolak. Tak perlu berpikiran negatif pada redaksinya, tak perlu mencari-cari alasan pembenaran jika naskah kita luar biasa bagus. Cobalah terima segala kritik dari naskah kita yang ditolak itu.
Kemudian JANGAN TAKUT untuk mencoba lagi mengirim naskah ke penerbit atau media cetak yang pernah menolak naskah kita. YAKIN pasti dari 5 hingga 10 naskah yang dikirim pasti akan ada yang DITERIMA.
Sesuai pengalaman saya mencoba mengirim 5 penawaran naskah ke sebuah penerbit. Penawaran 1 sampai 4 ditolak. Penawaran ke 5 akhirnya diterima. (Horeeeeee)
Jadi kuncinya adalah
Naskah DITOLAK, tidak masalah, satu naskah ditolak, coba lagi lagi dan lagi. Ditolak adalah proses kita menuju diterima. Ditolak juga proses kita belajar menulis. Sampai kapan pun penulis akan terus belajar menulis.

Hari Guru Nasional, 25 November

image

Di Indonesia, tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Semua Guru di Indonesia patut berbangga karena jasanya yang tanpa pamrih diabadikan dalam sebuah perayaan Hari Guru, walau tidak menjadi hari libur nasional 🙂
Bagaimanakah sejarah terjadinya atau diperingatinya Hari Guru tanggal 25 November itu? Berikut ini sejarahnya.
Tepat tanggal 25 November setiap tahunnya, Indonesia memperingati Hari Guru Nasional, yang juga adalah hari lahirnya organisasi guru yaitu Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Namun tahukah Anda asal usul mengapa tanggal tersebut dipilih menjadi hari yang khusus bagi para pahlawan tanpa tanda jasa?

Sejak sebelum kemerdekaan Indonesia, para pegiat pendidikan di nusantara telah mendirikan organisasi bernama Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB) tahun 1912. Anggotanya merupakan kalangan Guru Bantu, Guru Desa, Kepala Sekolah, dan Penilik Sekolah yang bekerja di sekolah-sekolah yang ada di tanah air.

Kemudian, kuatnya keinginan untuk merdeka dan mendirikan negara sendiri yang bernama Indonesia membuat pengurus dan anggota PGHB mengubah nama organisasi mereka menjadi Persatuan Guru Indonesia (PGI) di tahun 1932.

Usai kemerdekaan 17 Agustus 1945, para pengurus dan anggota PGI menyelenggarakan Kongres Guru Indonesia yaitu tepat di 100 hari setelah tanggal kemerdekaan tersebut, 24 -25 November 1945. Kongres yang berlangsung di Kota Surakarta tersebut diadakan untuk mengikrarkan dukungan para guru untuk NKRI. Saat itu, nama organisasi PGI pun diperbarui menjadi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Dilansir oleh situs resmi PGRI, karena jasa dan perjuangan yang telah dilakukan oleh para guru di tanah air, maka Pemerintah RI melalui Kepres No 78 Tahun 1994 menetapkan tanggal berdirinya PGRI sebagai Hari Guru Nasional.

Keppres itu juga dimantapkan di UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang menetapkan tanggal 25 November setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Guru Nasional, yang kerap diperingati bersamaan dengan ulang tahun PGRI.

(Sumber teks: sidomi.com, sumber gambar: chien-puterirahsia.blogspot.com)

Oh ternyata Hari Guru juga bersamaan dengan Hari Ulang Tahun PGRI.

Selamat Hari Guru