13 Cara Menggali Ide Cerita Anak

#idecerita #menuliscerita #ceritaanak #cariide #idemenulis #panduanmenulis

13 Cara Menggali Ide Cerita Anak

Jangan mengeluh kesulitan mencari ide cerita anak, sebelum kamu melakukan 13 cara di bawah ini.

1.  Membaca cerita anak masa kini

Ada seorang penulis cerita anak pernah berkata “Untuk mendapatkan ide cerita anak, paling tidak bacalah 10 cerita anak”. Saya setuju dengan perkataan ini. Saya pun melakukan hal yang sama. Mau nulis cerita anak, bacalah cerita a anak sebanyak-banyaknya, dijamin ide cerita tergali, menulis pun lancar.

2. Membaca cerita anak klasik

Jangan lupakan cerita anak yang ditulis oleh penulis-penulis legendaris, seperti Enid Blyton dan Roald Dahl. Bacalah cerita anak klasik karya mereka, juga penulis lainnya. Meskipun ditulis puluhan  tahun silam, nilai-nilai moral yang terkandung di dalamnya masih relevan dengan masa kini.

3. Pengalaman masa kecil

Semua orang punya pengalaman masa kecil, baik itu pengalaman menyenangkan, maupun menyedihkan. Pengalaman masa kecil itu tidak ada habisnya. Kamu bisa menggali ide sebanyak mungkin dari pengalaman masa kecilmu.

4. Impian masa kecil

Kita semua mempunyai impian di masa kecil. Impian itu bisa jadi hanya kita yang tahu. Impian itu bisa ditorehkan menjadi sebuah cerita anak.

5. Berimajinasi atau berkhayal

Imajinasi atau khayalan kita adalah tempat munculnya ide yang tidak akan ada habisnya.

6. Mengamati tingkah laku anak sendiri

Bagi kamu yang sudah memiliki anak, tingkah laku anak dapat menjadi sumber ide yang tidak ada habisnya. Setiap hari pasti ada banyak pengalaman yang dialami bersama anak. Bahkan, perilaku anak yang membuatmu marah bisa menjadi ide cerita.

7. Mengamati tingkah laku anak tetangga atau anak murid

Perilaku anak murid atau anak tetangga kita pun bisa menjadi ide cerita. Jika kamu seorang guru atau bekerja di dunia pendidikan, akan bertemu dengan banyak sekali tingkah laku anak. Tingkah laku mereka bisa menjadi sumber ide cerita.

8. Mengamati lingkungan sekitar

Ada banyak peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar kita. Misalnya, pencurian, kecelakaan, pesta pernikahan, kerja bakti lingkungan, dan sebagainya. Peristiwa itu dapat menjadi ide cerita.

9. Menonton film kartun

Film kartun tema ceritanya seputar anak-anak. Nilai-nilai yang terkandung dalam ceritanya juga dapat diteladani anak-anak dengan mudah. Adegan dalam film kartun atau tema ceritanya dapat dijadikan ide cerita anak yang kita tulis. Beberapa waktu lalu saya melihat sebuah film kartun Indonesia yang bercerita tentang anak perempuan yang mengembalikan dompet yang ditemukannya. Ide cerita kartun itu saya jadikan ide cerita anak dengan judul “Siomay Laris Manis”. Ceritanya tentang anak perempuan yang ayahnya seorang penjual siomay keliling. Karena kejujurannya mengembalikan dompet, siomay yang dijual ayahnya jadi laris manis, banyak dipesan.

10. Mengamati hewan peliharaan

Bagi yang memiliki hewan peliharaan, tingkah laku lucu sang pemilik hewan peliharaan dan tingkah polah si hewan peliharaan, bisa menjadi ide cerita.

11. Ingin menyampaikan pesan nilai tertentu

Ada pesan nilai tertentu yang ingin kita tulis menjadi sebuah cerita anak. Misalnya ingin menulis cerita yang menyampaikan pesan melestarikan nilai keberagaman kuliner Nusantara.

12. Percakapan dengan seseorang

Saat berbincang dengan orang lain, juga bisa menjadi ide cerita. Misalnya percakapan tentang harga beras yang naik, biaya listrik yang membengkak, dan sebagainya. Biaya listrik yang naik bisa jadi ide cerita tentang hemat listrik.

13. Kejadian yang sedang viral

Setiap hari selalu saja ada berita atau informasi yang viral dari media sosial yang kita tonton. Ada banyak sekali informasi yang diviralkan, salah satunya bisa menjadi ide cerita.

Ide Menulis Tidak Ada Habisnya adalah Membaca

Paskalina Askalin

Belajar Parenting dari Film Kartun Tian Tian

Belajar Parenting dari Film Kartun Tian Tian

Parenting itu apa? Secara singkat pengertian parenting adalah:

– perilaku dan sikap orang tua dalam membesarkan anak.
– pengasuhan anak.
keterampilan mengasuh anak yang wajib dimiliki orang tua.
– pekerjaan dan keterampilan orang tua dalam mengasuh anak.

Parenting adalah keterampilan orang tua dalam pengasuhan anak. Keterampilan ini bisa dipelajari dan diketahui oleh orang tua dalam berbagai cara, seperti membaca buku parenting, bergabung dalam komunitas parenting, melihat orang tua lain yang sedang mengasuh anak, mengikuti seminar, menonton film kartun, dan masih banyak lainnya.

Sejak 3 bulan terakhir ini saya mempunyai tontonan kartun favorit terbaru, Tian Tian, yang tayang di Mentari TV setiap pukul 19.00 WIB. Sesuai judulnya, tokoh kartun ini adalah Tian Tian, anak perempuan berusia 6 tahun yang pindah dari kota ke desa bersama kedua orang tuanya.

Saya suka film kartun Tian Tian karena kartun ini menyuguhkan latar pedesaan dengan menyajikan kehidupan yang sederhana ala pedesaan. Kartun Tian Tian memberikan contoh-contoh situasi pedesaan yang masih alami dan ramah lingkungan dan mata pencaharian utama adalah bertani.

Meskipun latar pedesaan kartun ini juga menyajikan hal-hal yang modern seperti adanya internet di balai desa.
Meskipun menjadi petani, ada warga desa yang menjadi dokter membuka praktik dokter dan toko obat. Lalu, ada juga warga desa yang berwirausaha dengan membuka toko serba ada.

Kartun ini menyajikan bagaimana anak-anak bermain di pedesaan dan tidak terikat oleh gadget. Tetapi bukan berarti mereka tidak mengenalnya teknologi. Tokoh Tian Tian, yang baru pindah dari kota tentu memahami internet dan teknologi lainnya. Tetapi hal itu tidak menjadikan Tian Tian berbeda, justru Tian Tian melebur dengan anak-anak di desa, tempat tinggal barunya.

Bagi saya, kartun Tian Tian bukan sekadar kartun anak-anak melainkan kartun yang mengajarkan parenting atau pengasuhan anak untuk orang tua atau orang dewasa. Dalam kartun Tian Tian ada banyak pesan dan cara, bagaimana orang tua menghadapi tingkah polah anak-anak. Di tambah latar pedesaan, sekaligus kita sebagai orang tua bisa membandingkan gaya pengasuhan modern dan orang tua dengan gaya pengasuhan “zaman dulu” yang dilakukan tokoh Nenek pada kartun Tian Tian.

Belajar parenting dari film kartun, tidak  hanya dari film kartun Tian Tian. Film kartun anak lainnya juga bisa menjadi arena belajar menjadi “orang tua”.
Film kartun anak-anak, bukanlah tontonan anak-anak semata, melainkan tontonan keluarga (anak dan orang tua).

Pada tulisan selanjutnya, akan saya bahas lebih dalam, pengetahuan parenting dari kartun Tian Tian.

1 Juni, Hari Lahir Pancasila

Apa yang kamu ingat jika menyebut kata Pancasila?

INGAT Sila-sila Pancasila
Hari ini 1 Juni, Hari Lahir Pancasila. Hari ini pasti banyak challenge yang meminta orang untuk menyebutkan LIMA SILA PANCASILA. Biasanya, banyak orang yang tidak hafal Sila Pancasila atau ada juga yang kebalik-balik antara sila dua dan sila lima. Bagaimana dengan kamu?

Kalau saya sendiri, sering diingatkan oleh pelajaran PPKN anak saya. Setiap kali membantu anak saya persiapan penilaian PPKN, pastilah menyebut tentang salah satu sila Pancasila. Mau tidak mau, saya harus pastikan benar tidaknya sila Pancasila yang disebut anak saya.

Ada yang belum hafal? Yuk, hafalkan lagi sila Pancasila!

PANCASILA
1. Ketuhanan Yang Maha Esa
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab
3. Persatuan Indonesia
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

INGAT Butir-butir Pancasila
Anak-anak yang duduk di SD pada tahun 80an- 90an pastilah tahu, butir-butir Pancasila. Semua anak sekolah pada zaman itu harus hafal butir-butir Pancasila. Kalau dipikir-pikir, buat apa harus dihafalkan, kan yang penting itu diamalkan dan dilakukan. Ah itu masa dulu.

Masa sekarang, saya lihat dari pelajaran PPKN anak saya, dari kelas 1 hingga kelas 3 SD begitu dekat dengan pengalaman nilai-nilai Pancasila. Baru kemarin saya menemaninya belajar untuk penilaian PPKN yang membahas tentang menghargai keberagaman yang menjadi salah satu pengamalan sila ke-3, Persatuan Indonesia. Ditambah lagi dengan P5 dalam Kurikulum Merdeka yang dilaksanakan di sekolah. Semoga nilai-nilai Pancasila lekat di hati anak-anak zaman now.

Apa itu P5 dalam Kurikulum Merdeka? P5 adalah kependekan untuk Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila. P5 ini bertujuan untuk membentuk pelajar Indonesia yang dapat berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

Sebagai orang tua, saya berharap nilai-nilai Pancasila ini bisa sungguh-sungguh diteladani anak, sehingga nilai-nilai Pancasila bukanlah hafalan pelajaran sekolah. Semoga para pendidik terus bersemangat mengingatkan anak-anak untuk berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

MengINGAT-INGAT tentang Pancasila, akan sangat banyak dan panjang untuk ditulis. Saya cukupkan DUA INGATAN saja. Ingatan yang lain, pasti sudah banyak dituliskan.😊

PANCASILA jangan dihafalkan saja, harus diamalkan dan diteladani.

Ketika Penulis Berpantun

Ketika Penulis Berpantun

Tiga puluh April telah berlalu
Berlalu bersamaan dengan waktu
Aku di sini duduk termangu
Melihat penulis saling beradu

Tiga puluh April telah sirna
Ayo kawan kembali ke realita
Jangan dipikir dan dilamunkan saja
Jika Tuhan berkehendak, lolos juga

Menulis kulakukan setiap waktu
Di dapur di meja di mana-mana
Tak ingin kulewatkan waktu
Karena menulis itu menyenangkan jiwa

Ide di mana entah ke mana
Kucari-cari tak ketemu juga
Oh ide ide kamu ke mana
Eh rupanya kamu ada di depan mata

Cerita ini hanyalah fiksi
Tapi bukan fiksi sesungguhnya
Setiap hari aku menulis fiksi
Demi memenuhi uang belanja

Kisahku kutulis dalam cerita
Sebagai kenangan kalau aku ada
Jika kamu ingin dianggap ada
Ada baiknya kamu menulis juga

Paskalina Askalin | 02.57 am
2 Mei 2024

#pantun #berpantun #pantunindonesia #menulispantun