Ketika Penulis Berpantun

Ketika Penulis Berpantun

Tiga puluh April telah berlalu
Berlalu bersamaan dengan waktu
Aku di sini duduk termangu
Melihat penulis saling beradu

Tiga puluh April telah sirna
Ayo kawan kembali ke realita
Jangan dipikir dan dilamunkan saja
Jika Tuhan berkehendak, lolos juga

Menulis kulakukan setiap waktu
Di dapur di meja di mana-mana
Tak ingin kulewatkan waktu
Karena menulis itu menyenangkan jiwa

Ide di mana entah ke mana
Kucari-cari tak ketemu juga
Oh ide ide kamu ke mana
Eh rupanya kamu ada di depan mata

Cerita ini hanyalah fiksi
Tapi bukan fiksi sesungguhnya
Setiap hari aku menulis fiksi
Demi memenuhi uang belanja

Kisahku kutulis dalam cerita
Sebagai kenangan kalau aku ada
Jika kamu ingin dianggap ada
Ada baiknya kamu menulis juga

Paskalina Askalin | 02.57 am
2 Mei 2024

#pantun #berpantun #pantunindonesia #menulispantun

Puisi Dua Kata: Puisi Mewakili Rasa Telinga dan Dinding

Puisi Dua Kata

Sabar Telinga

Telinga telinga
Telinga telinga
Kasihan kalian
Sabar telinga
Tegar telinga

Andai bisa
Kau berteriak
Tapi sayang
Kau takbisa
Kasihan kalian

Telinga telinga
Tunggu waktunya
Hening terasa
Damai di jiwa

Telinga telinga
Aku tahu
Aku tahu
Rasa itu
Rasa kesal
Takbisa kesal

Ah sungguh
Aku tahu
Aku tahu
Rasa itu
Ingin beramarah
Tapi payah

Ah telinga
Telinga telinga
Sabar telinga
Tegar telinga
Kutemani kau
Hingga waktunya

Ditulis oleh Paskalina Askalin

(Depok, 21.09.23)

 

 

Gejolak Dinding

Andai andai
Aku berandai
Tapi takberani

Aku berandai
Aku bergerak
Aku berlari
Tapi tidak
Aku dinding
Hanya dinding
Apa dayaku

Akhirnya kupasrah
Getaran kurasa
Hentakan kuterima
Aku nrimo
Pasrah wae

Ditulis oleh Paskalina Askalin

(Depok, 21.09.23)

 

Puisi dua kata adalah puisi yang setiap barisnya terdiri dari dua kata. Puisi dua kata tercipta begitu saja pada bulan September 2023. Puisi “Sabar Telinga” dan “Gejolak Dinding” terinspirasi dari suara-suara dari dinding yang memecahkan telinga dan saya ingin mewakili rasa yang dialami para telinga dan para dinding. (Paskalina Askalin)

 

Puisi “BALADA E” Karya Y. Budi Utomo

“BALADA E”
Karya Y. Budi Utomo

Untuk mereka, yang juga tidak tahu Entah mengapa?

Ini malam,
seperti malam terakhir saja,
Berpuluh-puluh kata yang biasanya lepas tanpa jeda,
Kini meluruh,
terhenti di persembunyian makna.
Senyap.

Ini malam,
saat serpihan bulan bersenandung asmarandana
Butir-butir mesiu, pun kata-kata makian,
membuncah ke langit-langit kepalsuan.
Akal mereda, jiwa tak kuasa,
dan meronta tanpa kendali.
Tetiba, kaki menjadi tolol
Lunglai, seperti terserang cikungunya

Ini malam,
seperti mau mati rasanya.

Ini malam,
adalah malam terakhir menjadi biasa.
Sebab ia puIa,
yang adalah kawan,
harus mati,
sebagai persembahan kuasa rahwana.

Ini malam,
adalah malam jahanam,
yang bahkan malaikat pun,
Ikut tenggelam dalam melodramanya
(melebihi drama korea)

Ini malam, adalah malam durjana
Saat nurani-nurani petinggi tak mempan lagi ditanya:
“Apakah satu nyawa, tak lagi bermakna?”
atau
Pura-purakah lupa pada nasihat ibumu:
bahwa hal tertinggi dari segala hal di bumi ini adalah KEHIDUPAN.

Ini malam,
Seekor pelican di kamar pengakuan,
Bertangis dan mendaraskan litani
(terus berdoa tanpa jeda):
“tugasku sudah selesai!”

Depok, 2022

Puisi Ibu

Ibu

Ibu

Siapa ibuku

Ibu yang menyayangiku

sepanjang waktu

Ibu yang mengasihiku

sepanjang waktu

Ibu yang mengajariku

saat aku tidak bisa

Ibu yang membelaku

saat aku disakiti

Ibu yang memarahiku

saat aku salah langkah

Ibu yang mengingatkanku

saat aku tersesat
Tak penting dia siapa

Dia ibuku

Tak penting dia bagaimana

Dia ibuku

Tak penting dia ibu angkat/kandung

Dia ibuku

Tak penting dia seperti apa

Dia ibuku
Kemarahannya adalah kesalahanku

Kesuksesanku adalah peluhnya

Keberhasilanku adalah doanya
Ibu

Ibu

Ibu
Bojonegoro, 27 Juni 2017

#paskalinaaskalin

#day12 #menulisbebas #freewriting #paskalinamenulis #bojonegoro #puisi #ibu
Sumber gbr: amiracarluccio.com