Jungkir Balik Menjadi Momwriter, Tetapi Asyik

Menjadi ibu yang punya profesi sampingan penulis itu tidak mudah, harus pintar-pintar menyempatkan waktu untuk menulis. Apalagi jika sudah ada target yang ingin dicapai.

Belum lama ini ada peluang sebuah sayembara penulisan buku anak dengan tenggat waktu yang cukup mepet, 22 Februari 2019. Jika hanya tulisan, bisa saya kerjakan sendiri. Tetapi buku yang dilombakan harus menyertakan gambar ilustrasi, karena ini buku anak.

Saya pun mulai menghitung hari sejak saya mengetahui informasi lomba tersebut. Ilustrator paling tidak membutuhkan waktu 1 bulan untuk membuat gambar yang mendukung cerita. Otak saya mulai terus bekerja mencari ide untuk lomba ini.

Ide masih bergentayangan saja di sekitar kepala saya. Belum mendapatkan ide yang tepat rasanya. Namun, waktu terus berjalan, saya tidak bekerja sendiri nantinya, ada ilustrator yang perlu waktu banyak untuk menyelesaikan gambar.

Akhirnya langkah pertama saya adalah hubungi ilustrator terlebih dahulu. Saya memesan tempat untuk pesanan ilustrasi naskah saya. Puji Tuhan dua ilustrator menyanggupi sesuai waktu yang saya berikan, 1 bulan. Nah, kini giliran otak saya harus bekerja lebih ekstra. Ilustrator sudah siap, MANA NASKAHNYA?

Di sambi menemani anak lanang bermain, menyuapi anak lanang, beberes rumah, dan lain-lain, otak saya terus bekerja mencari ide. Ide besarnya sudah didapatkan, tokoh utamanya pun sudah diperoleh. Setelah mengelanakan pikiran ke sana ke mari, jadilah separuh naskah siap digambar.

Anak lanang begitu menyita waktu dan tenaga, harus dinikmati, karena inilah tantangan menjadi seorang ibu penulis. Meskipun deadline menjerat leher, anak tetaplah yang utama.

Tak ada waktu bagi saya membuka laptop, cerita dan deskripsi gambar saya tulis dalam note gawai, dan langsung dikirim lewat Whatsapp naskahnya. Inilah kemudahan teknologi yang membuat saya bisa menulis kapan saja, di mana saja.

Sejak saya menyebut diri momwriter, sejak saat itu pula naskah buku yang saya hasilkan lebih banyak ditulis di note gawai ketimbang laptop. Saya menikmati “jungkir baliknya” saya mencuri waktu untuk menulis, atau menahan diri untuk menulis karena anak lanang tidak suka saya memegang gawai.

Menulis masih akan terus saya nikmati entah sampai kapan. (PASKALINA ASKALIN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *