Kalau Tidak Ada IndiHome Apa Jadinya?

Bun, IndiHome-nya sudah dibayar belum?” tanya si Kakak suatu pagi saat mendekati jam masuk sekolah.

“Belum, gimana dong? Kakak tidak usah sekolah saja ya?” jawab saya.

“Enggak mau, aku mau sekolah,” kata si Kakak merengut.

“Bercanda, Kak,” sahut saya sambil menggelitiknya. Si Kakak tertawa sambil diakhiri manyun.

Apa jadinya kalau tidak ada IndiHome dari Telkom Indonesia? Si Kakak tak bisa sekolah daring, saya tak bisa leluasa berseluncur di dunia digital, saya tak bisa berjualan daring, Pak Suami tidak bisa meeting online, saya harus menanggung tagihan pulsa setiap orang yang ada di rumah, dan masih banyak lagi yang berkaitan dengan internet. Apalagi saat ini segala sesuatu kepentingan akan berhubungan yang namanya internet. Jadi, tanpa adanya jaringan internet yang bagus, akan banyak gagal segala urusan.

Sejak pindah ke rumah kami di Depok, tiga tahun lalu, kebutuhan akan internet menjadi salah satu kebutuhan utama. Di tambah lagi, pandemi melanda dunia. Terkhusus di bidang pendidikan, manfaat internet menjadi sungguh-sungguh nyata. 

Anak pertama saya harus lulus dari TK secara daring, kemudian daftar sekolah SD hingga tes kemampuan masuk SD dilakukan secara daring via Zoom. Lalu, selama satu tahun penuh duduk di kelas satu secara daring. Kini, dia akan duduk di kelas dua SD.

Lulus TK Secara Daring

Saat si Kakak masih duduk di TK B, kelas via Zoom tidak dilakukan setiap hari, hanya 1-2 kali dalam seminggu. Tugas harian sekolah dikomunikasikan dan dikumpulkan via Grup WhatsApp.

Saat si Kakak mengerjakan tugas dari guru TK-nya. Photo Collage-nya dikirim melalui Grup WhatsApp.

Saya sebagai orangtua sebenarnya cukup gemes dengan keadaan itu, dengan adanya internet tidak terbatas dari IndiHome sayang sekali jika tidak diadakan kelas via Zoom. Harapannya bisa Zoom setiap hari supaya bisa menggantikan waktu yang hilang karena harus sekolah dari rumah. Si Kakak pun senang sekali saat bisa masuk kelas Zoom. Tapi pihak sekolah (mungkin) tidak memiliki biaya yang cukup untuk Zoom berbayar atau tidak langganan IndiHome yang merupakan Internetnya Indonesia.

Saat si Kakak duduk di TK B, sedang pertemuan pertama dengan teman-teman di kelas Zoom.

Satu Tahun Penuh Sekolah di Kelas Zoom

Lepas dari taman kanak-kanak, si Kakak masuk sekolah dasar. Saya jadi lemas dan berkaca-kaca. Kenapa? Biasanya, sebelum pandemi saya melihat orangtua sibuk membeli perlengkapan sekolah saat akan masuk sekolah. Tetapi, saat si Kakak siap masuk sekolah dasar, hanya membeli seragam baru dan buku pelajaran baru. Tidak ada tas baru dan sepatu baru untuk Kakak. Pandemi memang luar biasa mengguncang dunia kita.

Saat sekolah akan dimulai yang benar-benar dipersiapkan adalah kekuatan internet yang stabil. Hingga satu tahun penuh IndiHome menemani si Kakak sekolah daring. Setiap hari, Senin – Jumat, si Kakak sekolah daring via Zoom. Tidak pernah ada masalah berarti selama proses belajar daring karena kekuatan internet yang tidak terbatas. 

Selama sekolah daring, si Kakak bisa mengikuti semua aktivitas dengan baik. Dengan didampingi walikelas yang energik, si Kakak bersemangat sekolah setiap hari. Semua pelajaran diikuti dengan baik.

Saat si Kakak pelajaran olahraga, di kelas Zoom.

Meskipun via Zoom pelajaran olahraga dilakukan dengan penuh semangat oleh si Kakak. Saya yang melihatnya sebenarnya cukup terenyuh. Kenapa harus ada pandemi? Pelajaran sekolah bisa diikuti di mana saja, tetapi bersosialisasi dengan teman akan sangat baik dilakukan secara langsung.

Saat si Kakak ada acara makan bekal bersama saat istirahat di kelas Zoom.

Manfaat internet memang sungguh luar biasa, untunglah saya memakai IndiHome di rumah, jadi semua aktivitas sekolah daring si Kakak tidak bermasalah. Aktivitas makan bekal bersama di kelas Zoom, kegiatan melukis di kelas Zoom, dan aktivitas seru lainnya bisa dilakukan tanpa ada gangguan jaringan internet.

Saat si Kakak pelajaran prakarya, membuat cap buah dan melukis.

Dari Bunda jadi “asisten guru”

Selama menjadi “asisten guru” menunggui anak saya yang sekolah daring, begitu banyak hal yang terjadi. Saya menyebut diri saya asisten guru karena memang fungsi saya menyerupai asisten dosen, menjadi perantara atau memperjelas apa yang disampaikan gurunya. Saat guru memberikan instruksi, saya pun turut mengingatkan si Kakak untuk memperhatikan yang disampaikan gurunya di Zoom. Saat ada tugas dari gurunya, saya pula yang mengingatkan untuk mengerjakan tugas dan menyetorkan tugas si Kakak. Saat tiba-tiba si Kakak teriak, “Bun, kok Miss-nya jadi freeze, tidak bergerak, kenapa?” Jawab saya, “Pasti Miss-nya tidak pakai IndiHome, jadinya jaringan internetnya putus nyambung.”

Manfaat Internet
Manfaat internet dalam pendidikan saat Pandemi ataupun usai pandemi, sangatlah penting. Dulu sebelum pandemi terjadi, orangtua berpikir ulang untuk menyekolahkan anaknya dari rumah saja atau kita kenal dengan home schooling. Kini saat pandemi dan setelah pandemi, orangtua sudah tahu dan karena “dipaksa” untuk mendampingi anaknya sekolah di rumah melalui berbagai media, seperti Zoom, Google Meet, dan sebagainya, sehingga menjadi tahu kebaikan dan kelemahan sekolah daring. Mungkin kini, ada orangtua yang akhirnya mencari sekolah yang bisa daring terus-menerus, atau ada orangtua yang memilih sekolah yang masuk seperti biasa saja.

Saya memilih sekolah yang masuk seperti biasa saja. Pertemuan-pertemuan daring bisa tetap dimanfaatkan untuk tambahan kegiatan, seperti les bahasa, les matematika, dan sebagainya. Anak saya perlu banyak sosialisasi langsung dengan teman-temannya. Selama satu tahun belajar secara daring, membuatnya semakin sulit berkomunikasi dengan orang yang belum dikenalnya.

Bagaimana pun kekuatan IndiHome dari Telkom Indonesia akan terus menemani pendidikan anak saya, terutama pendidikan nonformal.
Maju terus internetnya Indonesia, IndiHome makin jaya!!

Sumber foto: koleksi pribadi

Visited 3 times, 1 visit(s) today

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *