Ketika Ibu Tidak di Rumah karya Paskalina Askalin

Jam wekerku berbunyi, saatnya aku bangun. Aku langsung bangun dan mengambil handuk, lalu ke kamar mandi. Ketika aku mandi, ibu membereskan tempat tidurku dan menyiapkan seragam sekolah yang aku pakai.

Ibuku memang baik sekali, ibu terbaik di dunia.

Setelah mandi, memakai seragam sekolah. Hidungku mencium aroma nasi goreng, aku tahu ibu pasti membuatkan sarapan nasi goreng telur dadar kesukaanku.

“Kriiiiing kriiing,” jam wekerku berbunyi. Aku bangun lalu menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi. Selesai mandi, tempat tidurku belum dibereskan, baju seragamku juga belum disiapkan.

“Oh iya, Ibu sedang menunggui Nenek di rumah sakit,” gumamku.

Aku coba bereskan tempat tidurku. Hasilnya memang tidak serapi yang dilakukan ibu. Aku pakai seragamku dan kudengar ayah memanggilku.

“Nina, sarapan dulu,” kata ayah dari ruang makan. Aku menuju ke ruang makan. Ayah menyiapkan susu dan roti tawat untuk sarapanku.

Biasanya ibu yang mengantar aku ke sekolah.

“Mau berangkat sekolah dengan ayah atau berangkat sendiri,” tanya ayah. Aku bilang pada ayah aku berangkat sendiri saja. Karena kalau berangkat dengan ayah, terlalu pagi sampai sekolah.

Setengah jam setelah berangkat, aku pun berangkat sekolah. Kututup pintu dan kukunci juga. Kuncinya kutaruh di tempat rahasia. Hanya aku, ibu, dan ayah yang tahu tempat kunci itu.

Ketika aku keluar pagar, kulihat Desy diantar oleh ibunya ke sekolah dengan naik motor.

“Nina, mau bareng aku,” tanya Desy.

Kujawab tidak usah, aku mau jalan kaki saja.

“Bu, berhenti di sini saja, aku mau jalan sama Nina.” Desy jadi ikut jalan kaki.

Desy bertanya kenapa aku jalan kaki, biasanya aku diantar oleh ibuku. Kujelaskan pada Desy kalau ibuku sedang menunggui Nenek di rumah sakit.

“Kalau aku pasti langsung ikut ibu dan tidak masuk sekolah. Tidak ada ibu itu tidak enak, iya kan.” Aku tidak mengiyakan perkataan Desy.

Mungkin memang benar, ketika ibu tidak ada jadi tidak enak. Tetapi menurutku lebih tepatnya, ketika ibu tidak ada, terasa banyak perbedaan. Aku harus bisa melakukan banyak hal sendiri.

Bagiku tidak masalah ibu pergi beberapa lama, aku bisa melakukan semuanya sendiri, kecuali memasak. Untuk makan siang nanti, ibu sudah memesankan makanan untuk makan siang dan makan malam aku dan ayah. Urusan mencuci piring bisa kulakukan sendiri. Menyapu rumah juga bisa kulakukan sendiri. Jadi kekhawatiran yang dirasakan Desy itu karena dia tidak bisa mandiri.

“Duh, bagaimana ini, menyeberangnya susah,” seru Desy ketika kami sampai di dekat sekolah. Lalu lintas memang cukup ramai. Bagiku tidak masalah menyeberang sendiri. Yang penting tahu caranya.

“Ayo pegang tanganku,” kataku. Aku pun menyeberang dengan lancar.

“Ih kamu berani sekali, Nin. Kalau aku mending menunggu Pak Satpam membantu menyeberang,” kata Desy.

Aku tersenyum saja mendengar perkataan Desy. Dulu pun aku takut menyeberang, tetapi harus belajar untuk berani. Tidak selalu ada teman yang menemani menyeberang, jadi aku harus berani menyeberang sendiri.

Pulang sekolah, Desy mengajakku ke toko buku.

“Maaf, aku tidak bisa. Aku harus pulang,” tolakku.

“Nanti aku traktir es krim,” rayu Desy.

Aku tetap menolak. Aku tidak bisa pergi tanpa pamit dulu pada ibu. Meskipun ibu tidak ada di rumah.

Desy meninggalkanku dengan kesal. Dia akhirnya pulang bersama ibunya.

Aku berjalan kaki menuju rumah. Ada banyak teman lain yang juga jalan kaki. Walau biasanya ibu selalu menjemputku, jalan kaki juga ternyata mengasyikkan. Aku bisa ngobrol dengan teman-teman. Ada banyak hal yang aku lihat ketika berjalan kaki menuju rumah.

Sampai di rumah, pintu sudah terbuka, mungkin ibu sudah pulang pikirku.

“Bu, Nina pulang,” kataku.

“Ibu di dapur Nina,” sahut ibu.

Aku menuji dapur kucium tangan ibu.

“Ibu sudah pulang? Gimana kabar nenek?”

“Nenek sudah lebih baik. Pagi hingga sore nanti, Tante Titi yang jaga. Nanti malam ibu ke rumah sakit lagi.”

“Syukurlah kalau Nenek sudah baikan. Nina ganti baju dulu Bu.”

Kemarin-kemarin kalau Ibu pergi, aku selalu khawatir. Khawatir jam beker tidak bunyi dan aku kesiangan. Sekarang ini aku tidak lagi merasa khawatir kalau ibu pergi. Ibu pun sudah berpesan banyak hal padaku setiap kali pergi lama. Misalnya, jangan lupa jam bekernya dinyalakan, pintu selalu dikunci dari dalam, kalau ada apa-apa segera telepon, hati-hati kalau menyalakan kompor, jangan lupa mengunci pintu dan jendela kalau pergi keluar rumah, dan masih banyak lagi.

Ketika ibu pergi, aku jadi belajar menjadi anak yang mandiri. Aku tidak tergantung pada Ibu. Kini aku duduk dik kelas 5, aku bisa melakukan banyak hal sendiri.

 

Sebuah cerita anak karya Paskalina Askalin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *