Kisah Penghuni Sungai

“Manusia-manusia itu tidak punya aturan, melempar sampah ke sungai begitu saja. Padahal kalau hujan turun, banjir bersiap menghampiri mereka,” geram Mumu.

Emi si ikan emas kecil sedang asyik berenang dan bersenda gurau bersama teman-teman.

“Hari sudah sore, aku pulang dulu Emi,” pamit Peti si ikan sepat.

Emi mengibaskan siripnya, tanda mengiyakan perkataan Peti.

Emi pun bermaksud pulang ke rumahnya. Namun, belum sampai rumahnya, sebuah plastik hitam besar menabrak tubuhnya yang mungil. Emi pun terdorong masuk hingga ke dasar sungai. Untunglah Emi bisa menghindar ketika gumpalan itu hampir menindih tubuhnya.

“Ah, manusia itu, seenak saja membuang sampah di sungai. Oksigen semakin menipis, sampah semakin penuh di sungai,” gerutu Emi.

Emi berenang  menjauhi kantong plastik yang hampir menjatuhinya. Baru beberapa detik Emi berenang, dia merasa sesak napas. Tanpa disadari Emi, dia terjebak dalam sebuah plastik bening yang melayang di dalam air. Emi meronta-ronta sembari mencari jalan keluar.

Mumu si ikan mujair, sahabat Emi, melihat Emi yang berada di dalam plastik. Mumu berusaha menenangkan Emi dan memberi tahu jalan keluar dari plastik itu. Dengan bantuan Mumu, Emi berhasil keluar dari plastik.

“Terima kasih, Mumu. Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku,” kata Emi masih tersengal-sengal.

“Sama-sama, Emi. Lain kali berhati-hatilah, plastik bening seperti tadi tak bisa kita lihat dengan jelas karena mirip dengan gelembung air.”

Emi bercerita pada Mumu jika sebelumnya dia juga sudah hampir tertimpa kantong besar hingga ke dasar sungai.

“Manusia-manusia itu tidak punya aturan, melempar sampah ke sungai begitu saja. Padahal kalau hujan turun, banjir bersiap menghampiri mereka,” geram Mumu.

“Manusia itu punya aturan jelas. Di pinggir sungai ini jelas terpasang dilarang membuang sampah di sungai dan ada denda jika melanggar. Tetapi aturan itu dihiraukan oleh manusia,” sahut Emi.

Emi dan Mumu berenang menuju rumah Emi. Sepanjang perjalanan mereka, banyak gumpalan sampah yang harus dihindari. Hari semakin gelap, di dalam sungai pun turut gelap. Mereka harus benar-benar berhati-hati. Sampailah Emi dan Mumu di tempat tujuan mereka.

 

Suatu pagi, Ketua Kelompok Ikan sungai mengumpulkan seluruh ikan penghuni sungai. Emi dan Mumu pun ikut serta berkumpul. “Saudara-saudaraku, kita semua penghuni sungai tentu sudah tak nyaman dengan keadaan lingkungan sungai ini. Oksigen mulai menipis, sampah-sampah semakin banyak. Ruang bergerak kita semakin sempit. Kita…”

Ikan gabus menyela, “Lalu kita harus bagaimana?”

“Jangan potong pembicaraanku. Dengarkan!” tegas Ketua Kelompok Ikan.

Ketua Kelompok ikan kemudian menjelaskan bahwa tidak mungkin lagi berlama-lama di sungai ini. Ikan-ikan harus segera bermigrasi ke sungai yang bersih tanpa sampah. Peti si ikan sepat mengepakkan siripnya ingin bicara.

“Pak Ketua, aku melihat banyak ikan melewati sungai kita menuju ke hulu sungai. Kata mereka, hulu sungai lebih bersih dan tidak ada sampah,” kata Peti.

“Benar katamu, Peti. Aku pun pernah melihat migrasi ikan-ikan dari hilir sungai menuju ke hulu sungai. Kita pun harus mulai migrasi menuju ke hulu sungai. Selama manusia di darat tidak mengubah sikap mereka, membuang sampah di sungai. Sungai tempat tinggal kita ini harus kita tinggalkan. Aku tidak berharap hujan turun dengan deras hingga air meluap ke daratan. Tetapi jika manusia tidak mengubah sikap, hal itu bisa saja terjadi. Kita sebagai penghuni sungai tidak bisa berdiam saja, kita pun akan bermigrasi menuju hulu sungai. Mulai besok pagi, kita akan mulai migrasi ke hulu sungai.”

Usai pertemuan dengan Ketua Kelompok Ikan, Emi dan Mumu pun membuat rencana.

“Mu, besok kita berangkat bersama, ya.”

“Tentu, kita akan pergi bersama-sama menuju hulu sungai. Semoga perjalanan kita lancar. Semua ikan di sungai ini bisa pindah ke hulu sungai.”

“Sebenarnya aku ingin tempat tinggal di sungai ini, tapi manusia masih saja membuang sampah di sungai. Aku berharap manusia-manusia itu bisa sadar sehingga tak ada lagi sampah di sungai. Lalu, kita bisa kembali ke sungai ini.” Emi berbicara dengan penuh harap dan semangat.

“Aku pun tak ingin pergi dari sini. Tapi, kita tetap harus menuju hulu sungai besok,” kata Mumu.

Esok harinya, Emi dan Mumu serta ikan-ikan lainnya pagi-pagi sudah mulai bergerak menuju hulu sungai.

“Selamat tinggal sungaiku, semoga kelak aku bisa kembali ke sini dan melihat sungai yang jernih,” gumam Emi. Mumu dan juga ikan lainnya tentu memiliki harapan yang sama dengan Emi.

Sepanjang perjalanan, begitu banyak rintangan mereka hadapi. Tidak hanya sampah yang harus mereka hindari selama perjalanan, ada kalanya ikan-ikan tergoda makanan yang disuguhkan para pemancing dari daratan. Emi dan Mumu saling mengingatkan untuk waspada dari beragam bahaya itu.

Ketika malam tiba Emi dan Mumu akan menghentikan perjalanan. Cahaya bulan tak cukup membantu penerangan mereka menghindar dari kantong-kantong sampah. Pagi-pagi, perjalanan mereka lanjutkan.

Semakin jauh dari sungai tempat tinggal,  Emi dan Mumu merasakan kenyamanan berenang. Mereka bebas bergerak ke sana ke mari tanpa takut terbentur sampah. Oksigen yang mereka rasakan pun terasa menyegarkan.

Emi dan Mumu berhasil sampai hulu sungai. Mereka tak melihat ada kantong sampah. Yang mereka lihat hanya kejernihan air sungai dan pancaran sinar matahari yang menembus dasar sungai.

“Kita berhasil Mumu,” seru Emi, “wah segar sekali di sini.”

“Ya, manusia daratan di sini peduli pada lingkungan sekitar dan peduli pada makhluk lain. Tidak ada yang mau membuang sampah di sungai. Jadinya, sungainya jadi jernih,” sahut Mumu.

“Semoga, sungainya akan selalu jernih seperti ini. Mumu, ayo kejar aku.”

Emi dan Mumu berkejaran penuh bahagia, menikmati sungai yang jerni di hulu sungai.

Depok, Desember 2019

Sebuah cerita pendek anak karya Paskalina Askalin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *