Resensi Buku Anak: Tari Daerah dari 33 Provinsi

tari-daerah-dr-33-pro-depanJudul: Tari Daerah dari 33 Provinsi, Penerbit: Tera for Junior, Genre: Buku anak, Penulis: Tim Tera, Tahun Terbit: 2008, Tebal: viii+204, ISBN: 978-775-041-8


Begitu banyak buku anak yang bertebaran dari toko buku. Ada buku bergenre calistung (membaca, menulis, dan berhitung), cerita adaptasi dari luar negeri (dongeng, fabel), dan ada pula genre sains untuk anak.

Di manakah buku yang mengenalkan anak pada budaya Indonesia? Padahal Indonesia memiliki kekayaan budaya yang mengagumkan, salah satunya tari daerah. Bagaimana kita mengenalkan keberadaan tari daerah kepada generasi di bawah kita? Daerah Jawa Barat memiliki tari Jaipong, Jawa Tengah memiliki tari Gambyong, dan Sulawesi Utara memiliki tari Mangengket. Continue reading “Resensi Buku Anak: Tari Daerah dari 33 Provinsi”

Resensi Buku Anak: Perjalanan Para Lobster

perjalanan-para-lobsterJudul Buku : Perjalanan Para Lobster, Penulis : Renny Yaniar, Penerbit : Pustaka Riang, Tahun terbit : 2008, Genre : Anak, Tebal : 36 halaman


Pantas sekali diucapkan profisiat pada Renny Yaniar atas penulisan buku cerita anak ini. Karena buku ini diberikan gratis untuk anak Indonesia. Tak banyak penulis yang bersedia memberikan bukunya secara gratis. Pemberian Renny Yaniar untuk membawa anak Indonesia pintar membaca patut menjadi contoh.

Buku ini bercerita tentang sekelompok lobster yang melakukan perjalanan ribuan kilometer dari Laut Utara ke Laut Selatan. Di antara kelompok lobster itu ada lobster kecil yang bernama Lobo dan Lala. Perjalanan kelompok lobster ini mengalami berbagai halangan. Kelompok lobster yang dipimpin oleh Pak Bobi menyaksikan kelompok lobster lain yang tertangkap oleh nelayan. Pak Bobi dan kelompoknya tak dapat menolong kelompok lobster itu.

Pak Bobi dan kelompoknya juga tidak berhasil menyelamatkan seekor lobster kecil yang tersesat dari kelompoknya diserang ikan besar. Setelah mengalami berbagai rintangan, akhirnya Lobo dan Lala serta para lobster pimpinan Pak Bobi lainnya berhasil sampai di Laut Selatan dengan bahagia.

Setelah buku Perjalanan Para Lobster, buku apa lagi yang akan diberikan secara gratis untuk anak Indonesia?

DONGENG: Sang Kancil dengan Buaya

kancilPada zaman dahulu Sang Kancil merupakan binatang yang paling cerdik di dalam hutan. Banyak binatang di dalam hutan datang kepadanya untuk meminta pertolongan apabila mereka menghadapi masalah. Walaupun ia menjadi tempat tumpuan binatang-binatang di dalam hutan, tetapi ia tidak menunjukkan sikap yang sombong malah bersedia membantu kapan saja.

Suatu hari Sang Kancil berjalan-jalan di dalam hutan untuk mencari makanan. Karena makanan di sekitar kawasan kediamannya telah berkurang, Sang Kancil pergi untuk mencari di luar kawasan kediamannya. Cuaca pada hari itu, sangat panas dan terlalu lama berjalan, menyebabkan Sang Kancil kehausan. Lalu, ia berusaha mencari sungai terdekat. Setelah mengelilingi hutan akhirnya Kancil aliran sungai yang sangat jernih airnya. Tanpa membuang waktu, Sang Kancil minum sepuas-puasnya. Dinginnya air sungai itu menghilangkan rasa dahaga Sang Kancil.

crocodileKancil terus berjalan menyusuri tebing sungai. Apabila terasa capai, ia beristirahat sebentar di bawah pohon beringin yang sangat rindang. Kancil berkata di dalam hatinya “Aku mesti bersabar jika ingin mendapat makanan yang lezat-lezat.” Setelah rasa capainya hilang, Sang Kancil kembali menyusuri tebing sungai tersebut sambil memakan dedaunan kegemarannya yang terdapat di sekitarnya. Ketika tiba di satu kawasan yang agak lapang, Sang Kancil memandang kebun buah-buahan yang sedang masak ranum di seberang sungai. “Alangkah enaknya jika aku dapat menyeberangi sungai ini dan dapat menikmati buah-buahan tersebut,” pikir Sang Kancil.

Sang Kancil terus berpikir mencari akal bagaimana cara menyeberangi sungai yang sangat dalam dan deras arusnya itu. Tiba-tiba Sang Kacil memandang Sang Buaya yang sedang asyik berjemur di tebing sungai. Sudah menjadi kebiasaan buaya, apabila hari panas buaya suka berjemur untuk mendapat cahaya matahari.Tanpa berlengah-lengah lagi kancil menghampiri buaya yang sedang berjemur lalu berkata,” Hai sahabatku Sang Buaya, apa kabarmu hari ini?” Buaya yang sedang asyik menikmati cahaya matahari membuka mata dan didapati Sang Kancil yang menegurnya. Continue reading “DONGENG: Sang Kancil dengan Buaya”

Jenis-jenis Pensil

jenis-pensilBanyak jenis pensil sekarang ini, sesuai dengan kebutuhan. Ada pensil keras, sedang, dan lembut. Untuk menandai tingkat kekerasannya digunakan kode tertentu, seperti H untuk pensil keras dan B untuk pensil lembut dan tebal.

Misalnya, pensil 6H menghasilkan garis tajam dan tipis, sedang pensil 8B menghasilkan garis lembut dan tebal. Variasi kepekatan ini dapat dilihat dari tulisan yang ada, lalu diikuti dengan huruf EE, EB, B, dan H.

Apa yang membuat sebuah pensil keras atau lembut? Jawabannya adalah tergantung campuran tanah liatnya. Semakin banyak campuran tanah liat, maka pensil pun semakin keras.
Saat ini terdapat tak kurang 350 jenis pensil dengan fungsi yang berbeda-beda. Kegunaan pensil pun bermacam-macam, seperti pensil warna untuk menggambar, pensil lembut untuk menggambar bangunan, pensil khusus untuk kaca dan plastik. Bahkan seorang dokter bedah pun membutuhkan sebuah pensil khusus untuk menandai bagian tubuh yang akan dioperasi.

Sumber teks: Kompas Anak, 2 Maret 2008
Sumber gbr: www.wb3.indo-work.com

Sejarah Pensil

pensilKata pencil berasal dari bahasa Latin, penicillus, yang artinya ekor kecil karena bentuknya memang seperti kuas kecil. Pensil yang kita kenal sekarang adalah sebuah alat tulis berbentuk batang, berwarna hitam, dan dilapisi kayu di bagian luar. Bahan hitam itu adalah grafit.

Grafit berasal dari bahan batuan yang didapat dengan cara menambang. Grafit ditemukan sekitar 500 tahun yang lalu di daerah Cumberland, Inggris.

Orang pertama yang menggunakan hasil tambang sebagai bahan pensil adalah keluarga Faber yang tinggal di Jerman. Keluarga ini memulai usaha pembuatan pensil grafit pada tahun 1760. Namun sayang, usaha Faber kurang sukses. Orang tidak suka menggunakan pensil Faber karena mudah patah dan mengotori tangan.

Pada tahun 1895 NJ Conte menyempurnakan pensil buatan Faber. Agar pensil tidak mudah patah, grafit dicampur dengan air dan tanah liat, lalu dicetak kecil-kecil panjang, kemudian dibakar sehingga didapat tingkat kekerasan yang diinginkan. Hasilnya memuaskan, pensil tidak mudah patah dan tangan tidak kotor. Orang pun dengan senang hati menggunakan pensil.

Sumber teks: Kompas Anak, 2 Maret 2008

Sumber gbr: www.sipipiapel.blogsome.com

Tak Ada yang Mubazir

Cici meletakkan tas kresek berisi jeruk di meja depan ibunya yang sedang menikmati tek manis hangat.

“Bu, Cici beli jeruk murah pada tukang buah keliling,” kata Cici.

“Oh, ya? Jangan-jangan rasanya tidak manis,” kata Ibu.

Kata penjualnya sih, ditanggung manis,” kata Cici seraya mengupas sebuah jeruk.

“Bah! Tukang buah pembohong!” pekik Cici setelah mencoba sejuring jeruk yang ternyata berasa asam.

“Kamu tadi tidak mencobanya?”

Cici menggeleng, “Cici percaya saja. Tukang buah yang itu biasanya tidak bohong,” jawab Cici.
Continue reading “Tak Ada yang Mubazir”