Cerita Rakyat dari Kalimantan Timur: Asal Usul Danau Lipan

Danau Lipan adalah sebuah tempat di Kalimantan Timur. Tepatnya di Kecamatan Muara Kaman, yang letaknya di hulu Tenggarong, Kabupaten Kutai Kertanegara. Sebutan “danau” di depan nama Lipan bukanlah mengandung arti danau yang sebenarnya. Karena tempat itu merupakan daerah yang ditumbuhi pang semak yang luas.

Konon, di suatu waktu, Muara Kaman merupakan lautan. Di sana berdirilah sebuah kerajaan dengan Bandar di tepi laut yang ramai. Tersebutlah seorang puteri cantik bernama Puteri Aji Berdarah Putih. Kata yang empunya cerita, disebut demikian karena jika sang Puteri memakan sirih, maka air sepah berwarna merah yang ditelannya akan terlihat saat mengalir. Kecantikan itu tersebar ke seantero negeri dan kerajaan di luarnya. Continue reading “Cerita Rakyat dari Kalimantan Timur: Asal Usul Danau Lipan”

Cerita Rakyat dari Maluku Utara: Si Rusa dan si Kulomang

Rusa di Kepulauan Aru mempunyai kemampuan berlari dengan sangat cepat. Namun, karena kelebihan itu, mereka menjadi hewan yang sombong dan serakah. Demi kesenangan, mereka menantang hewan lain untuk berlomba lari. Lawan yang berhasil dikalahkan harus menyerahkan tempat tinggal mereka kepada rusa. Tentu saja rusa yang jadi pemenangnya. Sudah banyak wilayah di Kepulauan Aru yang berhasil mereka kuasai. Luasnya wilayah mereka membuat rusa semakin merasa berkuasa. Mereka mengganggap diri mereka bangsa penguasa pulau.

Di tempat lain, di tepian Pulau Aru, terdapat sebuah pantai yang sangat indah. Deburan ombak yang lembur, tiupan angin yang sejuk, dan hamparan pasir yang hangat membuat siapa pun yang berada di sana merasa nyaman. Di sanalah hidup siput laut yang terkenal sebagai hewan yang cerdik dan sabar. Mereka hidup bersama dan saling tolong-menolong. Mereka sadar akan kelemahan tubuh mereka. Tapi, mereka percaya bahwa kekuatan otak tidak kalah dengan kekuatan apapun. Continue reading “Cerita Rakyat dari Maluku Utara: Si Rusa dan si Kulomang”

DONGENG: Hadiah Peri Ulang Tahun (karya Dwi Pujiastuti)

Duuuh… Bukan main bingungnya para pelayan di rumah Shera! Pesta ulang tahun Shera hampir dimulai, tapi dia malah mengurung diri di kamar. Padahal tamu-tamu undangan sudah datang. Makanan yang lezat-lezat sudah dihidangkan. Badut penghibur sudah siap beraksi. Ruangan pesta pun sudah dihias balon dan pita warna-warni.

Shera ngambek karena ayahnya tidakbisa hadir. Ayah Shera sedang bertugas ke luar kota. Sedangkan ibu Shera sudah lama tiada. Pak Kepala Pelayan berusaha membujuk Shera dengan susah payah. Akhirnya Shera bersedia keluar kamar dengan mata sembab dan basah.

Ketika pesta sudah usai, tamu-tamu sudah pulang, Shera membuka kado-kado ulang tahunnya. Kado-kado itu dibungkus sampul berwarna-warni. Ada pula yang mengikatkan pita dan bunga sebagai aksesori. Isinya bermacam-macam. Boneka, jam weker, bingkai foto,syal, dan masih banyak lagi. Tiba-tiba pandangan mata Shera terbeliak menatap sebuah kado yang dibungkus sampul sokelat lusuh. Shera membuka kado itu, isinya sebuah mantel sederhana berwarna abu-abu!

“Ih, noraknya!” desis Shera. Continue reading “DONGENG: Hadiah Peri Ulang Tahun (karya Dwi Pujiastuti)”