Sebuah Fiksi: Cerita dari Kamar Mandi

“Hei lihat, apa yang dia lakukan, apa tidak salah. Dia berdoa di kamar mandi. Kamar mandi!! Kamar mandi kan kotor, tak pantaslah dia berdoa di sini. Harusnya dia cari tempat lebih suci untuk berdoa,” kata si Gayung.

Anak pertamaku sudah waktunya masuk kelas Zoom, bekal suamiku untuk ke kantor belum siap, mamaku sudah tidak sabar ingin mandi, dan San, anak keduaku yang baru bisa jalan, manja-manja minta digendong. Ya Tuhan, aku harus bagaimana, aku hanya punya dua kaki dan dua tangan.

“Yah, tolong jaga San sebentar saja, aku sudah tidak tahan,” kataku pada suamiku. Tanpa menunggu jawaban aku serahkan San padanya dan segera ke kamar mandi.

“Hei lihat, apa yang dia lakukan, apa tidak salah. Dia berdoa di kamar mandi. Kamar mandi!! Kamar mandi kan kotor, tak pantaslah dia berdoa di sini. Harusnya dia cari tempat lebih suci untuk berdoa,” kata si Gayung.

“Hei hei hei, apa kau bilang, kamar mandi kotor? Ini tempat tinggal kita. Kau tahu, perempuan itu setiap kali masuk kamar mandi ini selalu menyikat lantainya supaya tidak licin,” sahut si Kloset.

“Kau pernah dengar kan jika Tuhan ada di mana-mana, tidak terkecuali, tempat bersih, tempat kotor, Tuhan ada di hati masing-masing pribadi. Perempuan itu bisa bebas berdoa di tempat kita ini,” kata si Kran.

 

Aku keluar dari kamar mandi. Ah rasanya lega bisa melepaskan rasa, berucap mengaduh pada Tuhan, walau di kamar mandi.

Aku menarik napas panjang, menyiapkan hati dan rasa, tetap tenang, walau sebenarnya rasa ini jumpalitan. Kudekati suamiku yang masih menggendong San.

“Adek, sama ayah dulu, ya. Bunda mau siapkan bekal ayah.”

Suamiku tahu, aku bicara padanya, bukan pada San. Aku perlu bantuan. Aku tidak bisa menggendong San sambil memasak. Aku masih waras dan menjauhkan anakku dari bahaya kena minyak panas saat aku memasak.

***

Pernah atau bahkan sering, suamiku meminta aku bangun lebih pagi. Sudah kucoba. Hasilnya sama saja. Kekacauan di pagi hari tetap terjadi. Aku bisa bangun lebih pagi, tapi San akan ikut bangun juga, jadi tetap saja aku tak bisa melakukan apa-apa.

Aku mengeset alarmku pukul 4 pagi. Saat alarm itu berbunyi, anakku San yang terbangun duluan. Jika sudah begini, aku tak bisa beranjak bangun. Membangunkan suamiku yang terlelap, rasanya tak tega. Akhirnya aku berusaha menidurkan San kembali dan diriku pun turut terlelap. Pagi-pagi semakin kacau, karena aku bangun kesiangan.

 

“Sssst, dia masuk,” bisik si Sikat Gigi.

“Ah Kau ini, mana bisa dia mendengar kita,” sahut Si Keramik.

“Betul juga katamu, hahaha,” seru si Sikat Gigi.

“Perempuan itu bangun kesiangan. Sejak ibunya kena serangan stroke, dia harus mengerjakan sendiri semua pekerjaan rumah mengasuh anaknya, memasak, dan menemani anak pertamanya sekolah daring. Kasihan dia. Pernah suatu waktu perempuan itu menempelkan dahinya padaku, menangis. Sayang aku tak bisa bicara apa-apa. Aku hanya bisa menatapnya saja dan mengelusnya dalam bayangan.”

“Eh, Keramik kenapa kau malah membayangkan yang aneh-aneh,” sahut si Gayung.

“Pikiranmu saja yang aneh. Aku bicara apa adanya kok. Kalau aku manusia mungkin aku bisa menenangkannya dengan mengelus bahunya. Begitu maksudku,” kata si Keramik agak tersinggung.

“Eh, sudah-sudah jangan malah jadi bertengkar,” kata si Kran berusaha menengahi, “meskipun perempuan itu tidak mengetahui keberadaan kita, kita bisa mendengar segala keluh kesahnya dan biasanya perempuan itu merasa lebih baik hatinya.”

 

Suatu siang yang terik. Suamiku masih WFH.

“Bunda, aku mau makan,” seru anak pertamaku.

Di saat yang sama San meminta bermain di luar karena melihat kakaknya sedang main pasir lumpur.

San memiliki watak keras kepala, mungkin itu turunan dari sifatku. Saat ingin main di halaman, tak bisa dilarang, meski kakaknya sudah berada di dalam rumah.

“Kakak, cepat cuci tangan dan masuk ke dalam. Bisa tolong bantu Bunda temani San bermain. Bunda mau buat nasi goreng telur untuk Kakak,” kataku mencoba berkompromi dengan si Kakak.

Meskipin WFH, si Ayah sedang sibuk dengan zoom meeting. Aku tak bisa menitipkan San padanya.

“Ayo, Kak, temani adek.” Aku mulai kesal, si Kakak malah asyik bermain sendiri. Aku mau meledak, amarahku mulai memuncak. Aku berusaha menahan suaraku supaya tak menjadi teriakan.

Suamiku sudah sering mengingatkanku untuk menahan amarah, mengecilkan suaraku saat amarah mendatangiku. Tapi rasanya sesak di dadaku.

Suamiku keluar dari ruang kerjanya. Aku pun bertanya apakah masih meeting. Suamiku menggeleng. Aku menitipkan San padanya. “Sebentar ya, Yah. Aku tak tahan.”

Aku segera menuju kamar mandi.

 

“Dia datang!” seru si Kloset.

Sikat Gigi, Gayung, Keramik, dan Kran yang ramai berbincang langsung terdiam.

“Ah, kalian ini. Perempuan itu tidak akan mendengar kita. Kenapa kalian ini, hahaha,” seru si Kloset.

“Benar juga ya, hahaha…” sahut si Gayung.

“Teriakanmu itu bikin kami kaget,” seru Sikat Gigi.

Senyap, semuanya terdiam. Mereka memperhatikan perempuan itu.

Perempuan itu memejamkan mata dan menarik napas panjang. Lalu matanya terbuka. Segera tangannya menyiduk air dari bak dan membasuh wajahnya. Kembali dia menarik napas panjang. “Gusti paringi sabar, paringi kekuatan, paringi sehat pikiranku,” gumam perempuan itu.

Perempuan itu lalu menarik napas panjang lagi, dan keluar dari kamar mandi.

Gayung, Kloset, dan teman-teman, menatap punggung perempuan itu hingga pintu kamar mandi ditutup.

 “Kakak, adek, ayo ke dapur sama Bunda,” seruku.

Depok, Agustus 2021

Sebuah Fiksi karya Paskalina Askalin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *