Sekadar Cerita Rutinitas Pagi(ku)

Rutinitas Pagi

Kriiiiiiiiiiing jam weker berbunyi. Saatnya bangun pagi, anak lanang masih terlelap, suami masih terlelap, dan aku pun bangun. Hmmm rasanya minum kopi, buka laptop, menulis, begitu menyenangkan. Pagi-pagi otak masih fresh….
AH TERNYATA HANYA ILUSI

Ini faktanya:
Saat membuka mata, aku harus melakukan apa dulu ya? Pertanyaan itu yang muncul di kepalaku. Kalau anak lanangku masih terlelap, rasanya aku masih ingin mendengkur di sampingnya. Tapi, kalau anak lanangku justru sudah duduk manis menatapku, aku kebingungan.
Ingin rasanya menemanimu pagimu terus dan terus hingga waktunya mandi.

Ah… rutinitas pagiku…
Sebuah panggilan pagi sudah memekakkan telingaku. Ya, waktunya ganti popok dan memandikannya. Lalu bagaimana dengan anakku? Ayah akan menemani anakku atau si Super Jojo yang menemani.

Ah… rutinitas pagiku…
Masak air panas, lalu masak nasi, lalu merendam cucian, entah mana yang harus kulakukan duluan, biasanya semuanya kulakukan dalam waktu hampir bersamaan.

Ah… rutinitas pagiku…
Masih menunggu untuk disentuh, mandiin bola-bolaku (bocah lanang). Kadang aku tak sempat memandikannya dan si ayah lah yang memandikan bolaku yang kecil.

Ah… rutinitas pagiku…
Harus dilakukan tak bisa aku hindari. Lainnya, semuanya ditinggalkan, aku harus mengganti popoknya. Bau pesing atau bau lainnya kuganjal dengan double masker yang kupakai. Tidak terbayang di benakku sedikit pun harus jalani peran sebagai “perawat”. Tak ada keterampilannya atau pengalaman, semua dijalani saja dengan hati, tanpa bisa ditolak, pokoknya harus dilakukan, bahkan aku tidak tergantikan.

Ah… rutinitas pagiku…
Jika aku daftar, ada sepuluh profesi yang kujalani setiap hari. Bahkan sebagiannya menjadi rutinitas pagi. Ya, sebagai ibu di rumah dengan dua anak lanang yang masih usia dini plus mengurus lansia yang sakit stroke, sepuluh profesi itu sangat mungkin kujalani setiap hari.

Ah… rutinitas pagiku…
Sekolah daring masih berlangsung. Menemani anak lanang online atau mengerjakan tugas adalah rutinitas pagiku.
Ah korona, kapan kau pergi. Anak-anak sudah mulai jenuh bosan. Anakku lanang lari-lari di dalam rumah hingga membuat playground sendiri. Anakku lanang bermain bola di dalam rumah. Aku masih rasakan korona itu berbahaya, hingga tak ada niat sedikit pun seperti orang lain yang mengajak anaknya ke mal atau tempat piknik. Sesekali paling hanya pergi ke swalayan dekat rumah.

Ah… rutinitas pagiku…
Entah kapan akan berubah, rasanya sudah mulai bosan dan lelah. Aku menjalani aktivitas yang sama sejak membuka mata hingga malam menutup mata. Tapi aku tidak bisa mengelak, harus dilakukan, tanpa bisa menolak, LAKUKAN!

Ah… rutinitas pagiku…

Sekadar catatan, melepas rasa dan asa. Melepas rasa melalui tulisan itu melegakan. Jangan dibaca jika melelahkan. Ini hanya sekadar cerita melepas lelah ibu di rumah dengan dua bola yang aktif dan merawat lansia stroke.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *