Seminggu di Rumah Nenek karya Paskalina Askalin

“Kenan, ini Harun, anaknya Pak Soleh, yang mengurus peternakan domba kita. Harun, kenalkan ini Kenan, cucu nenek satu-satunya. Akan tinggal di sini selama satu minggu, Harun temani Kenan, ya. Harun boleh mengajak Kenan ke mana saja, asalkan sebelum pergi memberi tahu Nenek atau bapakmu.”

“Ma, aku liburan di rumah saja. Tidak apa-apa kok. Aku tidak mau ke rumah nenek,” pintaku pada Mama.

“Tidak bisa, sayang. Mama dan Papa harus pergi ke luar kota. Bi Inah pulang kampung. Jadi Kenan harus pergi ke rumah Nenek, seminggu ini,” kata Mama.

Aku terdiam mendengar perkataan Mama. Hatiku masih menggerutu.

Liburan di rumah nenek, pasti akan membosankan. Di desa seperti itu apa yang bisa kulakukan, gerutuku.

Esok harinya Mama dan Papa siap mengantar aku ke rumah nenek.

“Ayo semangat, anak Papa harus semangat,” kata Papa, “Papa yakin, liburan kali ini Kenan pasti akan menyukainya.”

Aku masukkan barang-barang yang kubawa ke mobil. Aku membawa sebanyak mungkin komik untuk kubaca di sana.

“Banyak sekali yang kamu bawa,” kata Mama.

Aku hanya diam saja. Mama pun tak lagi bertanya mungkin karena Mama tahu aku masih kesal karena harus pergi ke rumah Nenek.

Waktu yang diperlukan sekitar 2 jam untuk sampai di rumah Nenek. Sebuah desa yang jauh dari keramaian. Di sana sawah, di sini sawah, di sana kebun, di sini bukit. Satu yang kusuka, udaranya menyegarkan.

Mama dan Papa sudah kembali pulang. Aku sudah berada di salah satu kamar Nenek. Aku membereskan pakaianku di lemari.

Nenek tinggal bersama dua adik Papa, Om Toro dan Tante Sisi. Mereka sudah bekerja. Pergi pagi dan baru pulang sore hari. Kakek sudah meninggal ketika aku masih bayi.

Nenek punya peternakan domba dan beberapa petak sawah. Nenek meminta warga desa mengolah sawahnya dengan sistem bagi hasil. Sedangkan peternakan domba diurus oleh Pak Soleh, salah satu kerabat Nenek.

“Kenan, ayo sini, makanan sudah siap,” panggil Nenek.

“Ya Nek.” Aku anak yang patuh. Walaupun aku tidak begitu suka tinggal di rumah Nenek, aku mencoba untuk betah tinggal di rumah nenek. Aku segera menghampiri Nenek.

Kulihat meja makan sudah terisi penuh makanan. Ada ikan gurame goreng kesukaanku. Ada tumis kangkung kesukaanku. Ada buah manggis kesukaanku. Rupanya nenek ingin membuatku betah tinggal di sini.

“Ayo makan, nenek sudah masakan makanan kesukaanmu,” kata Nenek.

Aku  makan dengan lahap. Masakan nenek memang enak sekali.

“Makasih Nek, makanannya enak sekali,” kataku.

Nenek hanya tersenyum.

“Kalau sudah selesai makannya, bantu Nenek memasukkan makanannya ke lemari ya, Nenek mau panggil Harun dulu.”

Aku hanya menggangguk. Siapa Harun, ah mungkin salah satu pegawainya, pikirku.

Tak lama kemudian Nenek datang dengan seorang anak laki-laki, usianya sebaya denganku.

“Kenan, ini Harun, anaknya Pak Soleh, yang mengurus peternakan domba kita. Harun, kenalkan ini Kenan, cucu nenek satu-satunya. Akan tinggal di sini selama satu minggu, Harun temani Kenan, ya. Harun boleh mengajak Kenan ke mana saja, asalkan sebelum pergi memberi tahu Nenek atau bapakmu.”

“Baik, Nek.”

Aku dan Harun saling berkenalan, awalnya agak canggung. Lama-kelamaan setelah aku minta dia jangan panggil aku “Aden”, Harun bisa lebih akrab denganku.

“Kamu kelas berapa?” tanyaku.

“Kelas 4.”

“Beda satu kelas, aku kelas 5. Usiamu?”

“12 tahun.”

“Usiamu sama denganmu tetapi kenapa kamu masih kelas 4.”

Harun menjelaskan jika dirinya memang telat masuk sekolah. Bapaknya ketika itu tidak sanggup membiayai sekolahnya jadi menunda masuk sekolah.

Sore hari setelah mandi sore, aku ikut ke rumah Harun. Rumahnya berbentuk panggung dengan lantai papan. Aku menunggu di teras ketika Harun mandi. Kamar mandi di rumah Harun terpisah dari rumah. Harun membawa ember kecil ketika mandi. Usai mandi Harun menjemur pakaian yang dikenakannya tadi. Oh Harun mencuci sendiri baju yang dipakainya, gumamku.

Harun kemudian mengajakku masuk ke rumahnya.

“Ini ada ubi rebus. Aku yang merebusnya tadi siang,” kata Harun menyodorkan sepiring ubi rebus.

Harun lalu bercerita jika ibunya meninggal dua tahun lalu. Kini Harun tinggal bersama ayahnya. Semua pekerjaan rumah, seperti memasak, mencuci, menyapu, dan sebagainya dikerjakan sendiri oleh Harun. Sementara ayahnya setiap hari bekerja di peternakan domba milik Nenek.

“Luar biasa, kamu mandiri sekali. Kalau semua pekerjaan rumah kamu kerjakan sendiri, kapan kamu main?” tanyaku.

“Setiap hari aku tetap main bersama teman-teman. Besok pagi aku dan teman-teman mau membuat eggrang bambu, mau ikut?” ajak Harun.

“Tentu, aku mau. Sekarang kita ke rumah nenek saja. Oh ya, kamu menginap di rumah nenekku saja ya, temani aku.” Harun mengangguk tanda setuju.

Malam pertama di rumah Nenek, tidak membuatku bosan karena ada teman yang menemani. Usai makan malam, biasanya aku langsung masuk kamarku. Kali ini berbeda, usai makan Harun membawa piring kotor ke belakang dan mencucinya. Aku jadi tidak enak, akhirnya aku ikut membantu Harun mencuci piring kotor bekas makan malam.

Harun sudah melarangku, tetapi aku tetap membantu.

Di rumahku aku tidak pernah mencuci piring selesai makan. Walau pun begitu aku tahu cara mencuci piring karena sering lihat Mama atau Bi Inah mencuci piring.

Pagi hari ini sesuai rencana Harun, aku ikut dia bermain bersama teman-temannya. Awalnya Harun berniat pulang untuk mandi, tetapi kuminta mandi di rumah nenek saja, baju gantinya pakai bajuku. Aku membawa cukup banyak kaos baru yang belum kupakai.

Sebelum pergi Nenek sudah menyiapkan nasi goreng untuk sarapan. Usai makan, sama seperti semalam, aku mencuci piring bekas makanku. Harun mencuci piringnya sendiri. Harun bisa mencuci piring sendiri, aku juga bisa, gumamku dalam hati.

Setelah berpamitan pada Nenek, aku dan Harun menuju ke lapangan dekat sungai. Teman-teman Harun sudah menunggu di lapangan. Setelah aku berkenalan dengan teman-teman Harun, kami sibuk membuat egrang bambu.

Harun juga bercerita jika kemarin dia dan teman-temannya membuat layang-layang sendiri. Sungguh aku merasa kagum pada Harun dan teman-teman. Mereka membuat sendiri mainan mereka, sedangkan aku tidak bisa seperti mereka. Semua mainanku bisa dibeli di toko atau di mal.

Usai membuat eggrang aku mencobanya. Awalnya aku terjatuh hingga tiga kali, kemudian bisa berjalan dengan lancar menggunakan eggrang. Sungguh sebuah pengalaman yang menyenangkan.

“Eggrang bisa dibuat juga dari batok kelapa,” kata Harun.

“Iya, aku pernah melihatnya di internet,” kataku.

Usai main eggrang, Harun dan teman-teman mandi di sungai. Air sungainya tak begitu jernih, aku agak enggan untuk ikut mandi di sungai. Tetapi aku tidak mau dicap sebagai anak kota yang sombong, akhirnya aku ikut juga mandi di sungai.

Aku jadi ingat perkataan ayah, liburanku akan menyenangkan. Dan memang menyenangkan. Liburan di rumah nenek kali ini berbeda, padahal baru hari kedua.

Hari-hari berikutnya, aku mendapatkan banyak pengalaman. Aku juga banyak belajar tentang kemandirian dari Harun. Selama seminggu berlibur di rumah Nenek, tak sehari pun kulewatkan tanpa petualangan baru bersama Harun.

 

Aku menyesal telah berpikir jika liburan di rumah nenek akan menjadi tidak asyik. Ternyata, sekarang ini aku ingin liburanku di rumah nenek bisa kuulang di liburan berikutnya. Ada banyak hal juga yang ingin kubawa dan kuperlihatkan pada Harun.

Sehari sebelum liburanku usai, Harun mengajakku memancing belut di sawah. Menurutku cara mancingnya unik, memakai tali senar, kail, dan umpan berupa cacing. Umpan dimasukkan dalam lubang yang ada di sawah berair. Walaupun akhirnya badanku penuh lumpur, aku senang mendapat pengalaman menangkap belut.

Setelah seminggu aku di rumah Nenek, Papa datang menjemput.

“Papa, sudah datang,” kataku ketika melihat Papa. Aku mencium tangan Papa, lalu bertanya kenapa Mama tidak ikut.

“Mama kecapaian, kemarin kami baru sampai rumah.”

“Aku belum siap-siap, Pa. Kita pulang nanti sore.”

“Lho, Papa kira kamu mau minta cepat pulang.”

Kubilang pada Papa, aku lupa kalau hari ini harus pulang. Papa senyum-senyum saja ketika mendengar perkataanku.

Rupanya setiap hari Nenek selalu bercerita pada Papa dan Mama tentang kegiatanku bersama Harun. Bahkan, kata nenek aku nyaris tidak pernah di rumah. Aku ada di rumah Nenek hanya pada waktu tidur saja.

“Papa benar, liburan Kenan kali ini menyenangkan. Kalau liburan lagi, aku pasti mau liburan di rumah Nenek,” ujarku pada Papa yang sedang menyetir. Mobil Papa sudah melaju membawaku pulang ke rumah.

Aku tidak membawa buku komik yang kubawa. Sengaja kutinggalkan untuk Harun jika dia ingin membacanya. Aku juga meninggalkan bajuku di lemari nenek karena berharap liburan nanti aku ke rumah nenek lagi.

***

“Pa, Ma, kucucikan piringnya ya,” kataku ketika kami selesai makan pagi. Mama dan Papa saling pandang. Mungkin Mama dan Papa merasa aneh padaku. Biasanya membawa piring kotor ke dapur saja aku tidak mau.

“Ma, bagaimana cara menyalakannya,” seruku di depan mesin cuci pada suatu sore. Aku mau mencuci pakaianku, tetapi tidak tahu cara memakai mesin cuci.

Kehidupan Harun di desa membuatku berubah. Harun dengan segala keterbatasan, mampu menjadi anak yang mandiri. Aku memiliki segalanya, aku juga harus bisa mandiri. Yang bisa kulakukan sendiri, akan kulakukan sendiri.

Sebuah cerita anak karya Paskalina Askalin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *