Manfaat Bermain Tanah atau Lumpur

Faktanya tidak semua orangtua bisa membiarkan anaknya, terutama anak usia dini (di bawah 6 tahun) bermain lumpur, tanah, atau pasir. Fakta lainnya banyak orangtua membebaskan anak  bermain lumpur, tanah, atau pasir. Anda termasuk dalam kelompok orangtua fakta yang mana?

Ada berbagai alasan mengapa orangtua tak mengizinkan anaknya bermain tanah atau lumpur. Ada orangtua yang beralasan melarang anaknya bermain tanah atau lumpur demi melindungi anak dari kuman penyakit. Ada juga yang beralasan karena takut kotor dan berantakan.
Orangtua bebas saja membuat pilihan apapun untuk kegiatan permainan anaknya. Namun, pilihan itu harusnya bijak dan mempunyai sejuta manfaat untuk anak.

Continue reading “Manfaat Bermain Tanah atau Lumpur”

Kotor vs Cuci Tangan

Bagaimana kita akan mengatakan pada anak “Nak tanganmu kotor, ayo cuci tangan?’ Jika anak tidak tahu kotor itu apa.

Dulu ketika saya masih kecil, bermain tanah adalah hal yang paling menyenangkan. Dengan menggunakan media tanah, saya bisa menciptakan aneka macam permainan asyik dari tanah. Main masak-masakan, membuat kue mainan, membangun istana pasir, membuat gelas piring dari tanah, dan masih banyak lainnya. Mungkin Anda juga ingat, apa permainan favorit Anda saat masih kecil yang berkaitan dengan tanah?

Kenan bermain pasir campur air

Kita pernah mengalami menjadi anak kecil, sekarang kita menghadapi anak kecil juga yang ternyata suka sekali bermain dengan tanah atau pasir. Walaupun ada anak yang dilarang orangtuanya bermain tanah, anak tetaplah suka bermain pasir.

Kenan termasuk anak yang tidak suka memegang benda yang kotor atau basah, tapi kalau bermain tanah atau pasir, Kenan mau-mau saja. Kenan tidak menunjukkan rasa jijik dan takut kotor.

Bermain pasir atau tanah adalah mainan favorit anak-anak. Apa ada anak yang tidak suka main pasir? Ada. Anak yang sudah terlanjur didoktrin orangtuanya bahwa tanah itu kotor tidak boleh disentuh, tanah banyak kuman bla bla bla, jadinya anak menjadi fobia pada tanah. Mungkin anak seperti itu yang tidak suka main tanah.

Kenan bermain truk tanah

Saat anak kita bermain tanah atau pasir, ada pembelajaran yang bisa dipetik lho. Apa saja itu?

  • Mengajarkan cuci tangan yang benar

Setelah bermain tanah atau pasir, otomatis orangtua akan meminta anak untuk cuci tangan dengan benar. Oleh karena itu, orangtua bisa sekaligus mengajarkan pada anak tentang mencuci tangan.

Kenan mencuci tangan
  • Memberikan informasi tentang kuman dan bahayanya

Anak cerdas akan bertanya, kenapa harus mencuci tangan. Jawaban orangtua dapat sekaligus memberikan informasi kepada anak tentang kuman dan bahaya. Tidak perlu penjelasan yang mendetail, yang penting anak tahu jika di tanah ada kuman yang bisa membuat tubuh sakit. Cara untuk menghilangkan kuman itu dengan mencuci tangan dengan benar.

  • Melatih motorik dan kreativitas

Bermain tanah membuat anak menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Berdiri, duduk, berjongkok, menggenggam tanah, menyendok tanah, semua itu membuat motorik anak menjadi terlatih.

Ibu di Rumah: Main Lego dan Angka (Berhitung)

Hari ini target menulis saya adalah menyelesaikan corat-coret naskah buku aktivitas yang tersisa 10 halaman lagi. Apakah bisa sesuai target? TIDAK.

Ibu di rumah punya segudang rencana segudang keinginan, yang terealisasi tidak sesuai rencana, dan jauh dari keinginan. Tapi tidaklah jadi soal karena memang di sinilah ada banyak cerita tersimpan dari seorang ibu di rumah.

Saya tak bisa membiarkan anak lanang bermain dengan keasyikannya sendiri. Urusan naskah bisa dilanjut nanti saja. Saatnya mencari ide, bermain apa hari ini? Continue reading “Ibu di Rumah: Main Lego dan Angka (Berhitung)”

Calon Novelku: Taman Bacaan di Atas Bukit

Taman Bacaan di Atas Bukit

Karya Paskalina Oktavianawati

Bagian I Wisata Alam

“Selamat pagi, Puske,” sapa Neya pada kucing putih yang mengeong di pojok kamar Neya.

“Hari ini aku akan pergi berwisata alam bersama teman-teman. Yah, sayangnya aku tidak bisa mengajakmu, Puske. Kamu tunggu aku di rumah ya.” Puske hanya mengeong mendengar ucapan Neya sambil sesekali menjilat kakinya.

Neya sudah mempersiapkan perlengkapan yang dibawa sejak semalam. Mama membantu Neya merapikan ransel yang barang-barang apa saja yang perlu dibawa. Neya membawa pakaian ganti, sarung tangan, jaket, selimut, makanan ringan, sebotol minuman, senter, sandal jepit, syal, perlengkapan mandi, dan yang pasti  tak akan ketinggalan dua buah novel. Continue reading “Calon Novelku: Taman Bacaan di Atas Bukit”