Ibu di Rumah Siap Bermain Apa Saja

Bun, ayo main kejar-kejaran
Bun, ayo main bola
Bun, ayo main petak umpet
Bun, ayo main dokter
Bun, ayo main gunting rambut
Bun, ayo main masak-masakan

Bun, ayo main. Bun, ayo main. Kalimat sakti ini sering membuat saya tersadar jika harus selalu ada untuknya. Saya memilih bekerja di rumah demi menemani anak lanang setiap saat. Ketika kalimat sakti itu muncul, rasanya saya tak kuasa menolak. Walau kadangkala, pekerjaan dadakan (editing, writing) memaksa saya harus menolak ajakannya bermain, hati saya bergemuruh dan sangat-sangat merasa berdosa padanya.

Menjadi ibu di rumah adalah pilihan sangat-sangat benar menurut saya. Walaupun kadang ekonomi keluarga agak terganggu, rasanya terbayar dengan rasa bahagia selalu dekat dengan anak lanang. Uang dan harta bisa dicari nanti, masa kecilnya di usia emas (golden age) tidak akan bisa terulang. Continue reading

Taman Alfabet: Bermain dan Belajar Huruf

Taman Alfabet: Bermain dan Belajar Huruf

Setiap kali pergi ke mana pun, pertanyaan selalu sama, “Kenan sudah sekolah ya kok sudah pintar.” Kenan sendiri kadang menjawab sekenanya, kadang tak menjawab. Lalu saya jawab, belum sekolah.

Bulan ini usia Kenan 4 tahun, rencananya tahun depan akan masuk TK. Saya katanya baru rencana karena saya sudah ambil formulir pendaftaran namun belum dikembalikan.

Diusianya yang keempat tahun, Kenan sudah bisa mengenali huruf A sampai Z, bukan karena dia sekolah, karena saya yang selalu mengajaknya bermain huruf. Seperti hari ini, saya mengajak Kenan menggantung huruf pada tanaman di depan rumah, lalu saya meminta Kenan mengambil satu per satu huruf yang saya sebutkan. Saya menyebut aktivitas ini taman alfabet.
Continue reading