Tidak Ada Pilihan, Semua Harus Dilakukan

Tidak ada pilihan karena memang hidup harus dijalani bukan untuk dipilih-pilih.

Tidak ada pilihan harus dilakukan
Walau tidak mau tetap harus dilakukan
Walaupun malas tetap harus dilakukan
Tidak bisa memilih walau ada pilihan (mungkin)

Rasanya sudah sangat lelah melakukan semua ini.
Apakah seumur hidup harus seperti ini?
Apa ini namanya menggantikan apa yang sudah dilakukannya? Entahlah.
Aku tidak tahu lagi yang benar mana.
Mana yang seharusnya harus dilakukan?

Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan duluan atau aku tinggalkan.
Semuanya harus dilakukan.
Pada akhirnya tetap harus ada yang dikorbankan.

Aku bukan Dewi Durga yang bisa menggunakan tanganku untuk begitu banyak pekerjaan.
Aku bukan Dewi Durga yang bisa melayani semuanya seketika itu juga.
Pada akhirnya semuanya harus dilakukan walau banyak yang harus dikorbankan, ditinggalkan, dan dibiarkan.

Tidak ada pilihan karena memang hidup harus dijalani bukan untuk dipilih-pilih.

07.45 – 20.09.22

Peduli

#peduli

Aku bukan orang yang tidak mau peduli pada apa yang terjadi pada orang-orang di sekitarku. Hari ini saja aku tidak bisa membiarkan seorang anak hanya melihat anak-anakku makan pagi. Aku menyediakan juga makan untuk anak itu tanpa memikirkan apapun.

SAAT INGIN PEDULI, PEDULI SAJA.

Bisa saja aku menyuruhnya pulang dulu karena anak-anakku mau makan pagi terlebih dahulu sebelum bermain. Tentang peduli, ada banyak cara orang untuk memperlihatkan rasa pedulinya atau tetap peduli tanpa orang lain perlu tahu yang kita lakukan.

Namun, tidak semua orang bisa peduli seperti kebanyakan orang. Seperti halnya aku, memilih untuk MENAHAN RASA PEDULI. Mungkin orang bisa saja berujar, “Masa begitu saja tidak mau, tidak peduli pada orang lain.”

KENAPA, kenapa aku harus menahan rasa kepedulianku? Sejak “sesuatu” terjadi di bulan Januari, segalanya berubah, semuanya menjadi sangat sulit. Deretan tanggung jawab harus aku tanggung tanpa ada bantuan dari siapa pun. Semuanya harus aku dan aku. Kepedulianku tertuju pada keluargaku, bahkan aku tak sempat lagi memedulikan diriku sendiri.

Kemudian, yang terjadi adalah aku tak sempat lagi untuk membuka diri, peduli pada orang lain di luar wilayah keluargaku. Keluargaku saja masih kekurangan rasa peduli dariku, bagaimana aku harus membaginya lagi dengan orang lain.

Ada risiko yang akhirnya akan aku dapatkan karena sikap yang aku ambil. Tidak apa orang lain menganggapku negatif karena ketidakpedulianku. Lebih baik seperti itu. Orang lain tidak tahu yang terjadi. Dan, aku tidak punya kewajiban untuk menjelaskan segalanya tentang kehidupanku.

Lebih baik dikira orang tidak baik, padahal yang terjadi sebaliknya. Daripada orang lain mengira baik, padahal sesungguhnya tidak baik.”

Peduli, satu kata yang terdiri atas 6 huruf atau tiga suku kata. Menurut KBBI, peduli adalah memperhatikan, mengindahkan.

Aku ingin peduli, tetapi tidak bisa. Bukan aku tidak peduli dengan yang kalian lakukan. Saat ini aku memilih untuk TIDAK PEDULI. Apapun anggapan orang lain, aku terima dengan senang hati. ✌️PEACE

AYO BERDOA, MAMA

“Ayo Berdoa, Ma,” itu yang dikatakannya jika dia lancar bicara. Anakku, belum lancar bicara, tetapi dia cerdas dengan caranya yang unik.

Beberapa malam ini aku tersentuh olehnya. Karena aku memang selalu lupa untuk melakukan hal itu. Anakku yang berumur 2,5 tahun mengajakku berdoa sebelum tidur. 

Nangis hati ini rasanya, Nak. Anak seusiamu, bisa mengingatkanku untuk sejenak bertelut, menangkupkan tangan untuk berdoa.

Setelah selama seharian penuh begitu banyak aktivitas yang aku lakukan. Aku lupa mengajak anakku untuk berdoa sebelum tidur.
Akhirnya, aku pun berdoa bersamanya.

Terima kasih, Nak, kamu sudah mengingatkanku untuk berdoa. Jangan lelah untuk mengingatkanku terus.
KAMU ADALAH KEKUATAN MAMA.

Nak, sampai sekarang, aku tidak tahu alasannya, mengapa kamu tidak memanggil Bunda dan memilih memanggil Mama. Tidak masalah kamu memanggilku MAMA. Kamu dan kakakmu tetap cahaya untukku, Bundamu… Mamamu…

Pengangguran yang Tidak Nganggur

Saya mah pengangguran, kata saya pada seorang teman lama yang tiba-tiba menyapa melalui WA.

Lalu, saya berpikir sendiri, benarkah saya pengangguran. Mungkin iya ya, hahaha. Saking penganggurannya, hingga saya tidak tahu, bingung, mau mengerjakan apa.

Pekerjaan saya banyak sebenarnya, tapi saya kesulitan MEMBAGI WAKTU. Membagi waktu yang hanya 24 jam supaya semuanya bisa berjalan dengan baik itu sangatlah sulit. Hingga akhirnya banyak yang tak tersentuh.

Tidak semua yang terlihat mudah olehmu itu benar-benar mudah. Tidak semua yang  terlihat sulit olehmu itu benar-benar sulit. Paskalina Askalin

Saya tidak terbiasa untuk mengumbar lara dan kekesalan. Percuma, paling hanya dapat kata, SABAR YA. Sesekali mengumbar kesibukan menulis karena memang itu pekerjaan, yang sebenarnya sulit saya lakukan saat ini, sulit saya sempatkan. TAPI HARUS SAYA LAKUKAN. HIDUP HARUS BERJALAN, BOLA BOLA PERLU MINUM SUSU DAN MAKAN MAKANAN BERGIZI.

Jadinya sulit bagi saya untuk menambah kesibukan walau hanya sekadar mencatat atau apapun itu. Saya sudah terengah-engah luar biasa. Jika saya katakan tidak, ya TIDAK. TIDAK ADA BASA BASI. Karena bagi saya, kalau memang saya tidak bisa fokus membantu lebih baik tidak sama sekali. Tidak ada yang tahu juga jungkir balik saya tahun lalu tidak perlu saya bercerita juga, hanya Tuhan yang tahu ☺️

Hanya sekadar cerita saja. Yang baca pasti juga bingung bacanya hahahaha😅

Jadi apakah saya pengangguran di rumah? Anggap saja begitu☺️ Semua orang bebas beranggapan.