Cerita Rakyat, Cerita Klasik, dan Dongeng Tak Habis Dimakan Waktu

Bicara tentang cerita rakyat, cerita klasik, dongeng, fabel, legenda, dan mitos selalu sama pembahasannya dan ceritanya juga itu lagi, itu lagi. Mereka tak habis dimakan waktu. Mereka selalu ada sepanjang masa. Mereka selalu ada saat kita baru lahir, anak-anak, remaja, dewasa, lanjut usia, hingga tutup usia.

Negeri yang kita cintai, Indonesia, mempunyai banyak sekali cerita rakyat. Hal ini didukung dengan banyaknya suku dan budaya yang ada di Indonesia. Setiap cerita rakyat itu kadang kala dihubungkan dengan terjadi sebuah tempat atau asal usul nama tempat. Apakah itu benar? Tidak ada yang bisa memastikan kebenarannya. Cerita rakyat awalnya hanyalah cerita lisan yang diceritakan oleh ibu kepada anaknya, nenek kepada cucunya, begitu seterusnya hingga akhirnya kini cerita rakyat dapat kita baca dengan mudah, tanpa harus menunggu ibu atau nenek kita bercerita.

Bersambung ­čÖé

Gambar

Cerita Rakyat Banten: Asal muasal Batu Kuwung

Ki Sarmin adalah seorang saudagar yang sangat kaya. Ia amat baik hati dan suka membantu. Suatu ketika, musibah menimpanya. Tiba-tiba saja kakinya lumpuh dan tidak ada yang mampu menyembuhkan. Ki Samir tabah dan sabar menghadapi hal itu. Ia banyak berdoa kepada yang Maha Kuasa supaya diberikan kesembuhan.

Pada suatu malam, seorang lelaki tua mendatangi Ki Sarmin dalam mimpi. Lelaki tua itu berkata: “Kalau ingin penyakitmu sembuh, pergilah engkau seorang diri ke kaki Gunung Karang. Temukan satu batu cekung, lalu bertapalah selama empat puluh malam diatas batu itu. Di akhir tapamu, air panas akan memancar dari batu itu. Mandilah engkau dengan air itu pun akan sembuh.” Continue reading