Tanpa Gawai, Bisakah?

Saya pernah baca sebuah quote yang berbunyi kira-kira seperti ini

“TIDAK APA-APA ANAK MEMBUAT RUMAH BERANTAKAN, DARIPADA OTAK ANAK YANG BERANTAKAN KARENA KESERINGAN PEGANG GAWAI”

Saya yakin semua sepakat, gawai bukan mainan untuk anak-anak, sedini mungkin penggunaan gawai pada anak-anak harus dibatasi. Kita harus mengembalikan kebiasaan anak pada kebiasaan normalnya anak-anak, bermain dan bermain, walau menjadikan rumah berantakan. Namun, saya tak ingin panjang lebar cerita tentang negatifnya gawai. Sebagai orangtua, saya paham banget, bukan sesuatu yang mudah menjauhkan anak kita dari gawai. Ketika kita melarang penggunaan gawai, orang-orang di sekitar pergaulan anak kita begitu lekat dengan gawai.

Hari ini anak saya, Kenan meminjam smartphone saya, tujuannya mau bermain piano (aplikasi permainan yang saya pasang khusus untuk Kenan). Namun, saya memberlakukan sistem alarm 10-15 menit. Jika alarm berbunyi, smartphone harus dikembalikan pada saya.

Di sinilah salah satu titik kelemahan saya sebagai orangtua, dengan mudahnya memberikan gawai karena saya membutuhkan waktu untuk mengeksekusi sebuah ide menulis. Belum 5 menit Kenan memegang gawai, Kenan mendekati saya dan meminta saya menemaninya bermain. Rasanya kepala ini sudah akan meluber karena ide yang belum tertulis. Kenan tak mau main sendiri dan keukeuh minta saya temani.

Dalam hati saya berujar, seharusnya saya senang, karena Kenan mau memainkan gawai bersama saya, mungkin kelak ketika usianya kian bertambah, Kenan tak mau lagi bermain dengan saya, dia lebih senang bermain dengan teman-temannya.

Saya tarik napas panjang. “Oke ayo main,” kata saya. Senyum Kenan begitu lebar menyambut kata-kata saya.

Jadilah kami gantian bermain melalui aplikasi piano. Keceriaan terpancar di wajah Kenan. Rasanya saya merasa berdosa telah menolak ajakan Kenan untuk bermain.

Sampailah kami pada permainan melukis di aplikasi tersebut. Saya mengajak Kenan untuk menulis huruf pada media corat-coret itu dan Kenan pun setuju. Dalam hati saya berujar lagi, betapa susahnya mengajak Kenan menulis, sekarang mau menulis huruf walau menggunakan gawai, tak apalah, yang penting bermanfaat.

Kenan sudah mengenal huruf hingga bisa menyebutkan suku kata secara lisan dengan baik. Satu saja yang saya masih harus dilatih adalah menulis dan membaca. Kenan seakan malas membaca, dan selalu menolak jika diajak belajar baca. Demikian juga menulis, Kenan benar-benar tidak mau. Hanya kadang-kadang saja mau menulis atau menebalkan. Nah, akhirnya mau menulis melalui gawai, itu sangat baik menurut saya. Ini pun mungkin hanya dilakukan hari ini, besok lagi belum tentu mau.

Jadi apakah tanpa gawai itu bisa? Bisa YA, bisa juga TIDAK. Saya sendiri sebagai orangtua tidak melarang mati-matian pada Kenan untuk tidak menyentuh gawai. Saya berusaha mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari gawai itu, tetapi dengan durasi yang sesingkat mungkin.

Gawai memiliki banyak manfaat bagi anak, jika dimanfaat dengan baik oleh orangtua. Namun kita harus waspada terhadap dampak dari penggunaan gawai secara berlebihan.

Beberapa catatan saya tentang pemberian gawai pada anak.

(1) Penggunaan gawai pada anak tidak lebih dari 1 jam sehari, paling maksimal 2 jam sehari.

(2) Sebisa mungkin dampingi anak ketika sedang bermain dengan gawai.

(3) Jangan sekali-kali memperkenalkan anak usia batita/balita pada games di gawai. Pilih satu aplikasi edukasi yang bermanfaat buat anak, misalnya bermain piano.

(4) Jangan jadikan gawai sebagai pilihan untuk mengisi waktu menunggu.

Akhir kalimat, tak apa-apa rumah berantakan setiap saat, yang penting anak tidak kecanduan gawai.

Ibu di Rumah: Mengajak Anak Lanang Menulis

Ibu di rumah selalu mempunyai segudang cerita untuk dituliskan, salah satunya tentang mengajak anak belajar menulis (menebalkan huruf). Mungkin cerita ini hanya cerita biasa bagi banyak orang, tetapi bagi saya sangat luar biasa.

Hampir setiap hari saya mengajak anak lanang membuka buku, kadang hanya aktivitas ringan seperti menarik garis, memasangkan gambar, atau mencari jejak. Untuk aktivitas menulis dan membaca, anak lanang lebih sering menolak. Nah, ketika anak lanang benar-benar mau berlatih menulis, saya tidak sia-siakan waktu itu. Walaupun menulis tanpa meja, karena maunya anak lanang begitu, lanjut saja. Continue reading

Dilema Ibu (Menulis) di Rumah

Ketika saya memutuskan diam (kerja menulis) di rumah dan tak ingin terikat kontrak menjadi karyawan di mana pun serta saya ingin lebih banyak waktu untuk anak lanang, saya tahu ada banyak sekali risiko dan tantangannya. Risiko pertama adalah saya tidak punya penghasilan tetap. Lalu tantangannya lebih pada bagaimana saya menguasai diri, mengatur waktu, antara menemani anak lanang dan pekerjaan editing tiba-tiba serta keinginan menulis.

Continue reading

Anak Aktif Suka Membantu

Ayah, Kenan aja yang palu
Ayah, Kenan aja….
Ayah, Kenan aja….
Bunda, Kenan yang goreng telur
Bunda, Kenan aja….
Bunda, Kenan aja….

Begitu Kenanutama Sinduaji yang kini berusia 4,5 tahun. Semua pekerjaan di rumah maunya dia yang kerjakan.

Ketika seorang anak usia 4-5 tahun membantu kegiatan di rumah, sebenarnya sama saja dengan memperlama pekerjaan itu selesai. Kadang, saya tidak bisa menahan marah karena pekerjaan yang seharusnya selesai cepat malah jadi tidak selesai bahkan jadi berantakan. Saya rasa ini dialami oleh semua orang tua yang miliki anak balita. Continue reading

Ibu di Rumah: Membacakan Buku untuk Anak (Batita, Balita)

“Ayo, masuk kamar. Mau dibacain buku apa?” Begitulah ajakan saya setiap malam ketika mau tidur. Bahkan ketika Kenan tidak mau tidur, rayuan membaca buku ini dan itu, bisa membuatnya menurut untuk masuk ke kamar.

Setiap malam, mulut saya harus siap membacakan paling sedikit 2 cerita atau dua buku bergambar. Nah, kebetulan beberapa hari ini, buku saya menjadi pilihan pertama untuk dibacakan. Saya senang sekali bisa memikat hati anak lanang melalui buku karya saya sendiri.

Continue reading