CEMARA YANG PONGAH, HC ANDERSEN

Cemara yang Pongah

Karya HC Andersen

Di hutan yang sangat subur, tumbuhlah sebatang pohon cemara kecil. Di sekelilingnya juga tumbuh pohon pinus dan pohon cemara lainnya. Cemara Kecil banyak terkena cahaya matahari dan udara segar.

Cemara Kecil memiliki semangat hidup yang sangat besar. Ia selalu berkhayal menjadi Cemara yang besar dan tinggi. Ia terlalu sibuk dengan khayalannya, dan tak peduli dengan sekelilingnya. Ia tak peduli akan hangatnya cahaya matahari dan udara segar. Ia juga tak mempedulikan anak-anak yang bermain di dekatnya. Anak-anak itu sering mengaguminya.

“Lihat! Cemara Kecil ini cantik sekali, ya!” Tapi, Cemara Kecil itu tak suka mendengarnya.

“Oh, andai saja aku besar seperti yang lain!” keluh Cemara Kecil. “Aku akan merentangkan cabang-cabangku. Dengan puncakku, aku dapat memandang alam bebas. Burung-burung akan bersarang di cabangku. Aku akan mengangguk-angguk lembut saat angin berhembus.”

Cemara Kecil selalu merasa tak bahagia. Ia tak dapat menikmati sinar cahaya matahari. Ia juga tak mendengar kicauan burung-burung yang menghiburnya. Kelembutan awan yang menyelimutinya pada pagi dan siang hari tak dirasakannya.

Sekarang musim dingin tiba. Salju mulai bertebaran. Kelinci-kelinci sering melompati Cemara Kecil. Oh, menjengkelkan cekali!

Tak terasa dua musim dingin berlalu. Menjelang musim dingin ketiga, Cemara Kecil mulai tinggi. Sekarang ia menjadi Cemara Muda.

“Asyik, sekarang aku tumbuh tinggi,” pikirnya senang.

Cemara Muda bergidik ketika melihat Cemara tertinggi dirobohkan. Ya, setiap musim gugur, penembang kayu selalu merobohkan beberapa pohon cemara yang tinggi. Cabang-cabangnya dipangkas dan diangkut dengan gerobak.

“Apa yang terjadi pada mereka, ya? Dibawa ke mana mereka?” Cemara Muda jadi penasaran.

Saat musim semi tiba, Burung Layang-layang dan Bangau terbang dan hinggap di dekap Cemara Muda. Cemara itu bertanya, “Apa yang terjadi dengan cemara-cemara yang dirobohkan itu?”

“Wah, aku tak tahu,” jawab Bangau. “Tapi, ketika aku terbang dari Mesir, aku melihat banyak kapal baru. Di kapal itu ada tiang besar yang terbuat dari pinus. Mereka titip salam untukmu.” Continue reading

Cerita Rakyat dari Kalimantan Barat: Batu Menangis

Sumber:

kover-depan-smi

Rosa, Dea. 2007. Cerita Rakyat 33 Provinsi dari Aceh Sampai Papua. Yogyakarta: Indonesiatera

Batu Menangis

Bagaikan bulan yang elok, tubuh laksana pualam, rumput terurai seperti mayang… itulah umpama yang pantas untuk gadis cantik yang tinggal bersama ibunya yang sederhana di sebuah desa terpencil itu. Semua orang akan mengakuinya saat memandang gadis itu. Tak henti-hentinya ia merias dirinya. Cermin di dinding rumahnya tak jemu meski gadis nan elok itu terus memandanginya. Namun mereka terbius kecantikan itulah si gadis ini jadi angkuh dan malas. Ia tak sadar bahwa keelokan yang dikaruniakan Tuhan itu adalah berkah yang harus disyukuri dengan kerendahan hati.

Ibu gadis ini adalah ibu yang lembut, baik hati dan bijak. Ia dengan sabar menemani gadis ini. Ia hanya berharap suatu ketika anak gadisnya menyadari betapa keelokan parasnya tak ada guna apabila hatinya angkuh. Makin sedih juga sang ibu melihat anaknya yang cantik itu juga pemalas, dan kemauannya harus selalu dituruti meskipun kadang tidak masuk akal. Tetapi sang ibu terus berusaha menuruti apa yang dikehendaki anak gadisnya itu. Di dalam harinya ia berdoa, semoga Tuhan menolong dia menyadarkan anak gadisnya itu. Ibu itu tak punya daya untuk mengubahnya. Continue reading

Cerita Rakyat Jawa Tengah: Terjadinya Kota Magelang (Bagian Terakhir)

Pada waktu itu Sonta sedang menikmati balas dendamnya dengan senang hati. Sonta merasa gembira karena telah berhasil menyengsarakan pasukan Mataram dari penduduk desa tersebut. Bagi Kyai Keramat yang lagi menikmati istirahatnya, agak terkejut melihat Pangeran Purbaya beserta pengiringnya datang di rumahnya. Pangeran Purbaya memberitahukan bahwa kedatangannya ialah bermaksud memberi tahu bahwa pembuat malapetaka di desa itu adalah Sonta, abdi Kyai Keramat. Tentu saja Kyai Keramat gugup mendengar pemberitahuan dari Pengeran Purbaya. Menurut Kyai Keramat, Sonta itu seorang abdi yang lugu, yang tidak mempunyai keistimewaan.

Mendengar pembicaraan Pangeran Purbaya dengan Kyai Keramat tersebut, Sonta lari meninggalkan rumah Kyai Keramat. Kepergian Sonta itu diketahui Kyai Keramat dari bayang-bayang Sonta. Dikejarnya Sonta. Sesampai di suatu tempat terjadilah adu kekuatan antara Sonta dan Kyai Keramat. Ternyata Sonta itu penyamaran dari Jin Sepanjang. Dan Sonta lebih sakti daripada Kyai Keramat. Maka tewaslah Kyai Keramat. Sedang Raja Jin Sepanjang atau Sonta kabur meninggalkan tempat itu.

Pangeran Purbaya mengetahui perkelahian antara dua orang sakti tersebut, tidak dapat mencegahnya. Akhirnya jenazah Kyai Keramat dimakamkan di tempat perkelahian itu. Dan tempat tersebut sampai sekarang dinamai Desa Keramat.

Nyai Bogem melihat mayat suaminya, marahlah ia mengejar Sonta yang melarikan diri ke arah timur.

Ternyata Nyai Bogem dapat mengejar Sonta di suatu tempat. Terjadilah pertempuran antara Sonta dan Nyai Bogem. Karena kesaktian Sonta yang tidak tertandingi, tewaslah Nyai Bogem. Continue reading

Cerita Rakyat Jawa Tengah: Terjadinya Kota Magelang (Bagian 3)

Larilah Rara Rambat menuju rumahnya. Peristiwa tersebut diceritakan kepada orang tuanya yaitu Kyai Keramat dan Nyai Bogem. Kedua orang tuanya gembira sekali mendengar kejadian yang diceritakan anaknya.

Melihat Rara Rambat lari meninggalkannya, Raden Kuning mengikuti dari belakang. Sampailah Raden Kuning di rumah orang tua Rara Rambat.

Waktu bertemu dengan orang tua Rara Rambat, mereka saling memperkenalkan diri. Tak lama kemudian, Raden Kuning meyatakan maksudnya untuk meminang Rara Rambar. Orang tua Rara Rambat senang sekali mendengar maksud Raden Kuning untuk meminang anaknya. Mereka sangat gembira akan mempunyai menantu seorang pangeran dari Kerajaan Mataram.

Continue reading

Cerita Rakyat Jawa Tengah: Terjadinya Kota Magelang (Bagian 2)

Kemudian muncullah niat Penembahan Senopati untuk memperluas wilayah kerajaan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Panembahan Senopati minta pendapat kepada Ki Gede Pemanahan. Nasihat yang diberikan Ki Gede Pemanahan yaitu memperkuat bala tentaranya sehingga dapat digerakkan untuk menaklukkan wilayah bagian lain.

Langkah pertama yang ditempuh yaitu membuka daerah membuka daerah hutan di Kedu. Konon Hutan Kedu tersebut masih merupakan semak belukar yang masih angker. Karena tempat tersebut tidak pernah dikunjungi manusia.

Menurut kepercayaan masyarakat setemppat, Hutan Kedu itu merupakan kerajaan Jin dengan rajanya bernama Jin Sepanjang. Continue reading

Cerita Rakyat Jawa Tengah: Terjadinya Kota Magelang (Bagian 1)

Dahulu kala Kerajaan Pajang dengan rajanya bernama Sultan Hadiwijaya. Sedang Kadipaten Jipang dipimpin olah Arya Penangsang. Kedua tokoh tersebut saling berselisih. Arya Penangsang dikenal sebagai orang yang sombong, karena keampuhannya.

Perselisihan kedua tokoh tersebut mengakibatkan perang sehingga banyak korban berjatuhan dari kedua daerah.

Saat pertempuran itu terjadi, Hadiwijaya memberi kepercayaan kepada Danang Sutawijaya sebagai panglima perang. Danang Sutawijaya adalah anak angkat Sultan Hadiwijaya. Danang sebagai senopati perang didampingi oleh Ki Gede Pemanahan.
Continue reading

Cerita Rakyat Sulawesi Selatan: La Dana dan Kerbaunya

La Dana adalah seorang anak petani dari Toraja. Ia sangat terkenal akan kecerdikannya. Kadangkala kecerdikan itu ia gunakan untuk memperdaya orang. Sehingga kecerdikan itu menjadi kelicikan.

Pada suatu hari ia bersama temannya diundang untuk menghadiri pesta kematian. Sudah menjadi kebiasaan di tanah toraja bahwa setiap tamu akan mendapat daging kerbau. La Dana diberi bagian kaki belakang dari kerbau. Sedangkan kawannya menerima hampir seluruh bagian kerbau itu kecuali bagian kaki belakang.

Continue reading