Ibu di Rumah Harus Bijak Bertindak dan Jadi Nasabah Bijak, Walau Diserbu Tawaran Pinjol yang Menggiurkan

Sumber: Laman Nasabah Bijak

Belum lama ini pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi. Imbasnya semua bahan kebutuhan pokok harganya naik. Sebelum BBM naik, harga telur sudah sangat mahal.

Tidak hanya kebutuhan pokok, rasanya semua barang yang dibeli harganya naik. Biskuit jajajan anak pun turut naik harganya.
Akhirnya, yang paling merasakan dampak dari kenaikan harga BBM adalah ibu rumah tangga alias ibu di rumah. Uang belanja tidak bertambah, tetapi pengeluaran bertambah. Ibu di rumah harus memutar uang sekaligus memutar otak demi terpenuhinya kebutuhan seluruh anggota keluarga.

Saat semuanya serba digital, sekali klik semuanya bisa beres, tidak sedikit bahaya yang mengintai. Tanpa uang, bisa belanja ini dan itu semudah membalikkan telapak tangan.

Sebagai ibu di rumah, saya benar-benar di rumah, lho. Belanja sayur dan belanja apa pun saya lakukan melalui secara digital. Inilah kemudahan teknologi. Namun, tetap ibu di rumah harus bijak berbelanja online, mengingat penawaran menggiurkan dari berbagai bank digital atau pinjaman online. Ibu di rumah harus tetap cerdas menjadi nasabah bijak.

Paylater yang Menggiurkan
Saya membeli sayur dan kebutuhan rumah lainnya melalui sebuah market place. Saat ada cukup uang, tinggal klik-klik bayar, semuanya beres. Lalu, saat kondisi keuangan menipis, masih tetap bisa belanja lho! Tanpa uang kita bisa tetap bisa berbelanja menggunakan layanan paylater pada market place. Paylater sama saja dengan membayar secara kredit dengan jangka waktu bayar sesuai keinginan.

Sungguh tawaran yang menggiurkan bagi ibu di rumah, di saat kebutuhan meningkat, keuangan menipis, diberi pilhan terlambat bayar. Namun, ibu di rumah harus tetap bijak dalam mengambil keputusan dan jadilah nasabah bijak. Tawaran-tawaran mengguirkan dari bank online atau pinjaman online melalui paylater market place harus disikapi secara bijak dan waspada. Karena selain kemudahan yang diberikan, tidak sedikit bahaya kejahatan siber mengintai.

Sumber: www.freepik.com

Sebagai ibu di rumah, harus tetap waspada melindungi diri dari kejahatan siber. Salah satu contoh kejahatan siber yang harus diwaspadai adalah rekayasa sosial atau Social Engineering (Soceng), yaitu ketika pelaku memanipulasi psikologis korban untuk membocorkan data pribadi dan data perbankan korban. Kadang kita bisa menjadi lalai dan kurang waspada, saat dihimpit kebutuhan ekonomi dan ingin cepat mendapatkan uang.

Ibu di Rumah Harus Jadi Nasabah Bijak Sekaligus Penyuluh Digital

Ibu di rumah alias ibu rumah tangga sangat mudah tergoda oleh tawaran menggiurkan yang berkaitan dengan uang sehingga menjadi sasaran empuk bagi pelaku Soceng. Sebagai seorang ibu di rumah, saya mengajak ibu-ibu semua untuk selalu bersikap bijak dan menjadi nasabah bijak.

Sumber: Instagram @nasabahbijak

Ibu di rumah bisa menghindarkan diri dari penipuan-penipuan kejahatan siber. Bagaimana caranya?

Dikutip dengan penyesuaian dari infografis yang diunggah Instagram @nasabahbijak ada tiga cara terhindar dari penipuan.
1. Lindungi data pribadi dengan selalu aware dengan apa yang di-share. Jadi, jangan memberikan data pribadi secara sembarangan. Data pribadi yang dimaksud adalah nomor NIK, nama ibu kandung, PIN, dan sebagainya.
2. Jangan mudah percaya dengan orang tak dikenal. Saat ada yang menghubungi melalui telepon jangan langsung percaya. Lakukan double check apabila lembaga keuangan menghubungi dan mendesak untuk membuat keputusan cepat.
3. Pahami persyaratan dan mekanisme dengan teliti. Jangan mudah tergiur dengan kemudahan mekanisme dan syarat yang dijabarkan, terlebih lagi kalau diminta untuk memberikan OTP, PIN, atau bahkan uang muka, baik itu pinjaman investasi maupun produk atau layanan jasa keuangan apapun.

Tiga cara di atas adalah cara paling minimal yang bisa kita lakukan untuk menghindarkan diri dari penipuan pelaku kejahatan siber. Begitu banyak informasi di media sosial tentang kejahatan siber.

Saat ada tawaran pinjaman online, tawaran investasi dari bank, misalnya seseorang yang mengatasnamakan Bank BRI, lakukan konfirmasi langsung ke call center Bank BRI. Jadilah ibu cerdas dan nasabah bijak, jangan terbuai oleh iming-iming hadiah dan lainnya, langsung hubungi Call Center BRI 14017/1500 017 atau email: callbri@bri.co.id. Melalui call center atau email itu kita bisa menanyakan dan mengonfirmasi perihal kebenaran informasi yang kita terima.

Kejahatan siber mengintai siapa saja, kapan saja, dan dalam bentuk bermacam-macam. Saat kita (ibu di rumah) mendapatkan informasi menarik dan menggiurkan tentang kemudahan pinjaman online, atau mendapat undian online, jangan asal membagikan di media sosial. Biasanya ibu-ibu, serba gerak cepat, asal share sana share sini. Lakukan konfirmasi terlebih dahulu, asal-muasal informasinya. Meskipun berada di rumah, ibu di rumah bisa menjadi Penyuluh Digital, memberikan informasi digital yang benar, akurat, dan terpercaya. Mari kita saling berbagi informasi yang berdaya dan berguna saat bermedia sosial.
Ibu di rumah bisa menjadi Nasabah Bijak dan Penyuluh Digital.

Koordinasi Antarkota Antarprovinsi Menjadi Lancar Karena Ada IndiHome

IndiHome sangat membantu profesi saya. Mau tahu, apa profesi saya? Hanya seorang ibu di rumah yang ……

Profesi apa sih yang saat ini tidak berkaitan dengan internet. Rasa-rasanya tidak ada, ya. Semua profesi membutuhkan adanya jaringan internet. Kita tidak berbicara tentang WFH atau WFO saat pandemi atau endemi. Sebelum terjadinya pandemi internet sudah sangat dibutuhkan oleh semua profesi yang ada salah satunya, profesi penulis.

Profesi saya adalah penulis. Tetapi penulis yang juga menjadi Ibu di rumah, penulis yang juga editor freelance, penulis yang juga layouter, penulis yang juga merancang buku, dan penulis yang menerima pesanan naskah buku. Itulah profesi saya, penulis yang tidak sekadar menulis.

Sebagai ibu di rumah, mengerjakan layout buku sambil menyuapi anak.
Continue reading “Koordinasi Antarkota Antarprovinsi Menjadi Lancar Karena Ada IndiHome”

Kalau Tidak Ada IndiHome Apa Jadinya?

Bun, IndiHome-nya sudah dibayar belum?” tanya si Kakak suatu pagi saat mendekati jam masuk sekolah.

“Belum, gimana dong? Kakak tidak usah sekolah saja ya?” jawab saya.

“Enggak mau, aku mau sekolah,” kata si Kakak merengut.

“Bercanda, Kak,” sahut saya sambil menggelitiknya. Si Kakak tertawa sambil diakhiri manyun.

Apa jadinya kalau tidak ada IndiHome dari Telkom Indonesia? Si Kakak tak bisa sekolah daring, saya tak bisa leluasa berseluncur di dunia digital, saya tak bisa berjualan daring, Pak Suami tidak bisa meeting online, saya harus menanggung tagihan pulsa setiap orang yang ada di rumah, dan masih banyak lagi yang berkaitan dengan internet. Apalagi saat ini segala sesuatu kepentingan akan berhubungan yang namanya internet. Jadi, tanpa adanya jaringan internet yang bagus, akan banyak gagal segala urusan.

Sejak pindah ke rumah kami di Depok, tiga tahun lalu, kebutuhan akan internet menjadi salah satu kebutuhan utama. Di tambah lagi, pandemi melanda dunia. Terkhusus di bidang pendidikan, manfaat internet menjadi sungguh-sungguh nyata. 

Anak pertama saya harus lulus dari TK secara daring, kemudian daftar sekolah SD hingga tes kemampuan masuk SD dilakukan secara daring via Zoom. Lalu, selama satu tahun penuh duduk di kelas satu secara daring. Kini, dia akan duduk di kelas dua SD.

Lulus TK Secara Daring

Saat si Kakak masih duduk di TK B, kelas via Zoom tidak dilakukan setiap hari, hanya 1-2 kali dalam seminggu. Tugas harian sekolah dikomunikasikan dan dikumpulkan via Grup WhatsApp.

Saat si Kakak mengerjakan tugas dari guru TK-nya. Photo Collage-nya dikirim melalui Grup WhatsApp.

Saya sebagai orangtua sebenarnya cukup gemes dengan keadaan itu, dengan adanya internet tidak terbatas dari IndiHome sayang sekali jika tidak diadakan kelas via Zoom. Harapannya bisa Zoom setiap hari supaya bisa menggantikan waktu yang hilang karena harus sekolah dari rumah. Si Kakak pun senang sekali saat bisa masuk kelas Zoom. Tapi pihak sekolah (mungkin) tidak memiliki biaya yang cukup untuk Zoom berbayar atau tidak langganan IndiHome yang merupakan Internetnya Indonesia.

Saat si Kakak duduk di TK B, sedang pertemuan pertama dengan teman-teman di kelas Zoom.
Continue reading “Kalau Tidak Ada IndiHome Apa Jadinya?”