Resensi Buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja

Keistimewaan Read Aloud dalam Proses Belajar Membaca Tanpa Mengeja

JUDUL BUKU : Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja
PENULIS : Vidya Dwina Paramita
PENERBIT : Bentang
CETAKAN : Pertama, Maret 2020
TEBAL : xii + 192 halaman
ISBN : 978-602-291-690-1

Membaca buku ini mengingatkan saya pada pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, tentang pendidikan anak usia dini yang berbunyi: kesenangan dalam belajar lebih penting daripada calistung. Di usia emasnya, anak-anak usia dini memang tak perlu dibebani dengan kewajiban belajar seperti harus bisa membaca, bisa berhitung, dan bisa menulis. Anak-anak usia dini harus belajar dengan hati senang tanpa terbeban.

Namun, fakta yang terjadi orang tua menjadi resah saat anak mereka yang duduk di bangku taman kanak-kanak belum bisa membaca. Saat sekolahnya dianggap tak mampu mengajari anak mereka membaca, anak-anak yang masih suka bermain ini harus menghabiskan waktu di tempat les calistung karena saat anak masuk SD harus bisa membaca.

Baca juga: Resensi buku Seni Berbicara pada Anak Panduan Mendidik Anak Tanpa Ngegas

Cara instan belajar membaca pada akhirnya akan membuat anak tidak mencintai proses “belajar” hingga akhirnya takut pada “belajar”.

Mengajari anak usia dini belajar membaca bukanlah sebuah kesalahan, namun orang tua perlu memahami tahap belajar membaca yang benar sehingga anak tidak stres saat harus belajar.

Dalam buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja, Vidya Dwina Paramita, menjabarkan pengalamannya sebagai praktisi pendidikan anak usia dini, saat mempraktikkan belajar membaca tanpa mengeja dengan metode Montessori.

Melalui buku ini, Vidya mengajak para orang tua dan guru untuk merenung sejenak dan memikirkan kembali cara-cara dan metode yang digunakan untuk mengajarkan baca tulis pada anak-anak. Apakah cara-cara yang dilakukan sudah cukup membantu anak tumbuh menjadi pembelajar sepanjang hayat? Apakah betul kita sudah membantu anak-anak? Atau, jangan-jangan kitalah yang membuat anak-anak tak menyukai proses seumur hidup bernama “belajar”?

Dalam Montessori, terdapat dua tahap dalam pengajaran membaca. Tahap yang pertama adalah Tahap Pra-Membaca dan yang kedua adalah Tahap Teknis Membaca. Biasanya, kita sibuk berkutat pada tahap yang kedua, sementara kunci utama kesuksesan ternyata justru ada pada tahap pra-membaca. (Hal. 37)

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap pra-membaca, di antaranya berbincang, bernyanyi, mendengar kata-kata berima, menyimak dongeng, dan read aloud. Mengingat pentingnya kegiatan read aloud dalam tahap belajar membaca tanpa mengeja, Vidya membahas secara khusus pentingnya read aloud pada halaman 47 sampai dengan halaman 54.

Kenapa read aloud begitu istimewa? Ada 4 alasan, pertama, read aloud membantu memperkuat bonding antara orang tua dan anak. Kedua, read aloud membangun cinta segitiga antara orang tua, anak, dan buku. Ketiga, melalui read aloud, anak mendapat asupan kosakata bahasa baku. Keempat, read aloud dapat meningkatkan prestasi akademis. Berdasarkan keempat alasan itu disimpulkan bahwa kemampuan akademis (membaca dan menulis) dimulai dengan kemampuan mendengar. Anak mengumpulkan kosakata yang ia dengar. Ia memahami meskipun belum dapat ia sampaikan secara verbal (berbicara).

Ketika tahap pra-membaca telah terlewati, selanjutnya ada tiga syarat utama pengajaran kemampuan membaca bagi anak usia dini. Pertama, kegiatannya harus dipastikan merupakan kegiatan yang menyenangkan. Kedua, kegiatannya merupakan kegiatan yang bermakna. Ketiga, kegiatannya sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Dalam buku ini, Vidya menjabarkan dengan detail tahap teknis membaca yang bisa diikuti oleh orang tua dan guru dengan sangat mudah. Dan, seluruh kegiatan dalam tahap ini amat kental dengan peralatan yang digunakan di kelas Montessori.

Bagaimana tahap praktis membaca tanpa mengeja dimulai? Pada tahap awal pengenalan huruf, dalam Montessori dikenal metode fonik. Dengan metode ini anak dilatih untuk mengenali bunyi huruf, bukan nama huruf dalam alfabet. Anak yang terbiasa mengenali bunyi huruf yang terdapat dalam kata terbukti dapat segera mengorelasikan deretan huruf yang ia baca dengan maknanya (hlm. 65).

Kemudian, orang tua atau guru dapat mengikuti tahap demi tahap praktis belajar membaca dengan mudah. Namun, satu hal yang sering kali diingatkan Vidya, bahwa semua kegiatan yang dilakukan bersama anak saat belajar membaca harus menyenangkan.

Resensi ini ditulis oleh Paskalina Askalin