Kebaikan oleh Semua, Kumpulan Dongeng dan Cerita Anak

Judul: Kebaikan oleh Semua, Kumpulan Dongeng dan Cerita Anak
Penulis: Kelompok Cinta Anak Cinta Buku
Terbit September 2020

Di zaman yang serba instan dan serba digital seperti sekarang ini nilai kebaikan hampir hilang. Anak-anak cenderung bersikap egois, tidak peduli pada lingkungan sekitarnya. Untuk menjadi peduli dan baik pada orang di sekitarnya, anak-anak harus diberi tahu atau ditugasi untuk berbuat baik atau peduli.

Tentunya, kita tidak berharap generasi muda di masa depan menjadi manusia yang angkuh dan tidak peduli. Karenanya, anak-anak harus diberi “suplemen bacaan” yang bernilai karakter baik, salah satunya nilai kebaikan.

Nilai kebaikan merupakan salah satu nilai karakter yang mampu menyatukan perbedaan, hingga menghilangkan perbedaan itu. Menurut saya, sangat tepat saat penulis dari Kelompok Cinta Anak Cinta Buku memilih “kebaikan” menjadi tema besar untuk keseluruhan cerita dalam buku kumpulan cerita anak ini. Oleh karena itu, buku ini layak dibacakan untuk anak. Bahkan, orang dewasapun sambil membacakan untuk anaknya juga dapat mengambil manfaatnya.

Continue reading “Kebaikan oleh Semua, Kumpulan Dongeng dan Cerita Anak”

Resensi Buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja

Keistimewaan Read Aloud dalam Proses Belajar Membaca Tanpa Mengeja

JUDUL BUKU : Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja
PENULIS : Vidya Dwina Paramita
PENERBIT : Bentang
CETAKAN : Pertama, Maret 2020
TEBAL : xii + 192 halaman
ISBN : 978-602-291-690-1

Membaca buku ini mengingatkan saya pada pernyataan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, tentang pendidikan anak usia dini yang berbunyi: kesenangan dalam belajar lebih penting daripada calistung. Di usia emasnya, anak-anak usia dini memang tak perlu dibebani dengan kewajiban belajar seperti harus bisa membaca, bisa berhitung, dan bisa menulis. Anak-anak usia dini harus belajar dengan hati senang tanpa terbeban.

Namun, fakta yang terjadi orang tua menjadi resah saat anak mereka yang duduk di bangku taman kanak-kanak belum bisa membaca. Saat sekolahnya dianggap tak mampu mengajari anak mereka membaca, anak-anak yang masih suka bermain ini harus menghabiskan waktu di tempat les calistung karena saat anak masuk SD harus bisa membaca.

Baca juga: Resensi buku Seni Berbicara pada Anak Panduan Mendidik Anak Tanpa Ngegas

Cara instan belajar membaca pada akhirnya akan membuat anak tidak mencintai proses “belajar” hingga akhirnya takut pada “belajar”.

Mengajari anak usia dini belajar membaca bukanlah sebuah kesalahan, namun orang tua perlu memahami tahap belajar membaca yang benar sehingga anak tidak stres saat harus belajar.

Dalam buku Montessori: Keajaiban Membaca Tanpa Mengeja, Vidya Dwina Paramita, menjabarkan pengalamannya sebagai praktisi pendidikan anak usia dini, saat mempraktikkan belajar membaca tanpa mengeja dengan metode Montessori.

Melalui buku ini, Vidya mengajak para orang tua dan guru untuk merenung sejenak dan memikirkan kembali cara-cara dan metode yang digunakan untuk mengajarkan baca tulis pada anak-anak. Apakah cara-cara yang dilakukan sudah cukup membantu anak tumbuh menjadi pembelajar sepanjang hayat? Apakah betul kita sudah membantu anak-anak? Atau, jangan-jangan kitalah yang membuat anak-anak tak menyukai proses seumur hidup bernama “belajar”?

Dalam Montessori, terdapat dua tahap dalam pengajaran membaca. Tahap yang pertama adalah Tahap Pra-Membaca dan yang kedua adalah Tahap Teknis Membaca. Biasanya, kita sibuk berkutat pada tahap yang kedua, sementara kunci utama kesuksesan ternyata justru ada pada tahap pra-membaca. (Hal. 37)

Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada tahap pra-membaca, di antaranya berbincang, bernyanyi, mendengar kata-kata berima, menyimak dongeng, dan read aloud. Mengingat pentingnya kegiatan read aloud dalam tahap belajar membaca tanpa mengeja, Vidya membahas secara khusus pentingnya read aloud pada halaman 47 sampai dengan halaman 54.

Kenapa read aloud begitu istimewa? Ada 4 alasan, pertama, read aloud membantu memperkuat bonding antara orang tua dan anak. Kedua, read aloud membangun cinta segitiga antara orang tua, anak, dan buku. Ketiga, melalui read aloud, anak mendapat asupan kosakata bahasa baku. Keempat, read aloud dapat meningkatkan prestasi akademis. Berdasarkan keempat alasan itu disimpulkan bahwa kemampuan akademis (membaca dan menulis) dimulai dengan kemampuan mendengar. Anak mengumpulkan kosakata yang ia dengar. Ia memahami meskipun belum dapat ia sampaikan secara verbal (berbicara).

Ketika tahap pra-membaca telah terlewati, selanjutnya ada tiga syarat utama pengajaran kemampuan membaca bagi anak usia dini. Pertama, kegiatannya harus dipastikan merupakan kegiatan yang menyenangkan. Kedua, kegiatannya merupakan kegiatan yang bermakna. Ketiga, kegiatannya sesuai dengan tahap perkembangan anak.

Dalam buku ini, Vidya menjabarkan dengan detail tahap teknis membaca yang bisa diikuti oleh orang tua dan guru dengan sangat mudah. Dan, seluruh kegiatan dalam tahap ini amat kental dengan peralatan yang digunakan di kelas Montessori.

Bagaimana tahap praktis membaca tanpa mengeja dimulai? Pada tahap awal pengenalan huruf, dalam Montessori dikenal metode fonik. Dengan metode ini anak dilatih untuk mengenali bunyi huruf, bukan nama huruf dalam alfabet. Anak yang terbiasa mengenali bunyi huruf yang terdapat dalam kata terbukti dapat segera mengorelasikan deretan huruf yang ia baca dengan maknanya (hlm. 65).

Kemudian, orang tua atau guru dapat mengikuti tahap demi tahap praktis belajar membaca dengan mudah. Namun, satu hal yang sering kali diingatkan Vidya, bahwa semua kegiatan yang dilakukan bersama anak saat belajar membaca harus menyenangkan.

Resensi ini ditulis oleh Paskalina Askalin

Resensi Buku: Seni Berbicara Pada Anak, Panduan Mendidik Anak Tanpa Ngegas

Judul : Seni Berbicara Pada Anak, Panduan Mendidik Anak Tanpa Ngegas
Halaman : xx + 404
Penulis : Joanna Faber dan Julie King
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer
Tahun : Februari 2020
ISBN : 978-623-216-595-3

Cara Kreatif Mendidik Anak Tanpa Ngegas

Di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini, mencuci tangan adalah keharusan, apalagi jika sudah memegang banyak benda di luar rumah atau bepergian jauh dari rumah, sebagai orangtua kita harus terus menerus mengingatkan anak untuk mencuci tangan. Namun, bukan perkara mudah meminta anak usia 4 atau 5 tahun untuk mencuci tangan. Ada saat anak malah jadi mengamuk hanya karena diminta mencuci tangan. Alhasil, anak dan orangtua menjadi bersitegang.

 

Adakah cara yang lebih baik untuk meminta seorang anak melakukan apa yang diminta orangtuanya tanpa membuat si anak mengamuk? Adakah cara terbaik meminta si kakak berhenti mengganggu adik? Adakah cara untuk memberi tahu anak tanpa perlu emosi?

Jawabannya ada. Semuanya ada di buku Seni Berbicara pada Anak Panduan Mendidik Anak Tanpa Ngegas. Buku ini lebih lengkap dari yang Anda bayangkan. Dalam buku ini, Joanna Faber dan Julie King memberikan jawaban bagi para orangtua yang meminta strategi untuk  menghadapi si kecil. Ada anak 2 tahun yang tidak bisa diajak kerja sama, anak usia 3 tahun  yang kasar, anak 4 tahun yang galak, anak 5 tahun yang tidak bisa diatur, anak 6 tahun yang egois, dan anak 7 tahun yang tidak patuh.

Baca juga: Ulasan Buku: Mewujudkan Khayalan Anak yang Tidak Masuk Akal

Joanna Faber dan Julie King adalah pakar pendidikan dan parenting yang sudah berpengalaman puluhan tahun. Mereka berdua mendampingi banyak orangtua dalam berbagai lokakarya dan komunitas untuk menyelesaikan masalah-masalah dalam mendidik anak. Dalam buku ini adalah ratusan kisah nyata dari pengalaman Joanna dan Julie sendiri, juga pengalaman banyak orangtua (komunitas/peserta pelatihan) dalam mendidik anak tanpa emosi dan amarah, tanpa “ngegas”.

Continue reading “Resensi Buku: Seni Berbicara Pada Anak, Panduan Mendidik Anak Tanpa Ngegas”

Buku: Frühstück am Wochenende, Sarapan di Akhir Pekan

Judul: Frühstück am Wochenende, Sarapan di Akhir Pekan
Penulis: Natasha Panjaitan-Karg
Ilustrator: Arrum Aceae
Penerbit: Makmood Publisher
Tahun: 2020
ISBN: 978-623-93109-2-9

 

Dari judulnya  saja Sahabat pasti tahu jika buku ini adalah buku bilingual. Ya, memang benar. Buku ini adalah picture book dengan dua bahasa, bahasa Jerman dan bahasa Indonesia.

 

Buku ini berkisah tentang seorang anak laki-laki bernama Franz yang berkeinginan membuatkan sarapan untuk kedua orangtuanya saat akhir pekan.

Continue reading “Buku: Frühstück am Wochenende, Sarapan di Akhir Pekan”

Ulasan Buku: Mana Perilaku yang Baik dan Tidak Baik

Sudah lama sekali saya membeli buku ini, 4 atau 5 tahun yang lalu. Saya benar-benar lupa.
Buku ini buku terjemahan yang diterbitkan oleh Penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP) tahun 2013.
Baru beberapa bulan belakangan ini (tahun 2020) saya membacakan buku-buku ini untuk Kenan. Saya sebut buku-buku, karena buku ini berseri terdiri atas 4 judul, sedangkan yang saya beli hanya tiga judul. Buku ini lama tersimpan di kardus dan masih ada plastiknya.

Saat pertama kali buku ini dibacakan untuk Kenan, dia langsung suka dan setiap malam saya diminta membacakan buku-buku ini.
Buku-buku ini memiliki warna kover yang cerah, pink, biru, dan kuning. Buku lainnya yang tidak dibeli warnanya hijau. Buku ini juga memiliki ukuran yang mungil.

Kenapa Kenan suka buku ini? Mungkin ini alasannya.
– karena kover buku ini menarik, penuh warna.
– saat membaca buku ini Kenan harus memberi respons dengan memilih mana perilaku anak baik atau tidak baik, jadi Kenan merasa dilibatkan dalam cerita.
– cerita dalam buku ini sederhana, tentang kehidupan sehari-hari anak saat di rumah, ikut berbelanja, dan saat liburan keluarga, sehingga seakan-akan Kenan mengalaminya juga.

Jadi buku-buku apa yang saya maksud ini?? Inilah bukunya.

Tiga buku seri Aku Anak Baik.

Judul buku:
(1) Aku Anak Baik Saat Liburan
(2) Aku Anak Baik Saat Berbelanja
(3) Aku Anak Baik di Rumah
(4) Aku Anak Baik di Sekolah (belum punya)
Ide cerita: Nathalie Belineau
Teks: Emilie Beaumont
Ilustrasi: Sylvie Michelet

Tampilan dalam buku Aku Anak Baik Saat Berbelanja

Tampilan bagian dalam buku ini disajikan berpasangan, bagian kiri dan kanan. Bagian kiri menunjukkan perilaku anak baik, bagian kanan menunjukkan perilaku anak tidak baik atau sebaliknya. Membacakan buku ini sekaligus dapat berkomunikasi dan menanyakan kepada anak perilaku mana yang baik atau perilaku mana yang patut diikuti menjadi contoh. Jika anak memilih perilaku yang tidak baik sebagai perilaku baik, kita bisa menjelaskan kepada perilaku  mana yang seharusnya dicontoh.

Sahabat Paskalina yang terkasih, coba deh bacakan buku-buku ini untuk anak, adik, keponakan, atau siswa di sekolah. Pasti mereka akan suka dengan buku ini.😀

Note: Malam ini Kenan minta dibacakan buku-buku ini. Dia sudah mengambilnya di rak. Tapi saat mau tidur, Kenan memilih dibacakan buku-buku dari Let’s Read sebanyak 10 judul. Saya bacakan hingga buku ke-6. Di buku ke-7, Kenan sudah tertidur.

Fabel 34 Provinsi: Jambi – Harimau Pemakan Durian

Judul buku: Fabel 34 Provinsi: Jambi – Harimau Pemakan Durian
Penulis: Dian K.
Ilustrator: Orange Nira
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Tahun terbit: 2019
Tebal: 32 halaman
ISBN: 978-623-216-503-8

Fabel ini mengisahkan tentang kecerdikan sang kepala desa dalam menyelesaikan masalah yang dialami oleh penduduk desa karena ulah harimau.

Harimau setiap malam mencuri hewan ternak penduduk desa. Awalnya penduduk mengira pencuri ternak mereka adalah manusia. Ternyata setelah dilakukan penjagaan malam pencuri ternak itu ternyata seekor harimau.

Penduduk desa tidak berani menghadapi harimau itu.
Kepala desa kemudian memberi usul supaya memasang perangkap kulit durian di sekeliling kandang. Di luar dugaan, perangkap kulit durian tidak membuat harimau pergi. Harimau malah menyukai rasa manis dari kulit durian yang dijilatinya. Melihat hal itu kepala desa mengajak harimau bernegosiasi dan berhasil. Harimau berjanji tidak akan mengganggu hewan ternak penduduk desa. Sebagai gantinya harimau diperbolehkan mengambil dan makan durian sepuasnya.

Penduduk desa pun kini dapat hidup dengan tenang. Walaupun demikian, penduduk desa tetap bergiliran jaga malam untuk menjaga keamanan desa.

Akan lebih menarik jika Anda membaca buku Fabel 34 Provinsi: Jambi – Harimau Pemakan Durian secara keseluruhan. Buku ini saya rekomendasikan pada orangtua dan guru untuk dibacakan pada anak-anak. Buku ini memiliki 34 seri karena fabel berasal dari 34 provinsi di Indonesia. Mungkin Anda bisa pilih fabel yang berasal dari daerah kelahiran Anda atau daerah tempat tinggal.

Ayo bacakan buku untuk anak-anak!

Ulasan Buku: Konferensi Musim Sejagat

Sungai tampak temaram disinari cahaya lampu dari beberapa rumah warga. Sampah di pinggir sungai, di bawah jembatan, ada sesuatu yang bergerak-gerak. Adin berhenti. Dia pikir cuma sampah hanyut, tapi tampak mengeliat dan semakin membesar. Sepi. Tidak ada orang lewat lagi! Bapak-bapak belum nongkrong di pos ronda.
Benda itu makin merekah. Adin mau berteriak. Tidak bisa. Itu bukan ikan bermuka dua atau harimau putih seperti di cerita-cerita penunggu sungai. Benda itu seperti hantu Casper, tapi sekujur badannya mencuatkan aneka sampah. Pampers, kulit telur, kresek hitam, plastik putih, tali rafia, botol fresti, gelas akua, bungkus es krim, batok kelapa, ranting pohon, sedotan, …
Adin ingin berlari, tapi kekagetan memakunya. Kasihan, hantu itu diganggu sampah!

Kutipan di atas adalah ending cerita “Hantu Sampah” (hal 20-21). Akhir ceritanya cukup seram, bagi saya. Saya jadi berandai-andai, “Seandainya semua hantu sampah di Jakarta bangun dari tidurnya, apa jadinya Jakarta? Mungkin Kota Jakarta akan menjadi kota sampah.

Continue reading “Ulasan Buku: Konferensi Musim Sejagat”