Ulasan Buku: Mewujudkan Khayalan Anak yang Tidak Masuk Akal

Halo Sahabat Paskalina..

Adakah di antara Sahabat yang mengalami seperti saya. Kakak Kenan, meminta dibelikan bus dan mobil travel yang sebenar-benarnya, bukan mainan. Waduhhh, saya harus jawab apa jika begini. Miniatur mobil saja tidak terbeli apalagi aslinya.☺️

Kenan pernah minta dibelikan tongkat sulap seperti milik Nirmala. Yang diminta benar-benar tongkat sulap yang bisa mengubah apa pun. 

Keinginan anak-anak ada juga yang wajar dan bisa dijanjikan untuk membelinya saat memiliki uang. Namun tak sedikit yang menginginkan hal yang mustahil untuk diadakan.

Saking terus-menerus meminta, kadang emosi saya pun bertumbuh menjadi amarah. Saya sadar betul jika amarah bukan solusi mengatasi masalah dengan anak.

Saya mencoba mengatasi keinginan Kenan dengan terlibat langsung dalam khayalannya. Seperti ini ceritanya:

 

Continue reading “Ulasan Buku: Mewujudkan Khayalan Anak yang Tidak Masuk Akal”

Ulasan Buku: Mana Perilaku yang Baik dan Tidak Baik

Sudah lama sekali saya membeli buku ini, 4 atau 5 tahun yang lalu. Saya benar-benar lupa.
Buku ini buku terjemahan yang diterbitkan oleh Penerbit Bhuana Ilmu Populer (BIP) tahun 2013.
Baru beberapa bulan belakangan ini (tahun 2020) saya membacakan buku-buku ini untuk Kenan. Saya sebut buku-buku, karena buku ini berseri terdiri atas 4 judul, sedangkan yang saya beli hanya tiga judul. Buku ini lama tersimpan di kardus dan masih ada plastiknya.

Saat pertama kali buku ini dibacakan untuk Kenan, dia langsung suka dan setiap malam saya diminta membacakan buku-buku ini.
Buku-buku ini memiliki warna kover yang cerah, pink, biru, dan kuning. Buku lainnya yang tidak dibeli warnanya hijau. Buku ini juga memiliki ukuran yang mungil.

Kenapa Kenan suka buku ini? Mungkin ini alasannya.
– karena kover buku ini menarik, penuh warna.
– saat membaca buku ini Kenan harus memberi respons dengan memilih mana perilaku anak baik atau tidak baik, jadi Kenan merasa dilibatkan dalam cerita.
– cerita dalam buku ini sederhana, tentang kehidupan sehari-hari anak saat di rumah, ikut berbelanja, dan saat liburan keluarga, sehingga seakan-akan Kenan mengalaminya juga.

Jadi buku-buku apa yang saya maksud ini?? Inilah bukunya.

Tiga buku seri Aku Anak Baik.

Judul buku:
(1) Aku Anak Baik Saat Liburan
(2) Aku Anak Baik Saat Berbelanja
(3) Aku Anak Baik di Rumah
(4) Aku Anak Baik di Sekolah (belum punya)
Ide cerita: Nathalie Belineau
Teks: Emilie Beaumont
Ilustrasi: Sylvie Michelet

Tampilan dalam buku Aku Anak Baik Saat Berbelanja

Tampilan bagian dalam buku ini disajikan berpasangan, bagian kiri dan kanan. Bagian kiri menunjukkan perilaku anak baik, bagian kanan menunjukkan perilaku anak tidak baik atau sebaliknya. Membacakan buku ini sekaligus dapat berkomunikasi dan menanyakan kepada anak perilaku mana yang baik atau perilaku mana yang patut diikuti menjadi contoh. Jika anak memilih perilaku yang tidak baik sebagai perilaku baik, kita bisa menjelaskan kepada perilaku  mana yang seharusnya dicontoh.

Sahabat Paskalina yang terkasih, coba deh bacakan buku-buku ini untuk anak, adik, keponakan, atau siswa di sekolah. Pasti mereka akan suka dengan buku ini.😀

Note: Malam ini Kenan minta dibacakan buku-buku ini. Dia sudah mengambilnya di rak. Tapi saat mau tidur, Kenan memilih dibacakan buku-buku dari Let’s Read sebanyak 10 judul. Saya bacakan hingga buku ke-6. Di buku ke-7, Kenan sudah tertidur.

Ulasan Buku: Konferensi Musim Sejagat

Sungai tampak temaram disinari cahaya lampu dari beberapa rumah warga. Sampah di pinggir sungai, di bawah jembatan, ada sesuatu yang bergerak-gerak. Adin berhenti. Dia pikir cuma sampah hanyut, tapi tampak mengeliat dan semakin membesar. Sepi. Tidak ada orang lewat lagi! Bapak-bapak belum nongkrong di pos ronda.
Benda itu makin merekah. Adin mau berteriak. Tidak bisa. Itu bukan ikan bermuka dua atau harimau putih seperti di cerita-cerita penunggu sungai. Benda itu seperti hantu Casper, tapi sekujur badannya mencuatkan aneka sampah. Pampers, kulit telur, kresek hitam, plastik putih, tali rafia, botol fresti, gelas akua, bungkus es krim, batok kelapa, ranting pohon, sedotan, …
Adin ingin berlari, tapi kekagetan memakunya. Kasihan, hantu itu diganggu sampah!

Kutipan di atas adalah ending cerita “Hantu Sampah” (hal 20-21). Akhir ceritanya cukup seram, bagi saya. Saya jadi berandai-andai, “Seandainya semua hantu sampah di Jakarta bangun dari tidurnya, apa jadinya Jakarta? Mungkin Kota Jakarta akan menjadi kota sampah.

Continue reading “Ulasan Buku: Konferensi Musim Sejagat”