Ulasan Buku: Konferensi Musim Sejagat

Sungai tampak temaram disinari cahaya lampu dari beberapa rumah warga. Sampah di pinggir sungai, di bawah jembatan, ada sesuatu yang bergerak-gerak. Adin berhenti. Dia pikir cuma sampah hanyut, tapi tampak mengeliat dan semakin membesar. Sepi. Tidak ada orang lewat lagi! Bapak-bapak belum nongkrong di pos ronda.
Benda itu makin merekah. Adin mau berteriak. Tidak bisa. Itu bukan ikan bermuka dua atau harimau putih seperti di cerita-cerita penunggu sungai. Benda itu seperti hantu Casper, tapi sekujur badannya mencuatkan aneka sampah. Pampers, kulit telur, kresek hitam, plastik putih, tali rafia, botol fresti, gelas akua, bungkus es krim, batok kelapa, ranting pohon, sedotan, …
Adin ingin berlari, tapi kekagetan memakunya. Kasihan, hantu itu diganggu sampah!

Kutipan di atas adalah ending cerita “Hantu Sampah” (hal 20-21). Akhir ceritanya cukup seram, bagi saya. Saya jadi berandai-andai, “Seandainya semua hantu sampah di Jakarta bangun dari tidurnya, apa jadinya Jakarta? Mungkin Kota Jakarta akan menjadi kota sampah.

 

Dari cerita “Hantu Sampah” saya sebagai pembaca memetik hikmah jika begitu mudahnya orang yang tinggal di pinggir kali membuang sampah di kali (sungai). Sosok hantu yang muncul di-ending cerita seakan-akan merupakan pemberontakan dari sampah-sampah yang ada di kali (sungai). Mungkin si sosok hantu itu berharap kemunculannya bisa membuat orang-orang sadar, betapa buruknya akibat dari membuang sampah di kali (sungai). Sebagai pembaca, seperti itulah hikmah yang bisa saya dapat setelah membaca cerita “Hantu Sampah”. Pembaca lain pasti memiliki interpretasi yang berbeda.

Dalam buku ukuran 16 x 16 cm ini, ada 6 cerita, yaitu:
1. Kota Pepe
2. Hantu Sampah
3. Konferensi Musim Sejagat
4. Vionisa dan Kedip
5. Idan Takut Air
6. Pohon Detektif

Semua cerita dalam buku ini memiliki “rasa” masa lalu dan masa kecil yang disajikan dengan imajinasi dari penulisnya yang luar biasa. Yang paling menarik bagi saya, semua cerita menorehkan pesan moral yang mendalam tentang peduli lingkungan, utamanya tentang buang sampah di kali (sungai).
Satu hal yang saya sayangkan untuk buku ini adalah cerita-ceritanya terlalu pendek. Jika disebut cerita pendek, cerita terlalu pendek untuk sebuah cerita pendek, meskipun sasaran pembacanya anak-anak. Saya merasa ada sebuah ketergesaan sampai ke ending cerita. Jika ceritanya lebih panjang dan didukung ilustrasi cerita yang lebih banyak, tentu buku ini akan lebih kaya dan menarik.

Buku Konferensi Musim Sejagat, kumpulan cerita yang disajikan mungil menjadi sebuah buku berukuran 16 x 16 cm, namun isinya berbobot dan mengandung hikmah cerita yang baik untuk pembacanya. Bahkan, pembaca bisa juga memaknai dan membuat ending ceritanya sendiri. Untuk dua penulisnya, Setyaningsih dan Na’imatur Rofiqoh, saya salut untuk kalian. Saya menunggu untuk membaca buku cerita karya kalian selanjutnya. Salam Literasi (Paskalina Askalin)

Data Buku
Judul: Konferensi Musim Sejagat
Penulis: Setyaningsih dan Na’imatur Rofiqoh
Ilustrator: Na’imatur Rofiqoh
Penerbit: Kampungnesia, Solo
Tahun: 2018
ISBN: 9786025312144

2 thoughts on “Ulasan Buku: Konferensi Musim Sejagat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *