Ulasan Buku: Mewujudkan Khayalan Anak yang Tidak Masuk Akal

Halo Sahabat Paskalina..

Adakah di antara Sahabat yang mengalami seperti saya. Kakak Kenan, meminta dibelikan bus dan mobil travel yang sebenar-benarnya, bukan mainan. Waduhhh, saya harus jawab apa jika begini. Miniatur mobil saja tidak terbeli apalagi aslinya.☺️

Kenan pernah minta dibelikan tongkat sulap seperti milik Nirmala. Yang diminta benar-benar tongkat sulap yang bisa mengubah apa pun. 

Keinginan anak-anak ada juga yang wajar dan bisa dijanjikan untuk membelinya saat memiliki uang. Namun tak sedikit yang menginginkan hal yang mustahil untuk diadakan.

Saking terus-menerus meminta, kadang emosi saya pun bertumbuh menjadi amarah. Saya sadar betul jika amarah bukan solusi mengatasi masalah dengan anak.

Saya mencoba mengatasi keinginan Kenan dengan terlibat langsung dalam khayalannya. Seperti ini ceritanya:

 

Kenan tidak hanya minta satu, tapi minta 10 bus bahkan hingga 100 bus. Saya hanya bisa jawab, jika Kenan besar nanti pasti bisa membeli yang Kenan inginkan.

Pembicaraan tentang memiliki bus dan mobil travel masih terus berlanjut. Keinginan Kenan untuk memiliki bus dan mobil travel belum juga padam. Akhirnya saya menyerah. Bukan, menyerah lalu membelikan bus. Saya menyerah untuk menghentikan khayalannya. Saya justru masuk sekalian ke dalam khayalannya.

Kenan :  Bun, aku mau nanti, busnya yang satu parkir di depan rumah dan yang satu lagi di depan rumah Ata (anak tetangga).

Saya : Emang busnya kecil. Jalan di belokan dekat pos satpam kan kecil. Kalau busnya sebesar bus Sinar Jaya pasti tidak masuk.

Kenan : Ya udah mobil travel aja yang parkir depan rumah. Mobil travel kan kecil.

Saya : Nah, kalau mobil travel bisa di parkir ke depan rumah.

Kenan  : Terus, busku di parkir di mana?

Saya : Bagaimana kalau nanti kita buat garasinya, mungkin jauh dari rumah, tapi garasi kan harus luas karena akan ada banyak bus parkir.

Kenan : Busku ada 10, Bun.

…..

===============================

Dalam buku Seni Berbicara pada Anak Panduan Mendidik Anak “Tanpa Ngegas” terdapat banyak solusi, taktik, dan tips untuk menghadapi permasalahan seputar anak tanpa ‘”Ngegas”.

Saat di rumah biasanya ibu yang paling sering marah pada anak, betul tidak? ☺️. Namun, marah pada anak itu harus segera dihentikan atau paling tidak dikurangi dengan menggunakan cara-cara kreatif. Buku ini akan membantu kita, para ibu di rumah  untuk bisa mengendalikan emosi saat menghadapi ulah anak.

Di bawah ini salah satu contoh kasus yang saya ambil dari buku. Dalam kasus ini orangtua/guru pendamping memberikan secara fantasi apa yang tidak dapat diberikan dalam realitas.

Kisah Sarah: Jam-jam yang Tak Berakhir

Minggu lalu, di ruang bermain blok di sekolah kami, seorang anak enggan untuk membereskan mainan. Daripada menceramahinya tentang membereskan barang, saya lebih memilih untuk mengakui perasaannya dengan berkata, “Tak enak sekali rasanya ya, harus beres-beres saat kamu belum selesai membangun blok dengan bentuk yang kamu inginkan.”

Ia hanya memandang saya. Jadi, saya berusaha memberinya banyak waktu dalam fantasi. “Aku berharap aku punya seratus jam lagi untuk bermain.”

Ia menanggapi, “Aku berharap aku punya waktu seratus juta miliar jam lagi untuk bermain!” Lalu, ia mulai membereskan mainan blok yang sedang dimainkannya. Luar biasa. (Hlm. 30)

Sahabat Paskalina, buku ini sungguh layak dimiliki dan dibaca oleh para orangtua atau guru. Apakah Sahabat sudah milikinya?

Judul buku: Seni Berbicara Pada Anak Panduan Mendidik Anak “Tanpa Ngegas” | Penulis: Joanna Faber dan Julie King | Penerbit: Bhuana Ilmu Populer | Tahun: Cetakan ke-3, Februari 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *