Wayang Imajinasi Dandun Karya Paskalina Askalin

Namanya Dandun, tinggal di sebuah desa di Klaten, Jawa Tengah. Di rumah Dandun tinggal bersama ayah, ibu, adik, dan Mbah Kakung.

Sudah sebulan lebih Dandun dan keluarganya bertahan di rumah. Sesuai anjuran pemerintah, belajar di rumah, bekerja dari rumah, dan beribadah di rumah.

Minggu pertama di rumah saja, masih terasa menyenangkan buat Dandun, karena dia bebas  main di rumah, nemanin adik bayi yang baru berusia dua  bulan. Minggu-minggu berikutnya, Dandun mulai bosan dengan aktivitas yang itu-itu saja.

“Mbah Kakung, nonton apa?” tanya Dandun pada Mbah Kakung yang tampak menikmati tontonannya.

“Wayang, Le. Ayo nonton bareng Mbah,” ajak Mbah Kakung.

“Dandun tidak mengerti bahasanya, Mbah. Dandun mau mengerjakan tugas sekolah.” Dandun kemudian pergi ke kamarnya.

Sejak ayah Dandun berlangganan internet rumah, Dandun seakan-akan rebutan nonton sama Mbah Kung.

Di kamar, Dandun tidak mengerjakan tugas, Dandun malah jadi kepikiran wayang. Dandun menciptakan wayang imajinasinya sendiri. Kalau bahasa dalam wayang, Dandun tidak mengerti, karena menggunakan  bahasa Jawa Kawi. Wayang imajinasinya, bahasa sehari-hari, sedangkan tokohnya menggunakan karakter orang-orang di sekitar Dandun, yaitu ayah, ibu, adik, dan kakeknya. Dandun lalu menggambar karakter Mbah Kakung, ayah, ibu, dan adiknya.

Gambar orang-orangan digunting sesuai bentuk lalu ditempel pada kardus bekas. Kardus ditempelkan pada bambu ukuran 30cm, jadilah wayang imajinasi Dandun.

“Mbah Kung,” Dandun mendekati kakeknya yang sedang duduk.  “Ajarin Dandun main wayang, Mbah. Tapi wayangnya pakai wayang imajinasi buatan Dandun.” Mbah Kakung mengerutkan dahinya. Mungkin Mbah Kung merasa heran, karena tiba-tiba Dandun mau main wayang.

Dandun membawa wayang imajinasinya. “Itu apa, Ndun,” tanya ayah saat melewati Dandun usai rapat daring.

“Wayang imajinasi, Yah. Dandun minta ajairin Mbah Kung main wayang.” Ayah mengacungkan jempol tanda mengiyakan.

Siang hingga sore Dandun bersama Mbah Kakung. Dandun berlatih cara memainkan wayang.

“Tidak sulit kan,” tanya Mbah Kung setelah menjelaskan panjang lebar.

“Masih kesulitan, Mbah. Dandun belum tahu cara membuat wayang-wayang berdiri?”

Mbah Kung menjelaskan jika wayang itu berdiri dengan cara ditancapkan pada gedebog pisang. Tapi untuk wayang ciptaan Dandun, Mbah Kung mengusulkan menggunakan sterefoam elektronik.

Dandun mempersiapkan pertunjukan wayang imajinasi dengan bantuan Mbah Kung. Mirip tempat pertunjukan wayang kulit, walau dengan barang seadanya.

“Selamat malam, bapak ibu adek dan Mbah Kung, mari kita saksikan pertunjukan wayang imajinasi Dandun, dengan judul Keluarga Hebat Lawan Korona.” Semuanya bertepuk tangan. Dalang Dandun pun memulai kisahnya.

Usai pertunjukan wayang imajiansi, Dandun jadi ingin membuat karakter tokoh-tokoh lain dan mempertunjukkannya di depan anggota keluarganya.

Nah, teman-teman, wayang imajinasi, bisa jadi alternatif mengisi hari-harimu selama di rumah aja. Ayo coba wayang imajinasimu sendiri.

Depok, Mei 2020

Sebuah Cerita Anak karya Paskalina Askalin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *